BibTex Citation Data :
@article{BULOMA77147, author = {Budi Harlianto and Arif Hadi and Lizalidiawati Lizalidiawati and M. Azhari}, title = {Kajian Perubahan Garis Pantai dan Kerentanan Seismik pada Lokasi Rawan Abrasi Di Pantai Bengkulu Utara}, journal = {Buletin Oseanografi Marina}, volume = {15}, number = {1}, year = {2026}, keywords = {Garis Pantai; Kerentanan Seismik; Pantai Bengkulu Bagian Utara}, abstract = { Perubahan garis pantai dapat dikaji melalui data primer maupun sekunder, berupa data foto drone dan data citra dari satelit yang diambil pada lokasi yang sama namun waktu yang berbeda. Hasil analisa kedua data tersebut dapat mengetahui sedimentasi atau abrasi yang menggambarkan perubahan garis pantai. Perubahan garis pantai secara oseanografi diakibatkan oleh hempasan ombak laut, pasang surut, dan arus laut, jika ditinjau secara geologi perubahan garis pantai disebabkan oleh pengaruh kerentanan seismik atau faktor site seperti penyusun pantai dengan struktur lapisan bawah permukaan yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa struktur tersebut melalui nilai Kerentanan Seismik ( K g ), PGA ( α ) dan GSS ( γ ) yang diperoleh dari pengolahan data mikrotremor. Pengambilan foto drone dilakukan pada 2 lokasi yang setiap lokasinya dilakukan pengukuran data mikrotremor sebanyak 4 titik (durasi 30 menit). Berdasarkan data primer (foto drone) pada tahun 2018 dan 2020 di pantai Bengkulu Bagian Utara terjadi abrasi yang tergolong tinggi dan sedimentasi yang tergolong rendah. Hasil analisis data penelitian ini memperlihatkan laju perubahan garis pantai yang tertinggi pada pantai Serangai 1,49 m/th dan yang terendah terjadi pada Pantai Ketahun 1,46 m/th. Nilai K g berkisar antara 0,32 sampai 4,76, nilai GSS berkisar 1x10 -4 , dan nilai α berkisar 93,39 – 236,32 gal. Area yang mengalami perubahan garis Pantai yang tinggi menunjukkan nilai K g yang relatif tinggi, yaitu mendekati 2,781, serta nilai α tertinggi mencapai 236,32 gal, nilai-nilai tersebut menunjukkan potensi guncangan seismik yang kuat sehingga mudah mengalami abrasi. Shoreline changes can be studied through primary and secondary data, including drone photography and satellite imagery taken at the same location but at different times. Analysis of these two data sets can reveal sedimentation or abrasion, which reflect shoreline changes. Oceanographically, shoreline changes are caused by the pounding of ocean waves, tides, and ocean currents. Geologically, shoreline changes are caused by the influence of seismic vulnerability or site factors, such as different subsurface structures in coastal structures. The purpose of this study is to analyze these structures through Seismic Vulnerability (K g ), PGA (α) and GSS (γ) values obtained from microtremor data processing. Drone photos were taken at 2 locations, each location with 4 microtremor data measurements (duration 30 minutes). Based on primary data (drone photos) in 2018 and 2020 on the coast of North Bengkulu, abrasion occurred which was classified as high and sedimentation which was classified as low. The results of the data analysis of this study show that the highest rate of shoreline change is at Serangai Beach at 1.49 m/yr, while the lowest is at Ketahun Beach at 1.46 m/yr. The K g value ranges from 0.32 to 4.76, the GSS value ranges from 1x10-4, and the α value ranges from 93.39 to 236.32 gal. Areas experiencing high shoreline changes show a relatively high K g value, which is close to 2.781, and the highest α value reaches 236.32 gal, these values indicate the potential for strong seismic shocks so that they are easily abrasion. }, issn = {2550-0015}, pages = {10--20} doi = {10.14710/buloma.v15i1.77147}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/buloma/article/view/77147} }
Refworks Citation Data :
Perubahan garis pantai dapat dikaji melalui data primer maupun sekunder, berupa data foto drone dan data citra dari satelit yang diambil pada lokasi yang sama namun waktu yang berbeda. Hasil analisa kedua data tersebut dapat mengetahui sedimentasi atau abrasi yang menggambarkan perubahan garis pantai. Perubahan garis pantai secara oseanografi diakibatkan oleh hempasan ombak laut, pasang surut, dan arus laut, jika ditinjau secara geologi perubahan garis pantai disebabkan oleh pengaruh kerentanan seismik atau faktor site seperti penyusun pantai dengan struktur lapisan bawah permukaan yang berbeda. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa struktur tersebut melalui nilai Kerentanan Seismik (Kg), PGA (α) dan GSS (γ) yang diperoleh dari pengolahan data mikrotremor. Pengambilan foto drone dilakukan pada 2 lokasi yang setiap lokasinya dilakukan pengukuran data mikrotremor sebanyak 4 titik (durasi 30 menit). Berdasarkan data primer (foto drone) pada tahun 2018 dan 2020 di pantai Bengkulu Bagian Utara terjadi abrasi yang tergolong tinggi dan sedimentasi yang tergolong rendah. Hasil analisis data penelitian ini memperlihatkan laju perubahan garis pantai yang tertinggi pada pantai Serangai 1,49 m/th dan yang terendah terjadi pada Pantai Ketahun 1,46 m/th. Nilai Kg berkisar antara 0,32 sampai 4,76, nilai GSS berkisar 1x10-4, dan nilai α berkisar 93,39 – 236,32 gal. Area yang mengalami perubahan garis Pantai yang tinggi menunjukkan nilai Kg yang relatif tinggi, yaitu mendekati 2,781, serta nilai α tertinggi mencapai 236,32 gal, nilai-nilai tersebut menunjukkan potensi guncangan seismik yang kuat sehingga mudah mengalami abrasi.
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-02-11 18:36:56
The Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to BULOMA as the publisher of the journal. Copyright encompasses rights to reproduce and deliver the article in all form and media, including reprints, photographs, microfilms, and any other similar reproductions, as well as translations.
BULOMA journal and the Editors make every effort to ensure that no wrong or misleading data, opinions or statements be published in the journal. In any way, the contents of the articles and advertisements published in BULOMA are the sole and exclusive responsibility of their respective authors and advertisers.
Buloma is published by Departement of Oceanography, Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License