Kajian Daur Hidup (Life Cycle Assessment) dalam Produksi Pupuk Urea: Studi Kasus PT Pupuk Kujang

*Joni Safaat Adiansyah  -  Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Mataram, Indonesia
Nailawati Prastiya Ningrum  -  Divisi Lingkungan Hidup, Departemen K3LH, PT. Pupuk Kujang, Indonesia
Dyan Pratiwi  -  Divisi Lingkungan Hidup, Departemen K3LH, PT. Pupuk Kujang
Hadiyanto Hadiyanto  -  Program Studi Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 7 Jun 2019; Published: 9 Dec 2019.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Pupuk urea adalah merupakan salah satu jenis pupuk yang paling banyak digunakan oleh petani di Indonesia. Total penggunaan pupuk urea selama tahun 2018 yang tercatat pada Kementerian Perindustrian Indonesia adalah sejumlah 6,27 Juta ton atau mengalami peningkatan 5% dari tahun sebelumnya. Salah satu pabrik yang menghasilkan pupuk urea adalah PT Pupuk Kujang di Cikampek Jawa Barat. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengidentifikasi dampak lingkungan potensial yang dihasilkan dari produksi 50 Kg pupuk urea. Metode yang digunakan dalam kajian dampak daur hidup (Life Cycle Impact Assessment) adalah CML-IA dengan 11(sebelas) parameter yaitu abiotic depletion dan abiotic depletion (fossil fuel), global warming (GWP100), ozone layer depletion, human toxicity, fresh water dan marine aquatic ecotoxicity, terrestrial ecotoxicity, photochemical oxidation, acidification, dan eutrophication,  Adapun batasan sistem menggunakancradle to grave yang memperhitungakn bahan dasar, proses produksi, transportasi dan pengelolaan limbah (karung bekas pupuk). Dari hasil analisa didapatkan bahwa proses produksi memberikan kontribusi dampak paling besar dibandingkan dengan pengelolaan limbah sisa karung (landfill). Proses produksi memberikan kontribusi terhadap dampak potensial lingkungan pada kisaran 99,14 – 100 persen dari total dampak yang di hasilkan. Sebagai tambahan bahwa dampak yang ditimbulkan pada proses di pabrik ammonia akan memberikan kontribusi lebih besar pada kisaran 22-37 persen lebih besar dibandingkan dengan proses di pabrik urea.Dari hasil analisa dengan memanfaatkan grafik jaringan (networking graph) pada program SimaPro juga menunjukkan bahwa environmental hotspotsdari daur hidup pupuk urea disebabkan oleh penggunaan gas alam, katalis molybdenum, penggunaan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN), penggunaan polypropylene dalam material karung, dan transportasi. Dengan mempertimbangan environmental hotspot maka tindakan perbaikan berkelanjutan perlu dilakukan baik berupa  audit energi maupun pengelolaan penggunaan katalis.

Keywords: Kajian Daur Hidup, Kajian Dampak, Pupuk, Urea, Dampak Potensial, Produksi, Transportasi, Pupuk Kujang

Article Metrics:

Last update: 2021-02-27 03:48:54

No citation recorded.

Last update: 2021-02-27 03:48:54

No citation recorded.