skip to main content

Pendekatan Livelihood Vulnerability Index (LVI) pada Kawasan Rawan Abrasi di Pantai Timur Minahasa, Sulawesi Utara

*Fela Warouw orcid  -  Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas SamRatulangi ; Kampus Bahu Manado 95115, Indonesia
I Nyoman Mahayana  -  Universitas SamRatulangi, Indonesia
Verry Lahamendu  -  Universitas SamRatulangi, Indonesia
Raymond Tarore  -  Universitas SamRatulangi, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki kerentanan tinggi terhadap abrasi pantai yang memengaruhi kondisi fisik, sosial, dan ekonomi masyarakat pesisir. Kawasan pesisir pantai timur Minahasa juga menghadapi masalah akibat perubahan garis pantai sehingga diperlukan upaya mitigasi bencana. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi sosial dan ekonomi masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir rawan abrasi dan arahan adaptasi pesisir untuk mengurangi tingkat kerentanan masyarakat. Metode deskriptif kuantitatif digunakan dengan tahapan analisis berupa perhitungan Indeks Abrasi (IA) dan Livelihood Vulnerability Index (LVI). Hasil penelitian menunjukkan seluruh desa pesisir berada pada berbagai tingkat kerentanan mulai dari rendah sampai sangat tinggi. Desa Parentek dan Makalisung diarahkan sebagai zona pemanfaatan adaptif karena abrasi moderat dan masyarakat memilih bertahan dengan syarat adanya penguatan kapasitas. Desa Tumpaan, Kapataran 1 L1, Kapataran 1 L2, Karor, dan Lalumpe ditetapkan sebagai zona pemanfaatan terkendali karena kerentanan sosial-ekonomi tinggi meskipun warga tetap ingin bermukim. Sementara itu, Atep Oki dan Ranowangko 2 diarahkan ke zona pemanfaatan terbatas karena nilai IKG mendekati tinggi dan masyarakat menekankan kebutuhan proteksi ruang. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan data kerentanan dan preferensi masyarakat dalam penataan ruang pesisir yang adaptif dan berkelanjutan.
Keywords: Abrasi, Perubahan Garis Pantai, Dampak Sosial Ekonomi, Livelihood Vulnerability Index, Pesisir Tondano
Funding: Universitas SamRatulangi

Article Metrics:

