skip to main content

Hubungan Kondisi Fisik Rumah dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes spp. pada Rumah Penderita Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Pinang Kencana Kota Tanjungpinang

Jurusan Kesehatan Lingkungan, Poltekkes Kemenkes Tanjungpinang, Indonesia, Indonesia

Open Access Copyright 2026 Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Latar belakang: Sampai saat ini, Demam Berdarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius yang dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, khususnya kualitas sanitasi rumah. Angka kejadian DBD di Kota Tanjungpinang menunjukkan tren peningkatan, dengan Kelurahan Pinang Kencana menjadi wilayah dengan kasus tertinggi. Lingkungan permukiman yang tidak memenuhi standar kesehatan berpotensi meningkatkan tempat perindukan Aedes aegypti.

Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan di rumah-rumah penderita demam berdarah dengue (DBD) yang berlokasi di Kelurahan Pinang Kencana pada periode Juni 2025. Sebanyak 43 rumah yang memenuhi kriteria inklusi untuk sampel penelitian adalah rumah penderita DBD. Metode pengambilan sampel berulang dilakukan (consecutive sampling) pada setiap rumah yang memenuhi persyaratan selama periode penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi langsung menggunakan instrumen thermometer, hygrometer, lux meter, dan lembar observasi kualitas air. Analisis hubungan antara variabel bebas (suhu, kelembaban, pencahayaan, ventilasi, dan kualitas air) dengan keberadaan jentik dianalisis melalui uji Chi-Square.

Hasil: Hasil studi memaparkan bahwa 53,48% rumah positif terdapat jentik, dengan Angka Bebas Jentik (ABJ) hanya 46,51%, jauh di bawah standar 95%, menandakan risiko tinggi penularan DBD. Tidak ada korelasi signifikan antara keberadaan jentik dengan suhu (p 0,451), kelembaban (p 0,954), pencahayaan (p 0,526), dan ventilasi (p 0,692). Sebaliknya, kualitas air memiliki hubungan sangat signifikan dengan keberadaan jentik (p = 0,002), di mana seluruh jentik ditemukan pada wadah air yang memenuhi kriteria ideal bagi perkembangan Aedes aegypti (jernih, tidak mengalir, tidak tertutup).

Simpulan: Kualitas air merupakan determinan utama keberadaan jentik dan faktor paling berpengaruh dalam risiko penularan DBD di wilayah penelitian. Faktor fisik rumah lainnya—suhu, kelembaban, pencahayaan, dan ventilasi—tidak menunjukkan hubungan signifikan, meskipun tetap berperan dalam menciptakan lingkungan hunian sehat.

 

ABSTRACT

Title: Association Between Residential Physical Conditions and the Presence of Aedes spp. Larvae in the Homes of Dengue Fever Patients in Pinang Kencana Subdistrict, Tanjungpinang City

Background: Dengue fever (DF) remains a significant public health concern influenced by various environmental factors, particularly the quality of household sanitation. The incidence of dengue fever in Tanjungpinang City has shown an increasing trend, with Pinang Kencana Subdistrict reporting the highest number of cases. Residential environments that fail to meet established public health standards may provide favorable breeding habitats for Aedes aegypti, thereby increasing the risk of dengue transmission.

Method: This study employed an observational analytical design with a cross-sectional approach and was conducted in the homes of dengue fever patients in Pinang Kencana Subdistrict during June 2025. The study sample consisted of 43 households of dengue fever patients that met the inclusion criteria and agreed to participate in the study. A consecutive sampling technique was applied to recruit all eligible households throughout the study period. Data were collected through direct field observations using a thermometer, hygrometer, lux meter, and a standardized water quality observation checklist. The associations between the independent variables (temperature, relative humidity, lighting intensity, ventilation area, and water quality) and the presence of Aedes spp. larvae were analyzed using the Chi-square test.

Result: The results revealed that 53.48% of the surveyed households were positive for Aedes spp. larvae, while the Larvae-Free Index (LFI) was only 46.51%, substantially below the recommended threshold of 95%, indicating a high risk of dengue transmission. No statistically significant associations were observed between temperature (p = 0.451), relative humidity (p = 0.954), lighting intensity (p = 0.526), or ventilation area (p = 0.692) and the presence of Aedes spp. larvae. In contrast, water quality was significantly associated with larval presence (p = 0.002). All larvae were detected in water-holding containers that exhibited environmental conditions favorable for Aedes aegypti breeding, namely clear, stagnant, and uncovered water.

