skip to main content

Kiai dan Strukturasi Kekuasaan di Pandeglang, Banten

*M. Dian Hikmawan scopus  -  Universitan Sultan Ageng Tirtayasa, Indonesia
M. Rizky Godjali  -  Universitan Sultan Ageng Tirtayasa, Indonesia
Ika Arinia Indriyany  -  Universitan Sultan Ageng Tirtayasa, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2021 Politika: Jurnal Ilmu Politik under https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

Posisi Kiai dianggap merupakan salah satu kunci penting dalam memahami struktur masyarakat Indonesia. Pada penelitian ini Kiai dilihat sebagai subjek politik dari agensi dan struturasi kekuasaan di Pandeglang. Kharisma dan ketokohan Kiai mampu membuat struktur baru dalam kekuasaan daerah. Keterlibatannya dalam urusan publik membuatnya menjadi agen baru dalam wacana isu publik. Dengan analisis yang lebih ditekankan pada aspek kultural untuk melihat fungsi sosial politik yang diperankan oleh Kiai, penelitian ini menjadi hal yang sangat menarik untuk ditinjau lebih jauh. Dengan metode kualitatif dan pendekatan fenomenologi hermeneutik, penelitian ini mengungkapkan banyak makna dalam melihat struktur kekuasaan yang ada dan memberikan pemaknaan baru dalam melihat relasi kekuasan dalam politik lokal.  Maka dari itu, penelitian ini memberikan gambaran lainnya bahwa ditengah maraknya kekuasaan politik lokal yang dipenuhi dengan oligarki, hasil riset ini menawarkan jalan baru dalam sebuah struktur kekuasaan melalui agensi yang mampu mendorong struktur kekuasaan agar membawa wacana-wacana publik ke permukaan.

Fulltext View|Download
Keywords: kiai; strukturasi; agensi; perubahan sosial

Article Metrics:

Article Info
Section: Articles
Language : ID
Statistics:
Share:
  1. Abdurrahman, A. (2012). Fenomena Kiai Dalam Dinamika Politik: Antara Gerakan Moral dan Politik. KARSA: Journal of Social and Islamic Culture, 15(1), 25–34
  2. Abdussalam, I. (2015). Reproduksi Kekuasaan Kiai dan Blater di Kabupaten Bangkalan. DIMENSI-Journal of Sociology, 8(1)
  3. Achidsti, S. A. (2014). Eksistensi Kiai dalam Masyarakat. IBDA: Jurnal Kajian Islam Dan Budaya, 12(2), 149–171
  4. Adian, D. G. (2010). Pengantar Fenomenologi. Depok: Koekosan
  5. Bagguley, P. (2003). Reflexivity Contra Structuration. Canadian Journal of Sociology/Cahiers Canadiens de Sociologie, 133–152
  6. Clark, J., Modgil, C., & Modgil, S. (1990). Anthony Giddens: Consensus and Controversy (Vol. 2). Routledge
  7. Creswell, J. W. (2014). Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (Research Design). California: Teller Road
  8. Dhofier, Z. (1981). Tradisi Pesantren. Jakarta: LP3ES
  9. Fadhilah, A. (2011). Struktur dan Pola kepemimpinan Kyai dalam Pesantren di Jawa. Hunafa: Jurnal Studia Islamika, 8(1), 101–120
  10. Giddens, A. (1979). Time, Space, Social Change. In central problems in social theory (pp. 198–233). Springer
  11. Giddens, A. (1986). The Nation-State and Violence. Capital & Class, 10(2), 216–220
  12. Giddens, A. (1998). Conversations With Anthony Giddens. Making Sense of Modernity. Stanford University Press
  13. Hamid, A. (2010). Memetakan Aktor Politik Lokal Banten Pasca Orde Baru: Studi Kasus Kiyai dan Jawara di Banten. Politika, Jurnal Ilmu Politik, 1(2)
  14. Hamid, A. (2011). Pergeseran Peran Kyai dalam Politik di Banten Era Orde Baru dan Reformasi. Al Qalam, 28(2), 339–364
  15. Hannan, A. (2018). Agama, Kekerasan, dan Kontestasi Politik Elektoral: Penggunaan Simbol Keagamaan Kiai dan Kekuatan Blater dalam Pertarungan Politik Lokal Madura. Jurnal Sosiologi Agama, 12(2), 187
  16. Hikmawan, M. D. (2017). Pluralisme Demokrasi Politik di Indonesia. Journal of Governance, 2(2), 223–247. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31506/jog.v2i2.2678
  17. Hikmawan, M. D. (2020). Consensual democracy: A challenge for Differentiated Citizenship. International Journal of Innovation, Creativity and Change. Www. Ijicc. Net, 11
  18. Hikmawan, M. D., & Hidayat, R. (2016). Depoliticisation of Public Issue: Low Degree of Government’s Democratic Legitimacy (The Case of the Reclamation Policy of Benoa Bay, Bali, Indonesia). Journal of Governance, 1(1)
  19. Hikmawan, M. D., Indriyany, I., & Mayrudin, Y. (2019). Environmental Movement Against Mining Exploration in Bojonegara Serang Banten. In International Conference on Democratisation in Southeast Asia (ICDeSA 2019) (pp. 278–282). Atlantis Press
  20. Jannah, H. (2015). Kyai, Perubahan Sosial dan Dinamika Politik Kekuasaan. Fikrah, 3(1), 157–176
  21. Kartodirdjo, S. (1984). Pemberontakan Petani Banten 1888; Kondisi, Jalan Peristiwa, dan Kelanjutannya. Jakarta: Pustaka Jaya
  22. Kusmayadi, E., Agung, S., & Ali, M. (2016). Model Kepemimpinan Politik Kyai: Studi Peran Kyai Dalam Pergeseran Perilaku Politik Massa NU PKB dan PPP. Politika: Jurnal Ilmu Politik, 7(2), 21–33
  23. Migdal, J. S. (1988). Strong Societies and Weak States: State-Society Relations and State Capabilities in The Third World. Princeton University Press
  24. Muslim, A., Kolopaking, L. M., Dharmawan, A. H., & Soetarto, E. (2015). Dinamika Peran Sosial Politik Ulama dan Jawara di Pandeglang Banten. MIMBAR: Jurnal Sosial Dan Pembangunan, 31(2), 461–474
  25. Padilla-Díaz, M. (2015). Phenomenology in Educational Qualitative Research: Philosophy as Science or Philosophical Science? International Journal of Educational Excellence, 1(2), 101–110. https://doi.org/10.18562/ijee.2015.0009
  26. Sadi, H. S. H. (2016). Kiyai dan politik: Mengintip motif kiai NU (Nahdlatul Ulama) dalam Pemilu 2009 di Glenmore Kabupaten Banyuwangi. Khazanah Pendidikan, 10(1)
  27. Sidel, J. T. (2005). Bossism and Democracy in the Philippines, Thailand and Indonesia: Towards an Alternative Framework for The Study of ‘Local Strongmen.’ In Politicising democracy (pp. 51–74). Springer
  28. Suharto. (2001). Banten in Revolution, 1451-1949: Process Integration In the Unitary State of the Republic of Indonesia. Universitas Indonesia
  29. Tihami, M. A. (1992). Kiyai dan Jawara in Banten: Study of Religion, Magic and Leadership in Pasanggrahan village. Universitas Indonesia

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.