skip to main content

Watu Pinawetengan Sebagai Place-Lore dan Simbol Civil Sphere di Minahasa

*Really Pelita Tumengkol  -  Universitas Kristen Indonesia, Jl, Mayor Jendral Sutoyo No.2, Cawang, Kec. Keramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 13630, Indonesia
Djoys Anneke Rantung  -  Universitas Kristen Indonesia, Jl, Mayor Jendral Sutoyo No.2, Cawang, Kec. Keramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 13630, Indonesia
Lamhot Naibaho  -  Universitas Kristen Indonesia, Jl, Mayor Jendral Sutoyo No.2, Cawang, Kec. Keramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 13630, Indonesia
Thiosani Kaat  -  Universitas Kristen Indonesia, Jl, Mayor Jendral Sutoyo No.2, Cawang, Kec. Keramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 13630, Indonesia
Valentino R. Mokalu  -  Universitas Kristen Indonesia, Jl, Mayor Jendral Sutoyo No.2, Cawang, Kec. Keramat Jati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 13630, Indonesia
Open Access Copyright 2023 Endogami: Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi under http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract
Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi Watu Pinawetengan sebagai tempat sakral atau Place-Lore (ruang pengetahuan) dalam keterkaitannya dengan pengetahuan serta spiritual masyarakat Minahasa. Masa kolonialisme sampai pascakolonialisme mentransformasi setiap aspek kebudayaan termasuk pola pikir masyarakat mengenai Watu Pinawetengan. Sebelumnya Watu Pinawetengan dimaknai sebagai ruang sakral dan Place-Lore, kini masyarakat melihat sebagai tempat penyembahan berhala. Penelitian ini memakai metode kualitatif dengan pendekatan etnografi kemudian deskripsi-analitis mengenai ruang keariafan lokal masyarakat Minahasa dalam keterkaitannya dengan Civil Sphere (ruang masyarakat) pembentuk demokrasi purba Minahasa. Watu Pinawetengan menjadi Place-Lore dan simbol demokrasi purba bagi masyarakat Minahasa karena pernah terjadi musyawarah negeri untuk menyelesaikan konflik antar suku. Musyawarah bukan hanya terfokus pada permasalahan politis melainkan konflik antar kepercayaan dalam konteks Minahasa. Berdasarkan temuan dapat disimpulkan Watu Pinawetengan sebagai Place-Lore menjadi tempat sakral bagi masyarakat Minahasa lintas generasi dan merupakan ruang bagi masyarakat melakukan selebrasi budaya.
Fulltext View|Download
Keywords: Watu Pinawetengan; Place-Lore; Civil Sphare; Minahasa

Article Metrics:

  1. Alexander, J. C. (2006). The Civil Sphere. Oxford University Press Inc
  2. Aristoteles. (2004). Nichomacean Ethics: Sebuah Kitan Suci Etika (E. Kenyowati (ed.)). Teraju
  3. Bacon, W. R. (1965). Four Function of Folklore: The Study Of Folklore Alan Dundes Ed. (The Study)
  4. Englewood Cliffs, NJ. Prentice Hall Inc
  5. Browne, R. B., & Dundes, A. (1967). The Study of Folklore. In The Journal of American Folklore (Vol. 80, Issue 317). University Of California. https://doi.org/10.2307/537878
  6. Creswell, W. J. (2009). Research Design, Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches. Sage Publication, Inc
  7. Dillingstone, F. W. (1986). Power of Symbol. SCM Press
  8. Dundes, A. (1999). Holy Writ as Oral Lit: The Bible as Folklore. Rowman and Littlefield Publisher Inc
  9. Durkheim, E. (2014). The Devision of Labour in Society (S. Lukes (ed.)). Palgrave Macmillan
  10. Durkheim, E. (2017). The Elementary Forms of Religion Life (R. I. Muzir (ed.)). IRCiSoD
  11. Eliade, M. (1963). Patterns in Comparative Religion (R. Sheed (ed.)). Merdian Books
  12. Graafland, N. (1991). Minahasa Negeri, Rakyat dan Budayanya. Pustaka Utama Grafiti
  13. Karundeng, R. C. (2010). "Nuwu’I Tu’a: Etika Asli Tou Minahasa. Jurnal Fakultas Teologi, Exodus, 2
  14. Lattu, I. Y. M. (2019). “Orality and Ritual in Collective Memory: A Theoritical Discusion.” Jurnal Pemikiran Sosiologi, 6(2)
  15. Lattu, I. Y. M. (2020). Teologi Tanpa Tinta: Mencari Logos Melalui Etnografi dan Folklore. In P. F. dan Agustinus (Ed.), Membangun Gereja Sebagai Gerakan Yang Cerdas Dan Solider. Sanata Dharma University Press
  16. Lattu, I. Y. M. (2023). Rethinking Interreligious Dialoge: Orality, Collective Memory and Christian-Muslim Engagements in Indonesia. In Brill : Schoningh. Brill : Schoningh
  17. Lefebvre, H. (1991). The Production of Space (D. Nicholson-Smith (ed.)). Blasi Blackwell Ltd : Coley Road Oxford
  18. Malonda, J. F. (1952a). Membuka Tudung Dinamika Filsafat-Purba Minahasa. Yayasan Badan Wongken-Werun
  19. Malonda, J. F. (1952b). Tjeramah-tjeramah Kebudayaan Malesung. Jajasan Badan Budaya Wongken-Werun
  20. Mamengko, R. E. (2002). Etnik Minahasa dalam Askelerasi Perubahan: Telaah Historis, Teologis, Antropologis. Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
  21. Marx, K. dan F. E. (2012). The Communist Manifesto (J. C. Isaac (ed.)). Yale University Press
  22. Mason, A. (2001). Egalitarianism and the Levelling Down Objection. Analysis
  23. Mawuntu, M. L. (2017). Redefinisi dan Rekonstruksi Tou: Kajian Sosial Terhadap Identitas Sosial Minahasa dalam Konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Universitas Kristen Satya Wacana
  24. Mawuntu, M. L. (2020). Penetrasi Kekristenan Terhadap Agama Lokal Minahasa. In I. Y. . dan T. K. Lattu (Ed.), Agama dan Budaya Nusantara Pasca Kristenisasi. Lembaga Studi Sosial dan Agama Press
  25. Mobergen, E. C. . (1928). Geschiedenis Van De Minahasa Tot 1829. Landsdrukkerijk
  26. Niebuhr, H. R. (1975). Christe and Culture. Harper and Row
  27. Pantow, B. (1994). Beberapa Perubahan Kebudayaan Di Minahasa Tengah Tahun 1829-1858. In Universitas Indonesia (Disertasi). Universitas Indonesia
  28. Parfit, D. (2002). Equality or Priority, The Ideal of Equality (M. Clayton and A. Wiliams (ed.)). Palgrave Macmillan
  29. Pinatik, H. J. A. I. Y. M. L. dan R. T. P. (2021). Perubahan Agama Minahasa dan Kekristenan dalam Konstruksi Perjumpaan Simbol Sakral Pada Ritual di Watu Pinawetengan. KENOSIS: Jurnal Kajian Teologi, 7(2)
  30. Ricoeur, P. (1970). The Symbolism of Evil. Beacon Press
  31. Riedel, J. G. . (1872). De Minahasa In 1825: Bijdrage tot de kennis van Noord-Selebes, in indische Taal-Land-en Volkenkunde, Uingegeven door Het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetensch Happen - Dell XVII - Zesde Serie Dell I. Bruining Wijt
  32. Schwarz, J. A. T. (1907). Tontemboansche Teksten: Volume 1-2 (Volume 1-2). Boekhandel En Drukkerij Voorheen
  33. Sen, A. (2007). Identity And Violence: The Illusions of Destiny. W.W. Norton and Company
  34. Sompe, A. D. dan D. J. (2021). Watu Pinawetengan as a Symbol of Unity and Brotherhood of the Minahasa Tribe. Jurnal BIC,Batusangkar Indonesia
  35. Sugiyono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. In Alfabeta. Alfabeta
  36. Sulu, P. M. (2016). Quo Vadis Tou Minahasa? Goresan Peristiwa Melintas Masa dari Keunggulan Sampai Kelengahan. Graha Cendekia
  37. Supit, B. (1986). Minahasa Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua. Sinar Harapan
  38. Taulu, H. M. (1981). Terciptanya Watu Pinawetengan dan Piagam-Piagamnya. Yayasan Membangun
  39. Tulaar, D. H. (1993). Opoisme Teologi orang Minahasa. Letak Study Institute on Religion and Culture
  40. Tumbelaka, G. I. Y. M. L. dan S. D. (2020). Negosiasi Identitas Kekristenan dalam Ritual Kampetan di Watu Pinawetengan Minahasa. Anthropos: Jurnal Antropologi Sosial Dan Budaya, 6(1)
  41. Wenas, J. (2010). Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Maksimedia Satyamitra

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-07-20 17:30:49

No citation recorded.