Conclusion: The findings indicated that water quality constituted the primary determinant of Aedes spp. larval occurrence and represented the most influential factor contributing to dengue transmission risk within the study area.. In contrast, other residential physical characteristics—including temperature, relative humidity, lighting intensity, and ventilation area—were not significantly associated with larval presence, although they remain important components of a healthy residential environment.

 

Note: This article has supplementary file(s).

Fulltext View|Download |  Turnitin
Turnitin
Subject
Type Turnitin
  Download (3MB)    Indexing metadata
 CTA
Copyrigh Transfer Agreement
Subject
Type CTA
  Download (436KB)    Indexing metadata
 ES
Ethical Statement
Subject
Type ES
  Download (677KB)    Indexing metadata
Email colleagues
Keywords: Jentik; Lingkungan ; Rumah

Article Metrics:

  1. Nanda M, Anasti A, Andini C, Ramadhani DF, Ayuanda TH, Tanjung HY. Faktor yang Mempengaruhi Sanitasi Lingkungan Masyarakat di Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan. J Pendidik Tambusai. 2023;7(1):289-98. https://doi.org/10.36656/jpksy.v7i1.2087
  2. Permatasari TAE, Chadirin Y, Ernirita, Elvira F, Putri BA. The association of sociodemographic, nutrition, and sanitation on stunting in children under five in rural area of West Java Province in Indonesia. J Public health Res. 2023 Sep 30;12(3):22799036231197170. https://doi.org/10.1186/s40795-022-00627-3
  3. Ahyanti M. Sanitasi Pemukiman pada Masyarakat dengan Riwayat Penyakit Berbasis Lingkungan. J Kesehat. 2020;11(1):44-50. https://doi.org/10.26630/jk.v11i1.1697
  4. Sucipto PT, Raharjo M, Nurjazuli N. Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan jenis serotipe virus Dengue Di Kabupaten Semarang. J Kesehat Lingkung Indones. 2015;14(2):51-6. https://doi.org/10.14710/jkli.14.2.51-56
  5. Mawaddah F, Pramadita S, Triharja A. Analisis Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Dan Perilaku Keluarga Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Pontianak. J Teknol Lingkung Lahan Basah. 2022;10(2):215-28. https://doi.org/10.26418/jtllb.v10i2.56379
  6. Dompas BE, Sumampouw OJ, Umboh JML. Apakah Faktor Lingkungan Fisik Rumah Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue? Indones J Public Heal Community Med. 2020;1(2):11-5. https://doi.org/10.35801/ijphcm.1.2.2020.28662
  7. Haider N, Hasan MN, Onyango J, Billah M, Khan S, Papakonstantinou D, et al. Global Dengue Epidemic Worsens with Record 14 Million Cases and 9,000 Deaths Reported in 2024. Int J Infect Dis. 2025;107940. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2025.107940
  8. Kemenkes RI. KEPMENKES_829_1999 Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman. 1999. https://www.scribd.com/document/355437181/Kepmenkes-RI-No-829-Tahun-1999-Persyaratan-Kesehatan-Perumahan-pdf
  9. Priesley F, Reza M, Rusjdi SR. Artikel Penelitian Hubungan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menutup , Menguras dan Mendaur Ulang Plus ( PSN M Plus ) terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue ( DBD ) di Kelurahan Andalas. 2017;7(1):124-30
  10. https://doi.org/10.25077/jka.v7i1.790
  11. Lesmana O, Halim R. Gambaran Tingkat Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti di Kelurahan Kenali Asam Bawah Kota Jambi. J Kesmas Jambi. 2020;4(2):59-69. https://doi.org/10.22437/jkmj.v4i2.10571
  12. Ichsan M, Ishak H, Ibrahim E, Amqam H, Wahid I, Syahribulan, et al. Habitat Characteristics of Aedes Sp Larval Containers and Density of Container Index (CI) In the Area Endemic and Non-Endemic to DHF In Makassar City. Pharmacogn J. 2023;15(3):290-5. https://doi.org/10.5530/pj.2023.15.77
