Pengendalian Wideng (Sesarma spp) sebagai Hama melalui Pendekatan Ko-manajemen Studi Kasus di Tambak Desa Tapak Tugurejo, Semarang

*Jafron W. Hidayat  -  Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro Semarang, Indonesia
Received: 9 Jan 2015; Published: 9 Jan 2015.
Download
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 836 1254
Abstract

Kawasan hutan mangrove mengalami tekanan dan perusakan yang serius, sehingga harus direhabilitasi dengan penghijauan. Gangguan yang penting dalam penghijauan diantaranya adalah hama wideng (Sesarma spp).   Wideng menyerang bibit dan tanaman mangrove serta membuat lubang pada pematang tambak. Hal tersebut menyebabkan program wanamina kurang diterima masyarakat. Perlu dilakukan pengelolaan sedemikian rupa populasi wideng dapat ditekan/ dikurangi secara buatan dengan melibatkan masyarakat. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian pengendalian wideng melalui pendekatan co-manajemen. Tujuan penelitian adalah mengetahui kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan kegiatan penghijaun dan antisipasi teknis terhadap gangguan hama wideng. Penelitian juga ditujukan untuk mengidentifikasi potensi pengendalian alternatif yang memungkinkan. Penelitian dilakukan di desa Tapak Tugurejo, Semarang. Objek kajian difokuskan pada masyarakat yang memiliki kepedulian  terhadap konservasi hutan mangrove. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan questioner dan interview mendalam terhadap anggota kelompok masyarakat serta menggunakan sejumlah dokumen dan pustaka. Data dianalisis secara deskriptif eksploratif menggunakan data yang disajikan dalam tabel. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kelompok masyarakat Desa Tapak telah melakukan berbagai kegiatan teknis untuk penghijauan mangrove dan pengendalian gangguan wideng. Kegiatan meliputi pembuatan petak pembibitan, memisahkan lokasi pembibitan berdasarkan jenis bibit, memproduksi bibit yang lebih tua, menggunakan pestisida organik dan perlindungan  propagul. Praktek tersebut belum menjadi pedoman teknis bagi kelompok, hanya bersifat fleksibel sesuai kebutuhan. Kelompok masyarakat masih berpotensi menerapkan pengendalian alternatif, yaitu dengan mengatur waktu dan lokasi tanam, menggunakan bibit yang spesifik secara umur dan jenis, memadukan dengan kegiatan budidaya Scylla spp dan membatasi penangkapan kepiting secara waktu dan tempat. Kombinasi kesemua teknik di atas dapat menekan gangguan hama, melestarikan hutan mangrove dan menghasilkan produk bernilai ekonomi. Ujung akhir dari rangkaian kegiatan teknis tersebut adalah kesejahteraan dan kelestarian lingkungan secara menyeluruh.

 

Keywords: Pelestarian mangrove, wideng, masyarakat

Article Metrics: