Banyak Perempuan Jepang Berusia 100 Tahun, Ini Rahasia Panjang Umurnya

KOMPAS.com- Jepang baru saja melaporkan hampir 100.000 penduduknya mempunyai usia 100 tahun atau lebih (centenarian).
Kementerian KesehatanJepangmencatat, jumlahcentenariandi Jepang mencapai 99.763 orang.
Dari jumlah itu, sebanyak 87.784 perempuan menjadi centenarian. Sedangkan sisanya atau tepatnya 11.979 centenarian adalah pria.
Jumlah penduduk centenarian di Jepang tersebut diungkapkan menjelang Hari Lansia Jepang pada 15 September 2025.

Baca juga:10 Konsep Hidup Orang Jepang untuk Mencapai Sukses, Apa Saja?
Pemerintah Jepang memulai survei centenarian pada 1963. Saat itu, tercatat ada 153 orang yang berusia 100 tahun atau lebih.
Kemudian angka itu meningkat menjadi 1.000 orang pada 1983 dan mencapai 10.000 penduduk pada 1998.
Perempuan tertua tercatat berusia 114 tahun bernama Shigeko Kagawa dari Kota Nara. Sedangkan pria tertua adalah Kiyotaka Mizuno dari Kota Iwata yang berusia 111 tahun.
Menteri Kesehatan Jepang, Takamaro Fukoka memberikan apresiasi kepada para penduduk centenarian.
“Rasa terima kasih atas kontribusi mereka selama bertahun-tahun dalam pembangunan masyarakat,” kata dia, dikutip dariBBC, Jumat (12/9/2025).
Lantas, apa sajarahasia panjang umur penduduk Jepangtersebut?
Baca juga:Daftar Kata Populer Jepang yang Telah Diserap ke KBBI, Ada Wibu, Otaku, dan Wota
Harapan hidup orang Jepang yang tinggi terutama karena sedikitnya kematian akibat penyakit jantung dan kanker.
Jepang diketahui mempunyai tingkat obesitas yang rendah. Obesitas merupakan faktor utama yang menyebabkan kedua penyakit tersebut.
Sementara tingkat obesitas yang rendah itu, berkat pola makan rendah daging merah serta tinggi ikan dan sayuran.
Ketika jumlah permintaan garam meningkat dalam pola makan di seluruh dunia, Jepang mengambil langkah sebaliknya.
Baca juga:Menaikkan Harga, Perusahaan Jepang Meminta Maaf kepada Publik via Televisi Nasional
Pemerintah Jepang menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat dengan meyakini mereka untuk mengurangi konsumsi garam.
Tak hanya perihal pola makan, orang Jepang cenderung tetap aktif hingga usia lanjut, dibandingkan dengan orang tua di Amerika Serikat dan Eropa.
Hal tersebut dibuktikan dengan mereka lebih sering berjalan kaki dan menggunakan transportasi umum.
Dilansir dari lamanWorldEconomicForum,Senin (15/9/2025), pemerintah Jepang melakukan beberapa fokus terhadap kesejahteraan lansia.
Fokus tersebut berupa dukungan latihan fungsional serta bantuan untuk manajemen makan dan nutrisi.
Baca juga:Ketika Polisi di Jepang Membungkuk Minta Maaf di Depan Makam Korban Salah Tangkap...
Jepang juga memberikan dukungan harian dan perawatan jangka panjang bagi penderita demensia.
Selain itu, layanan mitra percakapan dalam gaya hidup lansia juga berkembang pesat di Jepang.
Diketahui, lansia yang tinggal sendiri menghadapi masalah kesehatan lebih tinggi, seperti keterlambatan deteksi penyakit dan peningkatan risiko demensia.
Adapun layanan tersebut mencakup berbagai hal, mulai dari pendamping harian hingga komunikator senior yang terlatih.
Interaksi rutin dari layanan itu tidak hanya memberikan rasa aman, namun pemantauan kesejahteraan para lansia juga terbantu.
Baca juga:Fenomena Johatsu di Jepang, Ketika Orang Bisa Menghilang Tanpa Jejak