Status Konservasi Sarang Megapoda Arfak (Aepypodius arfakianus) di Cagar Alam Pegunungan Arfak: Salah satu dampak dari perubahan lansekap

*Freddy Pattiselanno orcid  -  Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Universitas Papua
Received: 30 Jun 2018; Published: 29 Apr 2020.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Tingkat pemanfaatan Megapoda Arfak (Aepypodius arfakianus) oleh masyarakat melalui perburuan dan pengumpulan telur cukup tinggi. Hal ini berdampak terhadap status populasi burung ini di alam. Penelitian tentang status konservasi sarang Megapoda Arfak telah dilakukan untuk mengetahui kondisi sarang yang memungkinkan perkembangan populasi burung ini. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 22 sampi 27 Mei 2016 dan 14 sampai 19 Juni 2016 di Kampung Sigim, sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Arfak.  Metode deskripsi dengan teknik survei dan pengamatan (observasi) langsung digunakan dalam pengumpulan data di lokasi penelitian.  Dari sembilan sarang yang ditemukan dan diamati, enam sarang jaraknya relatif dekat dari pemukiman atau berjarak kurang dari 1.0km sehingga mendapat tekanan perburuan dan pengumpulan telur yang lebih berat. Berdasarkan statusnya, dua sarang berstatus ditinggalkan dan empat sarang memiliki status terancam. Tiga sarang lainnya yang berjarak 2-3km dari pemukiman berstatus tidak terancam. Konsekuensi dari konversi luasan hutan untuk tujuan lainnya (pembangunan sarana dan pra-sarana public seperti pengembangan ruas jalan dan pembangunan pemukiman) serta pembukaan lahan perkebunan dan pertanian memberikan kemudahan akses ke lokasi persarangan Megapoda Arfak. Hal ini berdampak terhadap status konservasi sarang, karena perburuan burung dan pengumpulan telur yang tidak terkendali.

Keywords: Status konservasi, sarang, Megapoda Arfak

Article Metrics:

  1. Argeloo, M. and Dekker, R.W.R.J. 1996. Exploitation of megapode eggs in Indonesia: the role of traditional methods in the conservation of megapodes. Oryx 30(1): 59-64
  2. Argeloo, M. 1994. The Maleo Macrocephalon maleo: New information on the distribution and status of Sulawesi's endemic megapode. Bird Conservation International 4:383-393
  3. Baker, G.C. and Butchart, S.H.M. 2000. Threats to maleo Macrocephalon maleo and recommendations for its conservation. Oryx 34: 255-261
  4. Dekker, R.W.R.J. 1990. The distribution and status of nesting ground of the Macrocephalon maleo in Sulawesi, Indonesia. Biological Conservation Journal (51) : 139 – 150
  5. Fa JE, Ryan SF, Bell DJ. 2005. Hunting vulnerability, ecological characteristics and harvest rates of bushmeat species in Afrotropical forests. Biological Conservation 121, 167-176
  6. Gorog, A.J., Pamungkas, B, and Lee, J.L. 2005. Nesting Ground Abandoment by The Maleo (Macrocephalon maleo) in North Sulawesi: Identiffying Conservation Priorities for Indonesia’s Endemic Megapode. Biological Conservation Journal.Vol.126 (4):548-555
  7. Johnson, C.J., Boyce, M.S., Case, R.L., Cliff, H.D., Gau, R.J., Gunn, A. and Mulders, R. 2005. Cumulative effects of human developments on arctic wildlife. Wildl Monographs 160
  8. Jones, D.N., Dekker, R.W.R.J. and Roselaar, C.S. 1995. Bird Families of The World: The Megapode. Oxford University Press. Oxford
  9. Jones, D.N. and Birks, S. 1992. Megapodes: recent ideas and origins, adaptations and reproduction. Trends on Ecology and Evolution 7: 88-91
  10. Lee, R.J. 2000. Impact of subsistence hunting in North Sulawesi, Indonesia and conservation options. In J.G. Robinson& E.L. Bennett (Eds.), Hunting for Sustainability in Tropical Forests. (pp. 455-472) New York: Columbia University Press
  11. Lindongi, J.C. 2002. Ekologi Persarangan Burung Maleo (Megapodius freycinet) Pada Areal Hutan Bremi Kabupaten Manokwari. Skripsi.Universitas Negeri Papua, Manokwari
  12. Manik, H. 2008. Ekologi Persarangan Burung Maleo Gunung (Aepypodius arfakianus) pada areal Aliran Kali Mokwam KabupatenManokwari Papua Barat. Jurnal Ilmu Peternakan. Vol 3 (2): 101-106
  13. Mann, S.L., Steidl, R.J. and Dalton, V.M. 2002. Effects of cave tours on breeding cave myotis. J. of Wildl Manag. 66: 618–624
  14. Panggur, M.R. 2008. Karakteristik Gundukan Bertelur Dan Perilaku Bertelur Burung Gosong Kaki-Merah (Megapodius reinwardt Dumont 1823) di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Skripsi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor
  15. Pattiselanno, F. and de Fretes, Y. 2016. Potency and distribution of Papua’s terrestrial biodiversity. International Conference on Biodiversity, Ecotourism and Creative Economy, 7-10 September, Jayapura, Papua
  16. Pattiselanno, F. 2016. Menginisiasi pembangunan jalan dalam kawasan lindung. Media Papua 4 Oktober 2016
  17. Pattiselanno, F, and Arobaya, A.Y.S. 2015. Road development versus conservation. Jakarta Post, 21 May 2015
  18. Pattiselanno, F. and Arobaya, A.Y.S. 2014. Components, ground temperature and status of incubation mounds of Megapode freycinet Gaimard in Rumberpon Island. Tigerpaper 41(3): 15-20
  19. Pattiselanno, F. 2005. Characteristic of Dusky Megapode’s nesting grounds in the coastal area of Rumberpon Island, West Papua, Indonesia. Tigerpaper 32(3): 20-23
  20. Pattiselanno, F. 2000. Perbandingan Karakteristik Sarang Megapoda (Megapodius freycinet Gaimard) Pada Areal Persarangan Pesisir Pantai dan Hutan Dataran Rendah Pulau Rumberpon.Seminar Hasil Magang, Kursus, dan Penelitian. Unit Pelayanan MIPA. Faperta UNCEN Manokwari, 115-120
  21. Petocz, R.G. 1987. Konservasi Alam dan Pembangunan di Irian Jaya. Pustaka Graffiti Press Jakarta.hal 163
  22. Refisch, J. and Koné, I. 2005. Impact of commercial hunting on monkey populations in the Taï region, Côte d’Ivoire. Biotropica 37(1), 136-144
  23. Robinson, J.G. and Bennett, E.L. (Eds.). 2000. Hunting for sustainability in Tropical Forests. New York: Columbia University Press. Milner-Gulland et al., 2003;
  24. Robinson, J.G., Redford, K.H. and Bennett, E.L. 1999. Wildlife harvest in logged tropical forests. Science 284, 595-596
  25. Steidl, R.J. and Anthony, R.G. 2000. Experimental effects of human activity on breeding bald eagles. Ecol. App. 10: 258–268
  26. Swarthout, E. and Steidl, R.J. 2003. Experimental effects of hiking on Mexican spotted owls. Conserv Biol 17: 307–315
  27. Triyantoro, S. 2002. Tingkat Konsumsi dan Teknik Berburu Burung Maleo (Megapodius freycinet) oleh Penduduk Desa Bremi, Yoom Nuni dan Saubeba Kecamatan Manokwari. Skripsi, Universitas Negeri Papua., Manokwari
  28. Tuhumury, A. A. t.t. Rencana Pengelolaan Satwa Burung Maleo/Momoa (Eulipoa Wallace) Di Maluku.Dosen Jurusan Kehutanan Fakultas PertanianUnpatti. www.kewang-haruku.com

Last update: 2021-02-26 23:49:30

No citation recorded.

Last update: 2021-02-26 23:49:31

No citation recorded.