skip to main content

Kajian Indeks Pencemaran Di Wilayah Pesisir Muara Sungai: Studi Kasus Betahwalang, Kabupaten Demak

*Ahmad Faiq Indra Susilo  -  Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Badrus Zaman orcid scopus  -  Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Anik Sarminingsih scopus  -  Departemen Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2026 Buletin Oseanografi Marina under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Pesisir Betahwalang merupakan kawasan strategis dengan nilai ekologis tinggi sekaligus menjadi pusat pendaratan rajungan. Penetapannya sebagai kawasan konservasi rajungan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2024 menegaskan pentingnya pemahaman terhadap kondisi kualitas perairan untuk mendukung keberlanjutan ekosistem laut wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat pencemaran menggunakan Indeks Pencemaran (IP) serta memetakan distribusinya secara spasial. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari 2025 tanggal 9 dan 28 di sembilan titik sampling menggunakan metode purposive sampling. Hasil pengukuran ini merepresentasikan kondisi sesaat sebagai kegiatan monitoring pada periode tersebut. Parameter fisika-kimia yang diuji seperti suhu, salinitas, pH, kecerahan, TSS, DO, BOD, amonia, fosfat, serta minyak dan lemak dianalisis secara in-situ dan laboratorium. Nilai kualitas air hasil pengukuran menunjukkan bahwa perairan pesisir Betahwalang sangat ideal sebagai habitat rajungan. Hasil IP menunjukkan variasi, dengan kondisi ditanggal 9 Februari tergolong “Tercemar Sedang” (IP rerata 5,26) dan ditanggal 28 Februari tergolong “Tercemar Ringan” (IP rerata 3,20). Distribusi spasial mengindikasikan muara sungai sebagai zona dengan tingkat pencemaran tertinggi. Hasil ini menunjukkan adanya dinamika kualitas perairan di kawasan konservasi dan menegaskan perlunya pemantauan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekologi dan mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan.

 

Betahwalang Coast is a strategic area with high ecological value and serves as center for blue swimming crab fisheries. Its designation as a Blue Swimming Crab Conservation Area through the Decree of the Minister of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia Number 38 of 2024 emphasizes the importance of understanding of water quality to support the support marine ecosystem sustainability sustainability. This research aims to analyze pollution level using the Pollution Index (PI) and map their spatial distribution. Water sampling was carried out in February 2025, specifically on the 9th and 28th, at nine selected purposively stations. The measurement results represent the momentary conditions as monitoring activities during that period. Physicochemical parameters measured included temperature, salinity, pH, brightness, TSS, DO, BOD, ammonia, phosphate, and oil and fat, were analyzed in-situ and in the laboratory. The measurement water quality values indicate that the coastal waters of Betahwalang are highly suitable as a habitat for blue swimming crabs. The IP results showed variation, with the condition on February 9th classified as Moderately Polluted (average IP 5,26), while on February 28th it was classified as Lightly Polluted (average IP 3,20). Spatial distribution indicates the river mouth as the zone with the highest pollution level. These results demonstrate dynamic water quality changes in the conservation area and emphasize the need for continuous monitoring to maintain ecological balance and support sustainable fisheries management.

Fulltext View|Download
Keywords: Pesisir Betahwalang; Indeks Pencemaran; Rajungan; Kualitas Air Laut; Muara Sungai

Article Metrics:

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-02-11 18:37:15

No citation recorded.