PENGENDALIAN KUALITAS UNTUK MEMINIMASI PRODUK CACAT PADA PROSES PRODUKSI BESI BETON

*Tantri Windarti  -  Industrial Engineering Departement Diponegoro University, Indonesia
Published: 18 Sep 2014.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 5714 14370
Abstract

Untuk menghasilkan produk dengan kualitas yang baik pada era globalisasi saat ini, sebuah industri dituntut untuk memberikan produk yang tidak cacat dan sesuai dengan spesifikasi. PT. X adalah sebuah industri besi beton dengan berbagai macam ukuran diameter. Dalam proses produksinya, PT. X melakukan pengendalian kualitas dengan menetapkan batas maksimum toleransi kerusakan sebesar 2%. Namun, dalam pengendalian kualitas tersebut, masih terdapat produk cacat pada minggu ke-5 dan minggu ke-12 di atas batas toleransi yaitu sebesar 2,42% dan 2,21%. Penyebab kerusakan produk cacat yang terjadi pada besi beton diameter 12 mm didominasi oleh overfill sebanyak 48,97% dan scratch sebanyak 32,93% yang akan dikualifikasikan sebagai Critical To Quality (CTQ). Untuk itu,  metode six sigma ini digunakan dalam upaya meningkatkan kualitas produk besi beton melalui tahap DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve dan Control). Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa setelah menggunakan metode six sigma terjadi penurunan nilai DPMO (Defect Per Million Opportunities) sebesar 33,21% dan terjadi peningkatan nilai sigma yang semula 2,96 menjadi 3,17. Faktor penyebab utama terjadinya produk cacat adalah faktor mesin yaitu adanya trouble pada rolling mill, kemudian diikuti faktor manusia dan faktor metode sebagai penyebab lain yang membentuk produk akhir.

 

Kata kunci:  CTQ; DMAIC; pengendalian kualitas; six sigma

 

Abstract

 

To produce products with good quality in era of globalization, an industry is required to provide a product that is not defective and in accordance with the specifications. PT. X is a concrete iron industry with various diameter sizes. In the production process, PT. X performs quality control by setting damage tolerance maximum limit. The maximum limit is 2%. However, in the quality control, there are still defect levels at fifth and twelfth week that over tolerance limit are 2.42% and 2.21%. The causes of products defects that occur at concrete iron with 12 mm diameter is dominated by 48.97% overfill and 32.93% scratch that would be qualified as Critical To Quality (CTQ). Therefore, six sigma method is used to improve the concrete iron products quality through the stages of DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve and Control). The study results showed that after using six sigma method DPMO (Defect Per Million Opportunities) value decreases 33.21% and sigma value increases from 2.96 to 3.17. The main factors that cause products defects are machine factor with rolling mill troubles, followed by human factor and method factor as the other cause that forms the final product.

Keywords: CTQ;, DMAIC; quality control; six sigma

Article Metrics: