EKSTRAKSI TANNIN SEBAGAI BAHAN PEWARNA ALAMI DARI TANAMAN PUTRIMALU (MIMOSA PUDICA) MENGGUNAKAN PELARUT ORGANIK

*Tjukup Marnoto  -  Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Indonesia
Gogot Haryono  -  Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Indonesia
Dewi Gustinah  -  Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Indonesia
Fendy Artha Putra  -  Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Indonesia
Published: 19 Apr 2012.
Open Access

Citation Format:
Article Info
Section: Research Article
Language: EN
Full Text:
Statistics: 8119 12604
Abstract

EXTRACTION OF TANNINS AS NATURAL DYES FROM PUTRIMALU (MIMOSA PUDICA) PLANT USING VARIOUS ORGANIC SOLVENTS. Public awareness on using natural dyes has encouraged the extraction of tannins from putrimalu. Extraction was performed continuously using a Soxhlet apparatus. The parameter studied was the influence of solvent polarity on the amount of tannin and mass transfer coefficient. Tannin was extracted from ten grams of dried putrimalu plants using polar solvents (ethanol, acetone and methanol) and a non-polar solvent (n-hexane). Extraction is considered complete when the concentration of tannins in the liquid is no longer changing with time. Liquid samples were withdrawn every 20 minutes interval for tannin analyses using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the maximum concentration of tannins in the extract (g/mL) when extraction were performed using n-hexane was 0.0031, acetone (0.016), methanol (0.0274) and ethanol (0.044). From extract yield and mass transfer coefficient point of views, it can be concluded that the best solvent is ethanol. The relationship between tannin concentration in the ethanol 96% solvent and the time was expressed in term of mathematical equations             CAL=1.046(1-e-0.0213t) with error was 3.6%. Where CAL is the concentration of tannins in the solvent (g/ml) and t is the extraction time (minutes).

 

 

Kesadaran masyarakat untuk kembali menggunakan bahan pewarna alami mendorong dilakukannya ekstraksi tannin dari putrimalu. Ekstraksi dilakukan secara kontinyu menggunakan alat Soxhlet. Parameter yang dipelajari adalah pengaruh polaritas pelarut terhadap ekstrak tannin dan koefisien transfer massa. Tannin diekstrak dari sepuluh gram tanaman putrimalu kering menggunakan pelarut polar (etanol, aseton dan metanol) dan pelarut non-polar n-heksana. Ekstraksi dianggap selesai jika konsentrasi tannin di dalam pelarut sudah tidak berubah. Tannin di dalam contoh cairan yang diambil setiap selang waktu 20 menit  dianalisis menggunakan Thin Layer Chromatography (TLC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi tannin maksimum (g/mL) yang terdapat dalam larutan yang mengandung ekstrak jika ekstraksi menggunakan n-heksana adalah 0,0031, aseton (0,016), metanol (0,0274) dan etanol (0,044). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditinjau dari perolehan ekstrak dan koefieisen perpindahan massa, maka pelarut yang terbaik adalah etanol. Hubungan antara konsentrasi tannin di dalam pelarut etanol 96% dan waktu dinyatakan dengan persamaan matematika: CAL=1,046(1-e-0,0213.t) dengan kesalahan 3,6%. Dimana CAL adalah konsentrasi tannin dalam pelarut (g/mL) dan t adalah waktu ekstraksi (menit)

Keywords
ekstraksi; pemodelan; pelarut organik; soxhlet

Article Metrics: