PENERAPAN METODE PENGAJARAN KOMUNIKATIF DALAM PENGAJARAN “ENGLISH FOR TRAFFIC” UNTUK ANGGOTA POLISI POLRESTABES KOTA SEMARANG

*Ayu Ida Savitri -  Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Indonesia
Wiwiek Sundari -  Jurusan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 10 Nov 2017.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: INDONESIA
Full Text:
Statistics: 117 49
Abstract

Mengajarkan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua (English as a Second Language atau TESL) kepada orang dewasa yang mempelajari Bahasa Inggris untuk kesekian kalinya namun          tidak menggunakannya di dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi hal yang menantang bagi para pengajar ESL, khususnya pada saat mengajarkan Keterampilan Berbicara menggunakan Bahasa Inggris karena mereka masih mengalami hambatan dalam menggunakan Bahasa Inggris dalam berbicara. Mereka harus mengenal berbagai kosakata baru dalam Bahasa Inggris dengan ejaan dan pelafalan yang berbeda dengan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama setelah bahasa daerah sebagai bahasa ibu mereka, memahami maknanya, dan menggunakannya dalam percakapan. Selain itu, mereka juga harus mengetahui dan dapat menggunakan berbagai kala yang digunakan pada saat berbicara. Kompetensi Komunikatif atau KK dari pembelajar ESL merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan mereka memelajari ESL. Untuk memperluas  KK dari Chomsky (1965) yang dipandang terlalu sempit, Hymes (1967; 1972), meyatakan bahwa KK merupakan kompetensi yang memampukan seseorang untuk menyampaikan dan memahami pesan dalam sebuah percakapan dan menegosiasikan makna pesan tersebut secara interpersonal dalam konteks tertentu. Selanjutnya, Savignon (1983:9) menyatakan bahwa KK bersifat relatif karena bergantung pada kerjasama partisipan percakapan. KK dibedakan menjadi Kompetensi Linguistik yang berkaitan dengan bentuk bahasa dan Kompetensi Komunikatif itu sendiri yang berkaitan dengan pengetahuan seseorang yang memampukannya berkomunikasi secara fungsional dan interaktif. Ancangan tersebut kami gunakan untuk mengajarkan ESL kepada tujuh belas staf Polrestabes Semarang, yang menitikberatkan pada keterampilan berbicara menggunakan Bahasa Inggris dalam melayani wisatawan asing yang berkunjung ke Kota Semarang pada saat mereka berlalu-lintas. Ancangan tersebut kami pilih karena mereka menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua pada saat bertugas di lapangan secara langsung tanpa harus memikirkan bentuk bahasa yang baik dan benar terlebih dahulu sebelum berbicara karena kejadian di lapangan dapat terjadi sangat cepat dan memerlukan penanganan yang cepat pula. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu menggunakan KK mereka dalam Berbahasa Inggris pada saat lawan bicara mereka (dalam permainan peran)       juga bekerjasama dalam hal memahami dan bertukar pesan sederhana dalam Bahasa Inggris.

 

Kata Kunci: Bahasa Inggris sebagai Bahasa Kedua (ESL), Kompetensi Komunikatif (Communicative Competence). 

Article Metrics:

  1. DAFTAR PUSTAKA
  2. Brown, Douglas. 2000. Principles of Language Learning and Teaching. New York: Longman.
  3. Chomsky, Noam. 1965. Aspects of the Theory of Syntax. Cambrigdge: M.I.T. Press
  4. Cummins. James. 1979. ‘Cognitive/Academic Language Proficiency, Linguistics Interdepence, the Optimal Age Question and some other matters.’ Working Papers on Billingualism 19: 197-205
  5. Cummins. James. 1980. The cross-lingual dimension of language proficiency: implication for bilingual educationand the optimal age issues. TESOL Quarterly 14: 175-187.
  6. Hymes, Dell. 1967. On communicative competence. Unpublished manuscript, University of Pennsylvania
  7. Hymes, Dell. 1972. On communicative competence. In Pride & Holmes1972
  8. Savignon, Sandra. 1983. Communicative Competence: Theory and Classroom Practice. Reading, MA:Addison-Wesley
  9. Yalden, Janice. 1987. The Communicative Syllabus. London: Prentice-Hall international.