Pengembangan Biolarvasida Jentik Nyamuk Aedes aegypti Berbahan Aktif Ekstrak Beluntas (Pluchea indica Less.)

DOI: https://doi.org/10.14710/reaktor.16.3.103-108
Copyright (c) 2017 REAKTOR

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 04-11-2015
Published: 09-01-2017
Section: Research Article
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author

Abstract

 

POTENSIAL DEVELOPMENT OF EXTRACT BELUNTAS (Plucea indica Less.) as BIOLARVACIDE TO MOSQUITO Aedes aegypti LARVAE. The eradication of Aedes aegyptY mosquito is difficult because they have the ability to adapt the environment which makes it very tough. Although, there are not disturbances due to natural phenomena or human intervention. Termination of the mosquito life cycle is an alternative to reduce the mosquito population. The antimicrobial of beluntas extract is expected to have the ability biolarvacide on mosquito larvae. The biolarvasicide of beluntas leaf extracts was determined LC50 values and strengthened by identification of the active compound. The biolarvacide tested was conducted on the larvae of Aedes aegypti with variations extract concentrations of 50, 100, 250, 500 and 1000 ppm for 24 hours observation. The experimental results found that yield of ethanol extract, extract n-hexane and ethyl acetate extract: 3.8742%, 1.2054% and 1.8627%. While the value of LC50 to extract n-hexane and ethyl acetate respectively amount to 46.09 ppm and 108.79 ppm. LC50 value obtained belong biolarvacide active and positive control using abate value LC100 Abate at a concentration of 100 ppm. The ability biolarvacide ethyl acetate fraction only make the mosquito larvae die, anwhile the fraction of n-hexane can degrade the cells larvae destroyed. The ability biolarvacide beluntas extract was corroborated by the results of GC-MS analysis which showed contains active compounds beluntas such as quinic acid, hydrazinecarboxamide, benzene acetic acid, and 1,2-benzendicarboxylic acid which is a compound of larvicides.

 

Keywords: biolarvacide; beluntas; LC50, GC-MS

 

 

Abstrak

 

Pemberantasan nyamuk Aedes aegypti sulit dilakukan karena mereka memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang membuat sangat tangguh, meski ada gangguan  akibat  fenomena  alam ataupun  intervensi manusia. Pemutusan siklus hidup nyamuk merupakan alternative dalam mengurangi populasi nyamuk. Sifat antimikroba ekstrak nyamuk diharapkan dapat memiliki kemampuan biolarvasida pada jentik nyamuk. Kemampuan biolarvasida ekstrak daun beluntas ditentukan melalui nilai LC50 dan diperkuat dengan identifikasi kandungan senyawa aktif. Uji biolarvasida ini dilakukan terhadap larva nyamuk Aedes aegypti dengan variasi konsentrasi ekstrak 50, 100, 250, 500 dan 1000 ppm selama 24 jam pengamatan. Hasil percobaan diketahui bahwa: rendemen untuk ekstrak etanol, ekstrak n-heksana dan ekstrak etil asetat masing-masing sebesar 3,8742 %, 1,2054 % dan 1,8627 % sementara nilai LC50 untuk ekstrak n-heksan dan etil asetat masing-masing sebesar 46,09 ppm dan 108,79 ppm. Nilai LC50 yang diperoleh termasuk golongan biolarvasida aktif dan kontrol positif menggunakan abate memiliki nilai LC100 Abate pada konsentrasi 100 ppm. Kemampuan biolarvasida fraksi etil asetat hanya membuat larva nyamuk mati sementara fraksi n-heksana dapat mendegradasi sel larva hingga hancur. Kemampuan biolarvasida aktif ekstrak beluntas ini dikuatkan dengan hasil analisa GC-MS yang menunjukkan bahwa kandungan senyawa aktif ekstrak daun beluntas seperti quinic acid, hydrazinecarboxamide, benzene acetic acid, dan 1,2-benzendicarboxylic acid yang merupakan senyawa larvasida.

Keywords

Biolarvasida, Beluntas, benzene acetic acid

  1. Agus Rochmat 
    Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Indonesia
  2. Mitha Fuji Adiati 
    Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  3. Zahrotul Bahiyah 
    Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
  1. Anonim, (2016), Satu bulan terakhir, 760 kasus DBD terjadi di banten dan 25 orang meninggal, Beranda Kesehatan, Selasa 2 Februari 2016. Diakses dari: http://www.radarbanten.co.id/satu-bulan-terakhir-760-kasus-dbd-terjadi-di-banten-dan-25-orang-meninggal/ pada tanggal 17 Januari 2017, pukul 14:01
  2. Agnetha, A.Y., (2010), Efek ekstrak bawang putih (allium sativum l) sebagai larvasida nyamuk aedes sp., Universitas Brawijaya. Malang. etd.repository.ugm.ac.id/downloadfile/80224/.../S1-2015-304690-Bibliography.pdf
  3. Ali, Syed, M., Ravikumar, S., Margaret Beula, J., Anuradha, V., and Yogananth, N., (2014), Insecticidal compounds froms rhizophoraceae mangrove plants for management of dengue vector aedes aegypti, Journal Vector Borne, 51, pp. 106-114.
  4. Andriana, A., Hamidah, dan Moehammadi, N., (2011), Uji efektivitas ekstrak kulit buah jeruk purut (citrus hystrix d.c.) dan jeruk kalamondin (citrus mitis blanco) sebagai biolarvasida nyamuk aedes aegypti L., Universitas Airlangga. Surabaya. Diakses dari laman http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jurnal%20Agustin.pdf pada tanggal 17 Januari 2017. Pukul 14:06
  5. Ardiansyah, Nuraida, L., dan Andarwulan, N., (2003), aktivitas antimikroba ekstrak daun beluntas (Plucea indica L.) dan stabilitas aktivitasnya pada berbagai konsentrasi garam dan tingkat pH. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan, 14(2), hal. 8.
  6. Bhawan, V.R. and Nagar, A., (2012), Common protocol for uniform evalution of insectisides/bio-larvacides for use in vector control, Indian Council of Medical Reasearch, New Delhi. pp 95-97, Diunduh pada 17 Januari 2017. http://www.icmr.nic.in/icmrnews/Common%20Protocol.pdf.
  7. Edwards, D. (2004), Environmental effects of mosquito control, US Fish and Wildlife Service, https://www.fws.gov/cno/refuges/DonEdwards/CCP-PDFs/Appendix-K4_EffectsofMosquitoControl.pdf. Diakses 17 Januari 2017, pukul 12.04.
  8. Kardinan, A., (2011), Penggunaan pestisida nabati sebagai kearifan lokal dalam pengendalian hama tanaman menuju sistem pertanian organic, Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian, 4(4), hal. 262-278.
  9. Komansilan, A., Abadi, A.L., Yanuwiadi, B., Kaligis, D.A., (2013), Isolation and identification of biolarvicide from soursop (annona muricata linn) seeds to mosquito (aedes aegypti) larvae, International Journal of Engineering & Technology, 12(3), pp. 28-32.
  10. Manimaran, A. M Mar Jee jee Cruz. Muthu, C. Vincent, S. (2012), Larvicidal and growth inhibitory activities of different plant volatile oils formulation against anopheles stephensi (Liston), Culex quinquefasciatus Say and Aedes aegypti (L.), International Journal of Phytotherapy Research, 3(7), pp. 855-862.
  11. Moekasan, T.K. dan Prabaningrum, L., (2001), Stat-RIV 2.0: Program komputer pengolahan data untuk analisis probit dan petunjuk penggunaannya, Balai Penelitian Holtikultura, Lembang - Bandung. Monografi No. 22. ISBN: 979-8304-36-5
  12. Noorhajati, H., Aminah, N.S., Paramita, R., dan Diyani, (2013), Potensi ekstrak kulit batang trengguli (cassia fistula) sebagai biolarvasida nyamuk aedes aegypti yang ramah lingkungan, Kumpulan Abstrak Prosiding Seminar Rekayasa Kimia dan Proses, Semarang . ISSN 1411-4216, Makalah A.02.
  13. Parwata, I.M.O.A., Santi, S.R., Sulaksana, I.M., dan Widiarthini, I.A.A., (2011), Aktivitas larvasida minyak atsiri pada daun sirih (piper betle linn) terhadap larva nyamuk aedes aegypti, Jurnal Kimia, 5(1), hal. 88-93
  14. Susanti, L. dan Boesri, H., (2012), Toksisitas biolarvasida ekstrak tembakau dibandingkan dengan ekstrak zodia terhadap jentik vektor demam berdarah dengue (aedes aegypti), Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit Salatiga, Buletin Penelitian Kesehatan, Volume 40, No. 2, Juni 2012, hal 75 – 84.