skip to main content

Bullying sebagai Arena Kontestasi Kekuasaan di Kalangan Siswa SMA Jakarta

*Prisanti Windi Andini  -  Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Amirudin Amirudin scopus  -  Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Mulyo Hadi Purnomo  -  Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Open Access Copyright 2019 Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi under http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Bullying among students, especially high school students are still common. Acts of violence in schools involve both senior and junior. The seniors’ role of displaying seniority is to teach the juniors manners and discipline. But there are many seniors who abuse the terms of seniority by acting arbitrarily to their juniors. This article will explain how bullying can be considered as a field of power contestation. This study uses several techniques of ethnographic methods, namely, direct observation, interview, and literature. Researchers used indirect observation because informants are reluctant to commit acts of violence when there are other people outside their group. Based on the results of the research, capital are at stake for the actors to reach the prize, such as honor, fame, and material. Bullying behavior that occurs in SMA E Jakarta continues because of an understanding that they have to continue what has been instilled by their seniors before, such as the rules for class X are always imposed from year to the next one.

Fulltext View|Download
Keywords: Bullying; Contestation field; Power; Popularity

Article Metrics:

  1. Adib, Mohammad. 2012. Agen dan Struktur dalam Pandangan Piere Bourdieu. Jurnal Biokultur, Vol. 1, No. 2. 21 Desember 2012
  2. Adila, Nissa. 2009. Pengaruh Kontrol Sosial terhadap Perilaku Bullying Pelajar di Sekolah Menengah Pertama. Jurnal Kriminologi. Vol. 5 No. 1. Hal. 56-66
  3. Amirudin. 2017. Media, Ranah dan Dinamika Permainan. Endogami: Jurnal kajian Antropologi, Vol. 1 Nomor 1 Desember 2017
  4. Amirudin. 2018. Antropologi Media: Agama dan Produksi Budaya di Layar Kaca. Semarang: Undip Press Semarang
  5. Astrid, Larina. 2008. Bullying di Sekolah: Akar Masalah dan Dampak (Studi Kasus di sebuah SMA Swasta Homogen Yogyakarta. Yogyakarta: FIB UGM
  6. Astuti, Ponny Retno Astuti. 2008. Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan Pada Anak. Jakarta: PT. Grasindo
  7. Beaudoin, Huguette dan Ginette Roberge. 2015. Student Perceptions of School Climate and Lived Bullying Behaviours. Procedia: Social and Behavioral Sciences 174. Hal 321-330
  8. Bourdieu, Pierre. 1990. The Logic of Practice. Cambridge: Polity Press
  9. Bourdieu, Pierre dan Loic J D Waquant. 1992. An Invitation to Reflexive Sociology. Chicago: University of Chicago Press
  10. Bourdieu, Pierre. The Forms of Capital. Dalam Ball, Stephen. 2004. (ed.). The Routledge Falmer Reader in Sociology of Education. London: Routledge
  11. Djaali. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara
  12. Fetterman, David M. 1989. ETHNOGRAPHY: Step by Step. USA: Applied Social Research Methods Series. Vol. 17
  13. Foucault, Michel. 2002. The Power/Knowledge: Wacana Kuasa dan Pengetahuan. Yogyakarta: Bentang Budaya
  14. Galtung, Johan. 1990. Cultural Violence. Manoa: Journal of Peace Research. Vol. 27, No. 3, hal. 291-305
  15. Gunawan, Imam. 2013. Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Jakarta: Bumi Aksara
  16. Haryatmoko. 2003. “Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa: Landasan Teoritis Gerakan Sosial Menurut Bourdieu”. dalam Basis Nomor 11-12, Tahun ke-52, November-Desember 2003. Yogyakarta: Kanisius
  17. Hidayat, Rakhmat. 2009. “Kurikulum sebagai Arena Kontestasi Kekuasaan: Konseptualisasi Gagasan Michael Apple hingga Pierre Bourdieu”. Jurnal Komunitas, Volume 3. 1 Februari 2009
  18. Idi, Abdullah. 2011. Sosiologi Pendidikan Individu, Masyarakat, dan Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
  19. Irianto, Agus Maladi. 2015. Media dan Kekuasaan: Antropologi Membaca Dunia Kontemporer. Semarang: Gigih Pustaka Mandiri
  20. Irianto, Agus Maladi. 2015. Interaksionisme Simbolik: Pendekatan Antropologi Merespons Fenomena Keseharian. Semarang: Gigih Pustaka Mandiri
  21. Karabulut, Ahu Tugba. 2016. “Bullying: Harmful and Hidden Behavior in Organization”. Procedia: Social and Behavior Sciences 229. Hal 4-11
  22. Ken, Rigby. 2003. “Consequences of Bullying in School”. Canadian Journal of Psychiatry. 48. 583-590
  23. Martono, Nanang. 2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah: Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
  24. Masdin. 2013. Fenomena Bullying dalam Pendidikan. Jurnal Al Ta’dib. Vol. 6 No. 2 (Juli-Desember). Hal. 73-83
  25. Narwoko, J Dwi dan Bagong Suyanto. 2007. Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta: Kencana
  26. Pradipto, Yosef Dedy. 2007. Belajar Sejati versus Kurikulum Nasional: Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar. Yogyakarta: Kanisius
  27. Russell, Bertrand. 1998. Power: A New Social Analysis. Terj. Hasan Basari. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  28. Santoso, Thomas. 2002. Teori-teori Kekerasan. Jakarta: Pt. Ghalia Indonesia
  29. Satori, Djam’an dan Aan Komariah. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
  30. Sejiwa. 2008. Bullying: Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan Sekitar Anak. Jakarta: Grasindo
  31. Setiani, Desi. 2005. Hubungan Tipe Sekolah denggan Perilaku Bullying Pada Pelajar SMA. Jakarta: Skripsi S1 Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
  32. Sugiariyanti. 2010. “Perilaku Bullying Pada Anak dan Remaja”. Semarang: INTUISI (Jurnal Ilmiah Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, Indonesia). Vol. 1 No. 2. hal. 101
  33. Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta
  34. Susan, Novri. 2009. Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Kencana
  35. Setiani, Desi. 2005. Hubungan Tipe Sekolah dengan Perilaku Bullying Pada Pelajar SMA. Skripsi S1. Fakultas Psikologi. Universitas Indonesia
  36. B, Carter dan Vicky G Spencer. http://www.psychologymania.com diakses pada 13 Juli 2018
  37. Bauman, Sherin. 2008. The Role of Elementary School Counselors in Reducing School Bullying. The Elementary School Journal. Vol. 108 No. 5 (May 2008). Hal. 362-375. Tersedia di http://jstor.org/stable/10.1086/589467 diakses pada tanggal 10 Oktober 2017 pukul 15.48 WIB
  38. Muthmainah, Dinda Audriene. 2017. Semakin Banyak yang Melaporkan Kasus Bullying. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20170722163858-277-229641/semakin-banyak-yang-melaporkan-kasus-bullying diakses pada tanggal 22 Maret 2018 pukul 00.49 WIB
  39. Siswoyo. 2010. Lupakan Senioritas. Artikel diakses pada tanggal 5 Agustus 2018 dari http://waspadmedan.com.indeks.php?options=com_contentandview=article&id=4815:lupakansenioritas&catid=74:kreasianditemid=231
  40. Saryono, Sarlito Wiryawan. 2003. Perplonccoan dan Kekuasaan. http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2003/09/15/kl/mbm.200330915.kl90261.id.html diakses pada tanggal 5 Agustus 2018
  41. https://thetanjungpuratimes.com/2017/11/04/ini-alasan-kasus-bullying-paling-banyak-terjadi-pada-remaja/ diakses pada 24 Juli 2018
  42. http://jogja.tribunnews.com/2017/07/22/117-laporan-bullying-diterima-tepsa-kemensos-ri-hingga-juli-2017 diakses pada 24 Juli 2018
  43. https://www.inews.id/news/read/189701/kpai-catat-161-kasus-kekerasan-anak-di-bidang-pendidikan-selama-2018 diakses pada 24 Juli 2018
  44. https://kumparan.com/dyota-maitri/antara-senioritas-bullying-dan-moral-value diakses 25 Juli 2018

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-04-13 22:33:32

No citation recorded.