skip to main content

EVALUASI KINERJA OPERASIONAL BUS TRAYEK TERBOYO – MANGKANG BERDASARKAN BIAYA OPERASI KENDARAAN (STUDI KASUS : PERUM DAMRI UABK SEMARANG)

*Sriyanto Sriyanto  -  Industrial Engineering Departement Diponegoro University, Indonesia
Pentika Pulung Sari  -  Industrial Engineering Departement Diponegoro University, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Perum DAMRI adalah institusi publik yang memberikan fasilitas transportasi. Selama enam tahun terakhir, penjadwalan bus dipegang oleh DAMRI, beberapa kali mengalami pergantian sistem, yaitu penggunaan sistem plafon (oleh observasi rit) dan sistem timetabled (oleh tiket). Penggantian sistem disebabkan meningkatnya biaya operasi jika menggunakan sistem sebelumnya. Tetapi pada waktu itu, DAMRI tidak melakukan evaluasi biaya operasi yang jelas. Evaluasi komponen sebagai bagian dari biaya operasi diperlukan. Selain itu juga diperlukan penelitian ekspektasi dari semua stakeholder untuk pilihan sistem.Hasil menunjukkan biaya operasi dari setiap bus-km yang diperlukan oleh Perum DAMRI lebih besar untuk penjadwalan sistem timetabled Rp 3.338,58 / bus-km dibandingkan dengan penjadwalan sistem plafon Rp 3.336,73 / bus-km untuk plafon. Perbedaan ini tergantung pada komponen biaya tidak langsung yaitu biaya petugas kru bus. Walaupun dalam kalkulasi biaya tidak ada perbedaan, tetapi secara operasional, hasil kuesioner merekomendasikan penggunaan sistem plafon yang dipilih oleh 64,29% kru bus, 53,33% staf DAMRI, dan 69% penumpang.

Kata kunci : penjadwalan bus, biaya operasi, plafon, timetabled

 

Perum DAMRI is the public institution which facilitate people transportation. During the last sixth year, bus scheduling embraced by DAMRI, several times experience of the system commutation, that is use of plafond system (by rit observation) and timetabled system (by ticket). The system replacement because of increasing operating expenses if remain to the previous system. But during the time, in DAMRI itself there are no clear evaluation of the operating expenses. Evaluation to component representing the part of operating expenses is needed. Others, also need research of expectation of all stakeholder for the system choice.The result shows that, operating expenses of per bus-km released by Perum DAMRI is bigger for timetabled system scheduling compared to plafond system scheduling, that is Rp 3.338,58 / bus-km for timetabled and Rp 3.336,73 / bus-km for plafond. This difference relied on component of indirect expenses that is officer expense besides bus crew. Although in expense calculation there no difference, but operationally, the result from questionair recommended to used the plafond system which choosed by 64,29% of bus crew, 53,33% of DAMRI staff, and 69% of passenger

Keyword : bus scheduling, operating expenses, plafond, timetabled

Fulltext View|Download

Article Metrics:

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2021-11-30 09:42:58

No citation recorded.