skip to main content

Hubungan Tingkat Stres dan Status Anemia dengan Dismenorea Primer Pada Siswi Kelas XII di SMAN 1 Nganjuk

*Riris Rahmatanti  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Siti Fatimah Pradigdo  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Dina Rahayuning Pangestuti  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro, Semarang|Universitas Diponegoro, Indonesia
Open Access Copyright 2020 MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

ABSTRAK

Latar belakang: Dismenorea primer banyak ditemui pada wanita usia sekitar 17-24 tahun dan masih menjadi permasalahan yang dikeluhkan bagi remaja putri karena dapat menyebabkan terganggunya aktivitas sehari-hari dan tertinggalnya mata pelajaran. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat stres, status anemia dengan dismenorea primer pada siswi kelas XII di SMAN 1 Nganjuk.

Metode: Penelitian dengan desain cross sectional ini dilakukan kepada 74 siswi dengan metode proportional stratified random sampling dari 213 siswi kelas XII SMAN 1 Nganjuk. Variabel bebas yang diteliti adalah tingkat stres dan status anemia, sedangkan variabel terikat adalah dismenorea primer. Data karakteristik seperti usia menarche, lama menstruasi, riwayat keluarga, dan kebiasaan sarapan diperoleh dengan wawancara terstruktur. Profil status gizi seperti IMT/U, kecukupan kalsium, magnesium, Fe dan vitamin E dan status anemia, berturut-turut, diperiksa dengan pengukuran antropometri, formulir semi-FFQ dan food picture, pengukuran kadar hemoglobin menggunakan Hemochroma. Penentuan tingkat aktivitas fisik, tingkat stress dan  persepsi dismenorea primer, berturut-turut, dilakukan dengan kuesioner IPAQ, DASS 42, dan MSQ.  Uji bivariat dianalisis menggunakan Chi Square dengan tingkat signifikansi 0,05.

Hasil: Sebanyak 34% remaja putri mengalami dismenorea primer, anemia 71,6% dan yang mengalami stres 56,8%. Terdapat hubungan antara tingkat stres (p=0,002; C=0,339) dan status anemia (p=0,001; C=0,552) dengan dismenorea primer. Lama menstruasi (p=0,008; C=0,293), riwayat keluarga (p=0,010; C=0,287), tingkat kecukupan kalsium (p=0,001; C=0,640), tingkat kecukupan Fe (p=0,009; C=0,639) serta tingkat kecukupan vitamin E (p=0,001; C=0,596) juga berhubungan dengan dismenorea primer.

Simpulan: Dismenorea primer remaja putri berhubungan dengan tingkat stres dan status anemia. Namun demikian, dismenorea primer juga dipengaruhi oleh lama menstruasi, riwayat keluarga, tingkat kecukupan kalsium, Fe dan vitamin E.

 

Kata kunci: tingkat stres, status anemia, dismenorea primer, siswi SMA, Nganjuk

 

ABSTRACT

Title: Relationship between Stress Level and Anemia Status with Primary Dysmenorrhoea in Class XII Students at SMAN 1 Nganjuk

 

Background: Primary dysmenorrhoea is mostly found in women aged around 17-24 years and is still a problem that is complained of for young women because it can cause disruption of daily activities and lagging subjects. The purpose of this study was to determine the relationship of stress levels, anemia status with primary dysmenorrhoea in class XII students at SMAN 1 Nganjuk.

Method: This cross sectional design study was conducted on 74 students using proportional stratified random sampling method from 213 students of class XII SMAN 1 Nganjuk. The independent variables studied were stress level and anemia status, while the dependent variable was primary dysmenorrhoea. Data on characteristics such as menarche age, menstrual period, family history, and breakfast habits were obtained by structured interview. Nutritional status profiles such as BMI /U, adequate calcium, magnesium, Fe and vitamin E and anemia status, respectively, were examined by anthropometric measurements, semi-FFQ forms and food pictures, measurement of hemoglobin levels using Hemochroma. Determination of the level of physical activity, stress levels and perception of primary dysmenorrhoea, respectively, was carried out with the IPAQ questionnaire, DASS 42, and MSQ. Bivariate test was analyzed using Chi Square with a significance level of 0.05.

Results: As many as 34% of adolescent girls experienced primary dysmenorrhoea, anemia 71.6% and those experiencing stress 56.8%. There is a relationship between stress level (p = 0.002; C = 0.339) and anemia status (p = 0.001; C = 0.552) with primary dysmenorrhoea. Menstrual duration (p = 0.008; C = 0,293), family history (p = 0.010; C = 0,287), calcium adequacy level (p = 0,001; C = 0,640), adequacy level of Fe (p = 0,009; C = 0,639) and adequate levels of vitamin E (p = 0.001; C = 0.596) are also associated with primary dysmenorrhoea.

Conclusion: Primary dysmenorrhoea in adolescent girls is associated with stress levels and anemia status. However, primary dysmenorrhoea is also influenced by menstrual length, family history, adequate levels of calcium, Fe and vitamin E.

 

Keywords: Stress Level, Anemia Status, Primary Dysmenorrhoea, High School Girls, Nganjuk

Fulltext View|Download
Keywords: Tingkat Stres; Status Anemia; Dismenorea Primer; Siswi SMA; Nganjuk

Article Metrics:

  1. Wiknjosastro, Hanifa. Ilmu Kandungan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 2005
  2. Kusmiran, E. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika, 2013
  3. Proverawati, A dan Wati, E K. Ilmu Gizi Untuk Perawat dan Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Yulia Medika, 2011
  4. Novita, R. Hubungan Status Gizi dengan Gangguan Menstruasi pada Remaja Putri di SMA Al-Azhar Surabaya. Nutrition Amerta. 2018;2(2):172-181
  5. Kumalasari, I. dan Andhyantoro, I. Kesehatan Reproduksi Untuk Mahasiswa Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika, 2013
  6. Hendrik. Problema haid: Tinjauan Syariat Islam Dan Medis (Cetakan 1). Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri; 2006
  7. Maryam, Ritonga, M. A., & Istriati. Relationship Between Menstrual Profile And Psychological Stress With Dysmenorrhea. Althea Medical Journal. 2016;3(3):382-387
  8. Depkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Depkes RI. 2010
  9. Almatsier, Sunita. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama; 2011
  10. Prawirohardjo, S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2008
  11. Suryani, D., Hafiani, R., dan Junita R. Analisis Pola Makan dan Anemia Gizi Besi Pada Remaja Putri Kota Bengkulu. J Kesehatan Masyarakat. 2015;10(1):11-18
  12. Dinkes Kota Kediri. Profil Kesehatan Kota Kediri Tahun 2018
  13. Rahayu, SW. Merawat dan Menjaga Kesehatan Seksual Wanita. Bandung: PT.Grafindo Pratama, 2012
  14. Gibney, J. Michael dkk. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC, 2009
  15. Khotimah H, Kirnantoro, Cahyawati E. Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menstruasi Dengan Sikap Menghadapi Dismenore Kelas XI Di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta. J. Ners dan Kebidanan Indonesia. 2014; 2(3):136-140
  16. Yuniyanti, B., Masini.,. Hubungan Tingkat Stres Dengan Tingkat Dysmenorrhoea Pada Siswi Kelas X dan XI SMK Bhakti Karyakota Magelang Tahun 2014. J Kebidanan. 2014;3(7):30
  17. Tjokronegoro. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid 1 edisi 3. Jakarta: Gaya Baru; 2004
  18. Novia I, Puspitasari N. Faktor Resiko yang Mempengaruhi Kejadian Dismenore Primer. J Universitas Airlangga. 2008;4(3):96-103
  19. Purba SF, Sarumpaet MS, Jemadi. Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Dismenore Pada Siswi SMK Negeri 10 Medan. J Gizi, Kesehatan Reproduksi dan Epidemiologi.2013:2(5)
  20. Sholihah, M.D. The Correlation Between Exercise Activity, Genetic Background, Fast Food Consumption, and Dysmenorrhea. J Berkala Epidemiologi. 2019;7(2):129-136
  21. Faramarzi, M., Salmalian, H. Association Of Psychologic and Nonpsychologic Factors With Primary Dysmenorrhea. Iranian Red Crescent Medical Journal. 2014;16(8):1–9
  22. Winarno, FG. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia;1992
  23. Dani WI. Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Anemia pada Remaja Putri di SMA 1 Negeri Gamping Sleman Yogyakarta [Internet]. Yogyakarta; 2019 [cited 2019 Sept 15]. Available from: http://digilib.unisayogya.ac.id/4604/1/INTAN%20WILDYAN%20DANI%20NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
  24. Rosvita NC, Widajanti L, Pangestuti DR. Hubungan Tingkat Konsumsi Kalsium, Magnesium, Status Gizi (IMT/U), Dan Aktivitas Fisik Dengan Kram Perut Saat Menstruasi Primer Pada Remaja Putri (Studi Di Sekolah Menengah Atas Kesatrian 2 Kota Semarang Tahun 2017). 2018:6(1):519-526
  25. Evelyn. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama; 2009
  26. Hamsari IN, Sumarni, Lintin G. Hubungan Asupan Zat Besi Dengan Kejadian Dismenore pada Mahasiswi Angkatan 2016 Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako Tahun 2017. J Ilmiah Kedokteran. 2019;6(2):30-40
  27. Hidayati KR, Soviana E, Mardiyati NL. Hubungan Antara Kalsium dengan Asupan Zat Besi dengan Kejadian Dismenore pada Siswi di SMK Batik 2 Surakarta. J Kesehatan. 2016:1(2):15-22
  28. Dawood, M.Y. Primary Dysmenorrhea Advances In Pathogenesis and Management. The American College of Obstetricians and Gynecologists.2006;108(2):428-41
  29. Masnilawati A, Kurnaesih E. Pengaruh Pemberian Vitamin E Terhadap Perubahan Derajat Dismenorhea dan Kadar Prostaglandin Pada Remaja Putri Di Kebidanan UMI. Prosiding Semnas SMIPT. 2018 Apr 9;1(1):30-38
  30. Wagito, Lubis SM, Deliana M, Hakimi. Effectiveness of Vitamin E as a Treatment of Primary Dysmenorrhea in Pubertal Adolescent. Paediatrica Indonesia. 2011:51(1):41-4

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.