Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat yang Berhubungan dengan Kejadian Filariasis di Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat

DOI: https://doi.org/10.14710/jkli.16.1.8-16
Copyright (c) 2017

Article Info
Submitted: 01-08-2016
Published: 14-03-2017
Section: Research Articles

Judul : Faktor Lingkungan dan Perilaku Yang Berhubungan Dengan Kejadian Filariasis di Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

Latar belakang: Tahun 2015, terdapat 79 kasus filariais di Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang dengan micrifilaria rate sebesar 2,5%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan dan perilaku dengan kejadian filariasis, serta mengidentifikasi spesies nnyamuk yang diduga sebagai vektor filariasis.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan case control. Subyek penelitian terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan taraf signifikasi 0,05.

Hasil: Dari 419 nyamuk yang ditangkap. Tidak ditemukan adanya larva cacing dalam tubuh nyamuk. Hasil identifikasi nyamuk menemukan 6 spesies yaitu Anopheles letifer, Mansonia uniformis, Culex tritaeniorhyncus, Culex vishnui, Culex cressipes, and Mansonia annulifera. Analisis statistik menunjukkan bahwa keberadaan breeding places, resting places, pengetahuan, dan kebiasaan keluar pada malam hari merupakan faktor risiko kejadian filariasis di Kecamatan Muara Pawan Kalimantan Barat.

Simpulan: Faktor lingkungan dan perilaku masyarakat merupakan faktor risiko kejadian filariasis di Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang.

 

ABSTRACT

Title: Enviromental and Community Behaviour Factors Associated with the incidence of Lymphatic Filariasis in Muara Pawan Distrct of Ketapang Regency, West Kalimantan

Background: In the year of 2015, there were 79 cases of filariasis in Ketapang Regency and in Muara Pawan District, in particular, from 32 cases who contracted microfilariae resulted in Mf rate = 2,5% while for prevalence rate (PR) = 2,18. The objectives of this research were to analyze correlation between evironmental and community behavioral factors associated with cases of filariasis as well as to identify the mosquitos which are being the potential vector of filariasis.  

Methode: The research was an observational one with a case-control study. The cases and the control of this research were both using 32 respondents. The data were collcted by doing observation and interviews. The collected data were than analyzed using chi-square test.

 Results: From the surgery of 419 mosquitos, it was revealed that the mosquitoes contained zero filarial larvae, while for the species identification, there were six species of mosquitoes indentified, i.e Anopheles letifer, Mansonia uniformis, Culex tritaeniorhyncus, Culex vishnui, Culex cressipes, and Mansonia annulifera. The resulth of statistical analysis revealed that there were 4 variables associated with the cases of filariasis in Muara Pawan Distict of Ketapang Regency, ie. breeding places (p-value = 0,047), resting places (p-value = 0,007), knowledge (p-value = 0,045), and habit of going out at night (p-value = 0,043)

Conclusion: It is concluded that there is a correlation between 4 mentioned variables with the cases of filariasis in Muara Pawan Dictrict of Ketapang Regency.

Keywords

Faktor lingkungan dan Perilaku; Filariasis; Ketapang. (Filariasis; environmental factors; behavior; Ketapang).

  1. Wary Purnama 
    Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat , Indonesia
  2. Nurjazuli Nurjazuli 
    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro , Indonesia
  3. Mursid Raharjo 
    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro , Indonesia

World Health Organization. Global programme to eliminate lymphatic filariasis. Geneva, Switzerland; 2013.

World Health Organization. The regional strategic plan for elimination of lymphatic filariasis 2010-2015. India; 2010.

Peraturan Kemenkes RI. Nomor 94 tentang penanggulangan Filariasis. Jakarta; 2014.

Dinkes Provinsi Kalimantan Barat. Profil Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat. Pontianak; 2014.

Hutagalung J, Hari K, Supargiono, Hamim S. Faktor-faktor risiko kejadian penyakit limphatic filariasis di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat 2010. OSIR; Vol.7; 2014.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman program eliminasi filariasis di Indonesia, Epidemiologi filariasis. Ditjen PPM &PL. Jakarta; 2012.

Anshari R, Suhartono, Setiani O. Analisis faktor resiko kejadian filariasis di Dusun Tanung Bayur Desa Sungai Asam Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Pontianak. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia. Vol. 3, No.2; 2004.

Juriastuti P, Kartika M, Djaja M, Susanna D. Faktor risiko kejadian filariasis di Kelurahan Jati Sempurna 2009. Makara Kesehatan. Vol. 14, No. 1; 2010.

Sastroasmoro S. Dasar – dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: CV. Sagung seto; 2011.

Anshari R, Suhartono, Setiani O. Analisis faktor risiko kejadian filariasis di Dusun Tanung Bayur Desa Sungai Asam Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Pontianak. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia. Vol. 3, No.2; 2004.

Ardias, Setiani O, Yusniar H D. Faktor lingkungan dan perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Kabupaten Sambas. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia. Vol. 11, No. 2; 2012.

Windiastuti I A, Suhatono, Nurjazuli. Hubungan kondisi lingkungan rumah, sosial ekonomi dan perilaku masyarakat dengan kejadian filariasis di Kecamatan Pekalongan Selatan Kota Pekalongan. Jawa Tengah. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia Vol. 12, No. 1; 2013, hal 51-57.

Febrianto B, Maharani A, Sapto P, Widiarti. Faktor risiko filariasis di desa Sambirejo Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Buletin penelitian kesehatan. Vol. 36, No. 2; 2008.

Souza DK, Koudou B, Hope KL, Wilson DM, Bockarie JM, Boakye. Diversity and transmission competence in lymphatic filariasis vectors in West Africa, and the implications for accelerated elimination of Anophelestransmitted filariasis. Biomed Central; 2012.

Pahlepi IR, Santoso. Penentuan vektor filariasis dan spesies microfilaria di Puskesmas Batumarta VIII Kabupaten OKU Timur Tahun 2012. Jurnal pembangunan manusia Vol. 7, No.3; 2013.

Syuhada Y, Nurjazuli, Nur Endah W. Studi kondisi lingkungan rumah dan perilaku masyarakat sebagai faktor risiko kejadian filariasis di Kecamatan Buaran dan Tirto Kabupaten Pekalongan. Jurnal kesehatan lingkungan Indonesia Vol. 11, No. 1; 2012.

Veridiana NN, Chadijah S, Ningsih. Pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap filariasis di Kabupaten Mamuju Utara Sulawesi Barat. Buletin penelitian kesehatan, Vol.43, No. 1; 2015.

Astuti EP, Ipa M, Wahono T, Ruliansyah A. Analisis Perilaku Masyarakat Terhadap Kepatuhan Minum Obat Filariasis Di Tiga Desa Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung. Bandung 2013. Loka Litbangkes Ciamis. Bandung; 2014.

Uloli R, Soeyoko, Sumarni. Analisis faktor risiko kejadian filariasis. Berita Kedokteran Masyarakat. Vol. 24, No. 1; 2008.

Ridha MR, Rahayu N, Rusvita NA, Setyaningtyas DE. Hubungan kondisi lingkungan dengan keberadaan jentik nyamuk aedes aegypti di daerah endemis DBD di kota Banjar Baru. Jurnal BUSKI. Vol.4, No. 3; 2013.

Kemenkes RI. Atlas vektor penyakit di Indonesia. Dirjen P2M dan PL. Jakarta; 2011.

Ariati J, Ibrahim IN, Perwitasari D. Sebaran habitat perkembangbiakan larva anopheles spp di Kecamatan Bulu Kabupaten Seram Bagian Timur Provinsi Maluku. Jurnal Litbang Kes; 2014.

Harrison B A, Scanlon J E. The subgenus anoheles in Thailand (Diptera: Culicidae): Medical Entomology Studi II; 1975.

Stojanovich C J, Scott H G. Illustrate key to mosquito of Vietnam: Departement of health, education and welfere public health service: Atlanta; 1966.

Nurjazuli. Entomology survey based on lymphatic filariasis locus in the district of Pekalongan Cyti Indonesia. IJSBAR.Vol. 22, No.1; 2015, p. 295-302.