Analysis of land cover change and its impact on peak discharge in Jelap Sub-Watershed, Sintang District

DOI: https://doi.org/10.14710/jil.16.1.61-67

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 28-02-2018
Published: 10-06-2018
Section: Research Article
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author

ABSTRAK

Informasi mengenai debit puncak sangat penting dalam perencanaan pembangunan infrastruktur. Debit puncak dapat diprediksi menggunakan data dari alat pengukur tinggi muka air yang di pasang di outlet Daerah Aliran Sungai (DAS). Namun demikian, tidak semua DAS memiliki alat tersebut, terutama yang berada pada daerah dengan tingkat aksesibilitas rendah. Teknologi penginderaan jauh dapat menggantikan cara tersebut dalam menyediakan data dan informasi sumberdaya alam maupun pemantauan lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perubahan penutupan lahan terhadap debit puncak di Sub DAS Jelap. Sub DAS Jelap merupakan bagian dari DAS Kapuas yang berada di Kabupaten Sintang, Propinsi Kalimantan Barat. Data curah hujan diperoleh dari stasiun pengamatan curah hujan Bandara Susilo. Debit puncak dihitung menggunakan metode Rational dengan memanfaatkan data satelit penginderaan jauh berupa Digital Elevation Model/ Shuttle Radar Topography Mission (DEM/ SRTM). Selama 1990-2016, hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa sekunder mengalami penurunan seluas 1298 ha dan 338 ha, sedangkan semak belukar, semak belukar rawa, pertanian lahan kering campur semak, perkebunan dan area pertambangan mengalami peningkatan sebesar 78 ha, 102 ha, 814 ha, 640 ha, dan 2 ha. Perubahan penutupan lahan tersebut telah meningkatkan koefisien runoff dengan rata-rata peningkatan sebesar 0,14%. Dengan luas daerah terbangun kurang dari 1%, debit puncak yang dihasilkan berdasarkan analisis spasial memiliki pola yang hampir sama dengan fluktuasi curah hujan maksimum. Hal ini menunjukkan bahwa dibandingkan faktor lainnya, curah hujan maksimum merupakan faktor yang sangat menentukan nilai debit puncak di Sub DAS Jelap.

Kata kunci: Penutupan lahan, curah hujan, debit puncak, Jelap, Sintang

English title: Analysis of land cover change and its impact on peak discharge in Jelap Sub-Watershed, Sintang District

ABSTRACT

Information on peak discharge is crucial in infrastructure development planning. Peak discharge could be predicted using data from water level gauges which installed at the watershed outlet. However, not all of the watersheds have such tools, especially those in areas with low accessibility levels. Remote sensing technology could replace such tools in providing data and information of natural resources as well as environmental monitoring. The objective of this research was to analyze the land cover change and its impact on peak discharge at Jelap Sub-Watershed. Jelap Sub-Watershed is part of Kapuas Watershed located in Sintang District, West Kalimantan Province. The rainfall data were collected from Susilo Airport Rainfall Station. Peak discharge was calculated using a rational method by utilizing remote sensing satellite data in the form of Digital Elevation Model/ Shuttle Radar Topography Mission (DEM/ SRTM). Throughout 1990-2016, the area of secondary dry land forest and secondary swamp forest declined by 1298 ha and 338 ha, while shrubs, swamp shrubs, mixed dry land agriculture, plantations, and mining areas increased by 78 ha, 102 ha, 814 ha, 640 ha, and 2 ha. The change in land cover has increased the runoff coefficient with 0,14% average increment. With built area less than 1%, the peak discharge generated spatially had a similar pattern with the fluctuation of maximum rainfall. Compared to other factors, the maximum rainfall was the most decisive factor to determine peak discharge in Jelap Sub-Watershed.

Keywords: Landcover, Rainfall, Peak discharge, Jelap, Sintang

Citation: Auliyani, D. (2018). Analisis perubahan penutupan lahan dan pengaruhnya terhadap debit puncak di Sub Daerah Aliran Sungai Jelap, Kabupaten Sintang. Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1),61-67, doi:10.14710/jil.16.1.61-67

Keywords

Landcover, Rainfall, Peak discharge, Jelap, Sintang

  1. Diah Auliyani 
    Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai