Pertumbuhan Kepiting Bakau Scylla serrata di Kawasan Mangove

*Irwani Irwani  -  Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNDIP, Indonesia
Chrisna Adhi Suryono  -  Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, UNDIP, Indonesia
Published: 10 Oct 2012.
Open Access

Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 487 1237
Abstract

Lahan mangrove mempunyai potensi dikembangkan untuk usaha penggemukan kepiting tanpa merusak, yaitu melalui konsep silvofishery.  Tujuan dari penelitian ini adalah menjajaki pemeliharan kepiting bakau Scylla serrata didaerah mangrove dan mencari kepadatan optimal.

Metoda yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak kelompok.  Perlakuan yang diterapkan adalah kepadatan yang berbeda (4 ekor/m2, 6 ekor/m2 dan 8 ekor/m2) dengan kelompok (daerah mangrove dan non-mangrove) dan dengan ulangan 3 kali.  Data yang diperoleh berupa penambahan berat badan dianalisa dengan balanced designs anova.

Hasil yang didapat menunjukan kepiting bakau yang dipelihara didaerah mangrove memiliki penambahan berat yang lebih besar bila dibandingkan dengan yang dipelihara diluar daerah mangrove.  Kepiting bakau yang dipelihara didaerah mangrove dengan kepadatan 4 ekor/m2 pertambahan berat rata rata 81,7 gr/bulan; dan kepadatan 6 ekor/m2 bertambah rata rata 77,8 gr/bulan, sedang kepadatan 8 ekor/m2 73,9 gr/bulan.  Hal tersebut sangat berbeda dengan kepiting yang dipelihara pada daerah yang tidak bermangrove dimana untuk kepadatan 4 ekor/m2 rata rata hanya bertambah 68,75 gr/bulan dan yang berkepadatan kepadatan 6 ekor/m2 bertambah rata rata 39,1 gr/bulan sedangkan yang berkepadatan 8 ekor/m2 32,2 gr/bulan.  Interaksi antara kepadatan dan lokasi (bermangrove dan bukan) memberikan pengaruh yang sangat nyata pada penambahan berat kepiting bakau (p<0,001).

 

Kata kunci : Kepiting bakau, pertumbuhan dan mangrove

Article Metrics: