skip to main content

Potensi Karbon Biru Pesisir Kalimantan Barat

Ayunda Annisa Putri  -  Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura, Indonesia
*Aji Ali Akbar  -  Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura, Indonesia
Romiyanto Romiyanto  -  Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura, Indonesia
Dian Rahayu Jati  -  Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura, Indonesia
Ochih Saziati  -  Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Tanjungpura, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2023 Buletin Oseanografi Marina under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Potensi karbon biru (blue carbon) di pesisir Kalimantan Barat terdapat pada ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ketiga ekosistem ini tersebar di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Mempawah, Kubu Raya, Ketapang dan Kota Singkawang. Penelitian ini bertujuan mengetahui luas dan keanekaragaman jenis ekosistem pesisir terkait dengan potensi karbon biru. Metode non-destruktif digunakan untuk mengkaji kemampuan ekosistem pesisir dalam menyerap karbon. Mangrove didominasi jenis didominasi oleh Rhizophora spp., Avicennia spp. Bruguiera spp., Sonneratia alba, Excoeacaria agallocha, dan Nypa fruticans. Padang lamun didominasi jenis Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides, sementara terumbu karang didominasi jenis Porites spp. dan Montipora spp. Estimasi serapan karbon terbesar berada di Kubu Raya sebesar 0,026 PgC (0,095 PgCO2e) dan yang terkecil berada di Kota Singkawang sebesar 0,000032 PgC (0,00012 PgCO2e). Penelitian ini mengungkap bahwa kemampuan serapan karbon berbanding lurus dengan luas ekosistem pesisir. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem yang memiliki kemampuan dalam menyerap karbon, daripada ekosistem lamun dan terumbu karang. Upaya antropegenik memperparah degradasi ekosistem di pesisir Kalimantan Barat.

 

The potency of blue carbon in the West Kalimantan is found in mangroves, seagrass beds, and coral reefs ecosystem. Sambas, Bengkayang, Mempawah, Kubu Raya, Ketapang, and Singkawang regencies coastal had a big potential blue carbon. This study aims to estimate the potential of blue carbon on coastal ecosystems diversity. This research was applying a non-destructive method to quantify the carbon sequestration of the ecosystems. Rhizophora spp., Avicennia spp, dominates mangrove, in Kalimantan Barat. Bruguiera spp., Sonneratia alba, Excoeacaria agallocha, dan Nypa fruticans, for mangroves, Thalassia hemprichii and Enhalus acoroides for seagrass and Porites spp. and Montipora spp, for coral reefs.  The most extensive estimated carbon sequestration is in Kubu Raya regency with 0.026 PgC (0.095 PgCO2e), and the smallest one is in the  Singkawang regency with 0.000032 PgC/ha (0.00012 PgCO2e/ha). Based on this research, it is observed that the ability of carbon sequestration is directly influenced by the coverage area of the coastal ecosystem, especially the mangrove forest which are dynamic due to anthropogenic activities. 

 

Fulltext View|Download
Keywords: Mangrove; lamun; karang; non-destruktif; pesisir
Funding: DIPA Universitas Tanjungpura kontrak No. 4566/UN22.4/KU/ 2022 tanggal 14 Juni 2022

Article Metrics:

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-02-22 13:14:03

No citation recorded.