  13. Handayani MT, Raharjo M, Joko T. Pengaruh Indeks Entomologi dan Sebaran Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Sukoharjo. 2023;22 (April 2022):46-54. https://doi.org/10.14710/jkli.22.1.46-54
  14. Yunitra C, Putri A, Setyobudi A, Ndoen EM. Density Figure of Aedes Aegypti Larvae and Community Participation in Prevention of Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ). 2021;3(3):123-32. https://doi.org/10.35508/ljch.v3i3.4329
  15. Rakhmatsani L, Susanna D. Studi Ekologi Hubungan Iklim Terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Bogor Tahun 2013-2022. J Kesehat Lingkung Indones. 2024;23(2):207-14. https://doi.org/10.14710/jkli.23.2.207-214
  16. Putri MK, Mentari M, Nuranisa N. The Impact of Slums on Public Health in the Talang Putri Area of Plaju Sub-District. Sumatra J Disaster, Geogr Geogr Educ. 2020;4(2):204-8. https://doi.org/10.24036/sjdgge.v4i2.332
  17. Lestari PA, Fajar NA, Windusari Y, Novrikasari, Sunarsih E. Faktor Pengaruh Kesehatan Lingkungan terhadap Kejadian Demam Berdarah Dangue (DBD) di Wilayah Endemis: Systematic Literature Review. Heal Inf J Penelit. 2023;15(3):1-10. https://doi.org/10.57152/malcom.v5i4.2116
  18. Embong NB, Sudarmaja IM. Effect of Temperature on Aedes Aegypti Egg Hatching Rates. E-Jurnal Med. 2016;5(12):1-8. http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum
  19. Wijirahayu S, Sukesi TW. Hubungan Kondisi Lingkungan Fisik dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Kalasan Kabupaten Sleman. 2019;18(1):19-24. https://doi.org/10.14710/jkli.18.1.19-24
  20. Albelda-Estellés Ness MC. Indoor relative humidity: relevance for health, comfort, and choice of ventilation system. 2023;(November). https://doi.org/10.4995/VIBRArch2022.2022.15237
  21. Sandy S, Riset P, Masyarakat K, Kesehatan O, Kantor A, Bersama K. Perubahan Iklim Terhadap Kasus DBD di Kabupaten Jayapura Tahun 2014-2021. 2024;23(2):182-90
  22. https://doi.org/10.14710/jkli.23.2.182-190
  23. Bd DED, Ndemis DIDAE, Emarang KOTAS. F AKTOR P ERILAKU D ENGAN K EJADIAN D EMAM B ERDARAH. 2021;12(2):344-9. https://doi.org/10.26751/jikk.v12i2.1080
  24. Hamid A, Lestari A, Maliga I. Analisis Perbandingan Faktor Lingkungan Terkait Dengan Prevalensi Kejadian Demam Berdarah Dengue ( DBD ) Pada Daerah Sporadis Dan Daerah Endemis. 2023;22(1):13-20. https://doi.org/10.14710/jkli.22.1.13-20
  25. Daswito R, Samosir K. Physical environments of water containers and Aedes sp larvae in dengue endemic areas of Tanjungpinang Timur District. Ber Kedokt Masy. 2021;37(1):13
  26. https://doi.org/10.22146/bkm.57738
  27. Wanti, Yudhastuti R, Notobroto HB, Subekti S, Sila O, Kristina RH, et al. Dengue hemorrhagic fever and house conditions in Kupang City, East Nusa Tenggara Province. Kesmas. 2019;13(4):177-82
  28. https://doi.org/10.21109/kesmas.v13i4.2701
  29. Raharjo M. Hubungan Faktor Lingkungan Fisik Dalam Rumah dan Perilaku Kesehatan Dengan Kejadian TB Paru di Purwokerto Selatan Banyumas. 2022;21(2):210-8. https://doi.org/10.14710/jkli.21.2.210-218
  30. Restuastuti T, Restila R, Anggraini YE. Analisis Hubungan Sanitasi Lingkungan Terhadap Keluhan Penyakit Kulit. 2022;21(1):9-17. https://doi.org/10.14710/jkli.21.1.9-17
  31. Onasis A, Razak A, Barlian E, Dewata I, Sugriarta E. Pengendalian Nyamuk Aedes Sp Oleh Keluarga Terhadap Risiko Keruangan. 2023;22(3):237-44. https://doi.org/10.14710/jkli.22.3.237-244
  32. Kesehatan J, Indonesia L, Yudhastuti R, Farid M, Lusno D. Gambaran Kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD) di Provinsi Bali Tahun 2012-2017. 2020;19(1):27-34. https://doi.org/10.14710/jkli.19.1.27-34

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-08-04 14:39:39

No citation recorded.