  1. Adger, W. N. (2003). Social Capital, Collective Action, and Adaptation to Climate Change. Economic Geography, 79(4), 387–404
  2. Amuzu, J., & Kabo-bah, A. T. (2018). Households’ Livelihood Vulnerability to Climate Change and Climate Variability: A Case Study of the Coastal Zone, The Gambia. Journal of Environment and Earth Science, 8(1), 35–46
  3. Arief, M., Winarso, G., & Prayogo, T. (2011). Kajian Perubahan Garis Pantai Menggunakan Data Satelit Landsat di Kabupaten Kendal. Jurnal Penginderaan Jauh, 8(1), 71–80
  4. Cutter, S. L., Boruff, B. J., & Shirley, W. L. (2008). Social Vulnerability to Environmental Hazards. Social Science Quarterly, 89(2), 242–261
  5. Damaywanti, K. (2013). Dampak Abrasi Pantai terhadap Lingkungan Sosial (Studi Kasus di Desa Bedono, Sayung, Demak). Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 363–367
  6. Dauhan S.K., Tawas H., et all. (2013). Analisis Karakteristik Gelombang Pecah Terhadap Perubahan Garis Pantai di Atep Oki. Jurnal Sipil Statik, 1(12), 784-796
  7. Dewiyanti, S., Ma’ruf, A., & Indriyani, L. (2019). Adaptasi Nelayan Bajau terhadap Dampak Perubahan Iklim di Pesisir Soropia Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Ecogreen, 5 (1), 23–29. http://ojs.uho.ac.id/index.php/green/article/view/4796
  8. Dolan, A. H., & Walker, I. J. (2006). Understanding Vulnerability of Coastal Communities to Climate Change Related Risks, 2004(39), 1317–1324
  9. Febriarta, E., Marfai, M. A., Hizbaron, D. R., & Larasati, A. (2020). Kajian Spasial Multi Kriteria DRASTIC Kerentanan Air Tanah Pesisir Akuifer Batugamping di Tanjungbumi Madura. Jurnal Ilmu Lingkungan, 18(3), 476–487
  10. Hahn, M. B., Riederer, A. M., & Foster, S. O. (2009). The Livelihood Vulnerability Index: A Pragmatic Approach to Assessing Risks from Climate Variability and Change - A Case Study in Mozambique. Global Environmental Change, 19(1), 74–88. https://doi.org/10.1016/j.gloenvcha.2008.11.002
  11. IPCC. (2007). Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Cambridge: Cambridge University Press
  12. IPCC. (2014). Climate Change 2014: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Cambridge: Cambridge University Press
  13. Ismiyanti, D., & Buchori, I. (2021). Dampak Abrasi terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Kecamatan Kedung, Jepara. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 17(3), 251–265. https://doi.org/10.14710/pwk.17.3.251-265
  14. Jones, R.N. An Environmental Risk Assessment/Management Framework for Climate Change Impact Assessments. Natural Hazards 23, 197–230 (2001). https://doi.org/10.1023/A:1011148019213
  15. Lee, T. D. N. (2020). Climate Adaptation in Coastal Cities of Developing Countries: Characterizing Types of Vulnerability and Adaptation Options. Mitigation and Adaptation Strategies for Global Change, 25(5), 739-761. https://doi.org/10.1007/s11027-019-09888-z
  16. Magnan, A.K., Oppenheimer, M., Garschagen, M. et al. (2022). Sea Level Rise Risks and Societal Adaptation Benefits in Low-Lying Coastal Areas. Sci Rep 12, 10677. https://doi.org/10.1038/s41598-022-14303-w
  17. Mahayana, I. N., Sangkertadi, & Karongkong, H. H. (2025). Dampak perubahan garis pantai akibat abrasi terhadap sosial ekonomi masyarakat Kecamatan Bolaang Uki. Skripsi, Universitas Sam Ratulangi
  18. Newman, D.G., Qiao, Z. (2022). Landscape Architecture for Sea Level Rise, Innovative Global Solutions, New York Routledge, 1st Edition, 136-143
  19. Nicholls, R. J., Wong, P. P., Burkett, V. R., et al. (2007). Coastal Systems and Low-Lying Areas. IPCC Fourth Assessment Report
  20. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2018 tentang Penetapan Batas Sempadan Pantai
  21. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 tentang Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  22. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  23. Tampi S.Q., Tawas, H.J., Tangkudung, N.J.A. (2023). Analisis Sistem Pantai Di Kabupaten Minahasa. Jurnal TEKNO, 21(86), 2091-210. https://doi.org/10.35793/jts.v21i86.52882
  24. Ulfa, M. (2018). Persepsi Masyarakat Nelayan dalam Menghadapi Perubahan Iklim (Ditinjau dalam Aspek Sosial Ekonomi). Jurnal Pendidikan Geografi: Kajian, Teori, Dan Praktik Dalam Bidang Pendidikan Dan Ilmu Geografi, 23(1), 5. https://doi.org/https://doi.org/10.17977/um017v23i12018p041
  25. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
  26. Vinata R.T., Kumala, M.T., Serfiyani, C.Y. (2023). Climate Change and Reconstruction of Indonesia’s Geographic Baselines: Reconfiguration of Baselines and Indonesian Archipelagic Sea lanes. Marine Policy, 148 (105443), ISSN 0308-597X, https://doi.org/10.1016/j.marpol.2022.105443
  27. Warouw, F., Rondonuwu, D.M., Sondakh, J.R. (2024). Study of The Impact of Coastline Changes on Coastal Settlement Along the East Coast of Minahasa. Devotion: Journal of Research and Community Service, 5(2), 203-212. https://doi.org/10.59188/devotion.v5i2.681

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-06-02 22:45:47

No citation recorded.