DAMPAK RISIKO SECONDARY HAZARD DI SEKITAR BENCANA LUMPUR LAPINDO TERHADAP PERUBAHAN LINGKUNGAN

*Siti Nuurlaily Rukmana -  Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, Indonesia
Moch. Shofwan -  Universitas PGRI Adi Buana, Surabaya, Indonesia
Received: 18 Sep 2018; Published: 9 Jan 2019.
Open Access Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: ID
Full Text:
Statistics: 438 224
Abstract
Bencana lumpur berdampak pada lansekap wilayah Kabupaten Sidoarjo khususnya di Kecamatan Porong, Kecamatan Tanggulangin, dan Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo. Fenomen bencana lumpur yang terjadi pada tahun 2006 ternyata saat ini masih memberikan ancaman lanjutan (secondary hazards) pada lingkungan sekitarnya, seperti pencemaran air, amblesan tanah, dan lain-lain. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi dampak ancaman lanjutan (secondary hazard) terhadap lingkungannya dan dilanjutkan pada pola persebaran spasial wilayah terdampak dari risiko secondary hazards bencana lumpur di Kabupaten Sidoarjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan karakteristik bencana lumpur yang kemudian divisualkan secara spasial melalui pemetaan. Berdasarkan hasil analisis bahwa (1) risiko Secondary Hazards di kawasan luapan lumpur lapindo bervariatif diantaranya pencemaran air dan tanah, pencemaran udara, amblesan tanah dan perubahan mata pencaharian. Salah satunya pada pencemaran air yaitu berubahnya warna dan bau yang tidak sedap (2) Pencemaran air memiliki pola persebaran tersebar dan tertinggi. Hal ini disebabkan pencemaran air tidak diikuti oleh batas administrasi. satu titik sungai yang tercemar di sekitar luapan bencana lumpur akan berdampak pada sungai lainnya
Keywords
Lingkungan; Lumpur; Secondary hazards

Article Metrics:

  1. Abidin, H. Z., Kusuma, M. A., Andreas, H., Gamal, M., & Sumintadireja, P. (2009). GPS-Based Monitoring of Surface Displacements in the Mud Volcano Area , Sidoarjo , East Java, (May 2006).
  2. Akbari, A.M. dan Teguh H., 2011. Perhitungan Volume Semburan dan Sebaran Lumpur Sidoarjo Dengan Citra Ikonos Bulan Juni, Agustus, Oktober 2011. Teknik Geomatika FTSP-ITS Surabaya
  3. Arikunto, Suharsimi. (1998). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
  4. Arwananda, A. P. ; B. T. S. ; I. Z. A.-F. (2013). Analisa Waktu Daerah Rawan Luapan Lumpur Lapindo Radius 200 Meter Dari Bibir Tanggul Dengan Menggunakan Google Earth Dan Daft. Surabaya: ITS
  5. Batubara, B. (2012). Kronik Lumpur Lapindo. Yogyakarta:InsistPress
  6. BNPB. (2007). Undang-Undang RI No 24 Tahun 2007 (Vol. 111). Jakarta.
  7. Carter, W. . (2008). Disasater Management: A Disaster Manger’s Handbook. Manila: ADB.
  8. Davies, R. J., Brumm, M., Manga, M., Rubiandini, R., Swarbrick, R., & Tingay, M. (2008). The East Java mud volcano ( 2006 to present ): An earthquake or drilling trigger ? Earth and Planetary Science Letters, 272(3–4), 627–638. https://doi.org/10.1016/j.epsl.2008.05.029
  9. Dyah Pratiwi, R., & Laila Nugraha, A. (2016). Pemetaan Multi Bencana Kota Semarang. Jurnal Geodesi Undip Oktober, 5(4), 2337–2845.
  10. Lilesand.T.M.,W.Kiefer.,Chipman, J.W. (2004). Remote Sensing and Image Interpretation (fifth Edition). John Wiley & Sons,Inc, New York.
  11. Mazzini, A., Svensen, H., Akhmanov, G. G., Aloisi, G., & Planke, S. (2007). Triggering and dynamic evolution of the LUSI mud volcano , Indonesia, 261(May), 375–388. https://doi.org/10.1016/j.epsl.2007.07.001
  12. Mazzini, A., Etiope, G., Svensen, H., (2011). A New Hydrothermal Scenario for the 2006 LUSI Eruption, Indonesia. Insights From Gas Geochemistry. ScienceDirect. hal. 305-318.
  13. Mercer, Jessica, Ilan Kelman, Lorin Taranis and Sandie Suchet-Pearson. (2006). Framework for integrating indigenous and scientific knowledge for disaster risk reduction.http://web.mit.edu/.../Mercer-DRR-CC-Reiven..Diakses 12 Mei 2014
  14. Muta’ali, L. (2012). Daya Dukung Lingkungan untuk Perencanaan Pengembangan Wilayah. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
  15. Muta’ali, L. (2014). k Perencanaan Pengembangan Wilayah Berbasis Pengurangan Risiko Bencana. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
  16. Rumpopoy, A. T. (2006). Penanggulangan Lumpur Lapindo Sidoarjo. Surabaya.
  17. Smith, K., & Petley, D. N. (n.d.).1992. Environmental Hazards: Assessing Risk and Reducing Disaster (Fifth Edit). London and Newyork: Routledge.
  18. Sugiyono, 2013. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta .
  19. Tingay, M. 2010. Anatomy of the LUSI Mud Eruption, East Java. ASEG 2010. hal. 1-6
  20. Twigg, J. (2004). Good Practice Review:Disaster Risk Reduction.Mitigation and preparedness in development and emergency programming. London: Humanitarian Practice Network (HPN), Overseas Development Institute.
  21. Zen, M.T. 2009. Mengelola Risiko Bencana di Negara Maritim Indonesia. Bandung: Majelis Guru Besar Institut Teknologi