skip to main content

Representasi dari Faktor-Faktor Pembentuk Identitas Tempat pada Kampung Kemasan, Gresik

*Johannes Parlindungan Siregar orcid publons  -  Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia, Indonesia
Kartika Eka Sari  -  Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia, Indonesia
Ismi Mariami  -  Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Malang, Indonesia, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Cagar budaya merupakan aset terpenting masyarakat perkotaan yang tidak hanya berguna sebagai penegas keunikan sejarah dan budaya, tetapi juga sebagai potensi wisata. Cagar budaya dalam konteks lingkungan kampung memiliki kompleksitas yang berbeda dimana lingkungan bersejarah beririsan dengan lingkungan huni warganya. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan pembentukan identitas Kampung Kemasan sebagai kawasan bersejarah dan hunian penduduk. Kajian ini dilakukan dalam dua tahap, antara lain tahap analisis faktor untuk menentukan faktor-faktor pembentuk identitas tempat dan tahap analisis kualitatif untuk mengidentifikasi representasi dari faktor-faktor pembentuk identitas tersebut. Kajian ini menemukan lima faktor pembentuk identitas, antara lain interaksi individu dengan lingkungan kampung, karakter dan keunikan kampung, motivasi tinggal di kampung, keterikatan individu terhadap daya tarik kampung dan hubungan sosial. Faktor-faktor ini memiliki beberapa representasi, antara lain bangunan kuno dan narasi sejarah, kekerabatan, interaksi dalam kegiatan sosial budaya, pariwisata, kunjungan, kampung sebagai tempat tinggal dan kampung sebagai bagian dari kota modern. Kontribusi ilmiah dari kajian ini adalah temuan yang kontekstual dengan lingkungan sosial budaya pada Kampung Kemasan dan penerapan pendekatan analisis yang mixed antara analisis kuantitatif dan analisa kualitatif.

Fulltext View|Download
Keywords: Kampung Kemasan, Identitas Tempat, Analisis Faktor

Article Metrics:

  1. Akkar Ercan, M. (2017). ‘Evolving’or ‘lost’identity of a historic public space? The tale of Gençlik Park in Ankara. Journal of Urban Design, 22(4), 520–543. https://doi.org/10.1080/13574809.2016.1256192
  2. Cheshmehzangi, A. (2012). Identity and public realm. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 50, 307–317. https://doi.org/10.1016/j.sbspro.2012.08.036
  3. Ernawati, J. (2011). Faktor-faktor pembentuk identitas suatu tempat. Local Wisdom, 03(02), 01–09
  4. Ernawati, J. (2014). Hubungan aspek residensial dengan place identity dalam skala urban. Journal of Environmental Engineering and Sustainable Technology, 01(01)
  5. Fredheim, L. H., & Khalaf, M. (2016). The significance of values: Heritage value typologies re-examined. International Journal of Heritage Studies, 1–17. https://doi.org/https://doi.org/10.1080/13527258.2016.1171247
  6. Graham, B., Ashworth, G. J., & Tunbridge, J. E. (2000). A geography of heritage: Power, culture, and economy. Arnold; Oxford University Press
  7. Hall, S. (1996). Who needs “identity”? In S. Hall & P. Du Gay (Eds.), Questions of cultural identity (pp. 1–17). SAGE Publications, Inc
  8. Logan, W. (2002). Introduction: Globalization, cultural identity, and heritage. In W. S. Logan (Ed.), The disappearing Asian cities (pp. xiii–xxi). Oxford University Press
  9. Najd, M. D., Ismail, N. A., Maulan, S., Yunos, M. Y. M., & Niya, M. D. (2015). Visual preference dimensions of historic urban areas: The determinants for urban heritage conservation. Habitat International, 49, 115–125. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1016/j.habitatint.2015.05.003
  10. Relph, E. (1976). Place and placelessness. Pion London
  11. Saldana, J. (2013). The coding manual for qualitative researchers (Second). Sage publications
  12. Shepherd, R. (2002). Commodification, culture and tourism. Tourist Studies, 2(2), 183–201. https://doi.org/10.1177/146879702761936653
  13. Siregar, J. P. (2018). The meaning change of urban heritage: A socio-semiotic investigation of historic areas in Yogyakarta, Indonesia [Queensland University of Technology]. https://doi.org/10.5204/thesis.eprints.123709
  14. Siregar, J. P., & Rukmi, W. I. (2020). Rethinking the heritage value from different perspectives, case study in Yogyakarta. ICONARP International Journal of Architecture and Planning, 8(2), 498–517. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.15320/ICONARP.2020.124
  15. Tomlinson, J. (2012). Globalization and cultural identity. In M. B. Steger (Ed.), Globalization and Culture (Vol. 1, pp. 67–75). Edward Elgar Publishing Limited
  16. Tweed, C., & Sutherland, M. (2007). Built cultural heritage and sustainable urban development. Landscape and Urban Planning, 83(1), 62–69
  17. Vecco, M. (2010). A definition of cultural heritage: From the tangible to the intangible. Journal of Cultural Heritage, 11(3), 321–324. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.culher.2010.01.006
  18. Widodo, D. I. (2004). Grissee Tempo Doeloe. Pemerintah Kabupaten Gresik

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.