Fission Reproduction of Two Stichopudidae Species (Holothuria:Echinodermata) (Reproduksi Fission dari Dua Species Teripang Famili Stichopudidae (Holothuria:Echinodermata)

*Retno Hartati -  Marine Science Department, Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University. Jl. Prof.Dr. Soedarto, Tembalang, Semarang, Indonesia. 50275 HP: 081325682512, Indonesia
Widianingsih Widianingsih -  Marine Science Department, Faculty of Fisheries and Marine Science, Diponegoro University. Jl. Prof.Dr. Soedarto, Tembalang, Semarang, Indonesia. 50275, Indonesia
Pradina Purwati -  Research Centre for Oceanography – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jl. Pasir Putih 1, Ancol Timur, Jakarta Utara, Indonesia. 14430, Indonesia
Published: 2 Jun 2013.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 1250 1593
Abstract

Terdapat dua sistem reproduksi pada teripang, yaitu seksual dan aseksual. Fission, sebagai salah satu cara reproduksi aseksual, adalah kemampuan alami teripang untuk membelah tubuhnya menjadi dua bagain dan masing-masing bagian dapat beregenerasi menjadi individu baru. Fenomena ini memberikan kemungkinan melakukan simulasi fission untuk memperbanyak benih teripang.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kemampuan fission dua species Stichopudidae (Stichopus hermanii and S. chloronotus) dari Karimunjawa. Simulasi fission dilakukan dengan mengikat teripang uji dengan karet pentil dan meletakkan individu teripang yang telah diikat pada keranjang yang digantung pada permukaan laut. Pengamatan fission dilakukan pada jam ke 12, 24 dan 48. Ketika telah terjadi fission dan luka tertutup, teripang uji tetap berada di keranjang uji dan teripang tidak diberi pakan. Perlakuan berlanjut sampai penyembuhan secara morfologis terjadi dengan sempurna. Waktu terjadinya regenerasi setelah luka sembuh dicatat sebagai data pengamatan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa simulasi fisssion dapat dilakukan pada species teripang Stichopudidae.  Setelah proses fission selesai, dinding tubuh pada lokasi fission menjadi basah atau berlendir selama satu sampai dua jam. Pada pagi hari berikutnya, dinding tubuh akan nampak normal konsistensinya dan luka telah tertutup. Proses fission berlangsung selama beberapa jam sampai dua haridan tanda-tanda regenerasi timbul mulai dua sampai tiga minggu setelah fission.  Waktu generasi S. hermanii terjadi lebih cepat (2 minggu setelah fission) daripada S. chloronotus.

Kata kunci : fission, produksi benih, stichopudidae, Pulau Karimunjawa

 

There are two reproduction systems in seacucumber, i.e. sexual and asexual. Fission, as a way of asexual reproduction, is natural seacucumber ability to split their body into two part, and this natural fenomenon give possibility to conduct fission stimulation as seacucumber propagation. Present works are aimed to analyse fission capability of two Stichopudidae species of sea cucumber (Stichopus hermanii and S. chloronotus) from Karimunjawa Islands. Fission stimulation by rubber band tied was done in basket hanged on the sea cage. The fission was observed for 12, 24 and 48 hours. When fission occurred and wound recovered the sea cucumber were still kept in the basket and no food was added. This treatment continued until morphological recovery was completed. The time regeneration occurred after wounds recover was recorded. The result of present work revealed that stichopudidae species showed very good response to fission stimulation. After the entire process of fission, the bodywall at the fission site remained a liquid or mucus like consistency for at least two more hours. The following morning, the bodywall had its normal consistency and the wounds at both ends were nearly entirely closed. The fission process took several hours to two days and signs of regeneration appeared two to five weeks after fission. Fission simulation give shorter regeneration time for S. hermanii (2 week) than S. chloronatus.

Keywords: fission, seed production, stichopudidae, Karimunjawa island

Article Metrics: