PEMBELAJARAN PENERJEMAHAN FOLKLOR UNTUK PENGEMBANGAN PARIWISATA DI SMK NEGERI 6 SEMARANG

*Siswo Harsono -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 23 May 2019; Published: 15 Jul 2019.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: EN
Full Text:
Statistics: 51 13
Abstract

ABSTRAK

 

Artikel ini berkenaan dengan penerjemahan folklor untuk pengembangan pariwisata di SMK Negeri 6 Semarang. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji peran penerjemahan dalam pariwisata yang diterapan untuk para siswa SMK. Teori yang diterapkan adalah teori folklor dan teori penerjemahan. Metode yang diterapkan adalam metode penerjemahan tribahasa. Temuan yang diperoleh antara lain bahwa semua peserta bisa berbahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris, sehingga dapat mempraktikkan penerjemahan folklore tribahasa dari bahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Dapat disimpulkan bahwa penerjemahan folklor tribahasa cukup efektif diterapkan dalam pengembangan pariwisata terutama bagi masyarakat yang bahasa ibunya bahasa Jawa. Dengan demikian, folklor bahasa Jawa yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dapat meningkatkan kunjungan wisatawan domestik, dan yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara.

Kata kunci:  folklor; penerjemahan tribahasa, pengembangan pariwisatai.

 

ABSTRACT

 

This article deals with the translation of folklore for the development of tourism at Semarang State Vocational High School 6. The purpose of this article is to examine the role of translation in tourism applied to vocational students. The theory applied is folklore theory and translation theory. The method applied is the method of translating tribahasa. The findings obtained include that all participants could speak Javanese, Indonesian and English, so that they could practice translating tribahasa folklore from Javanese into Indonesian and English. It can be concluded that the translation of tribahasa folklore is quite effective in the development of tourism, especially for people whose native language is Javanese. Thus, Javanese folklore translated into Indonesian can increase domestic tourist visits, and translated into English can increase foreign tourist visits.

Keywords: folklore; trilingual translation, tourism development.

Article Metrics:

  1. DAFTAR PUSTAKA
  2. “Asal Usul Kota Jepara Dalam Bahasa Jawa.” October 21st 2017. .
  3. Charlotte Hoffmann and Jehannes Ytsma, eds. Trilingualism in Family, School and Community. Toronto, Multilingual Matters, Ltd., 2004.
  4. Elisabeth Dutton, John Hines and R.F. Yeager, eds. John Gower Trilingual Poet: Language, Translation, and Tradition. Cambridge: D.S. Brewer, 2010. 2.
  5. Harsono, Siswo, & Atrinawati. "Pembuatan Buklet Tribahasa untuk Promosi Pariwisata di Desa Wisata Kandri." Harmoni [Online], 1.1 (2017): n. pag. Web. 21 Feb. 2019.
  6. Harsono, Siswo. "Manfaat Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Folklor untuk Pengembangan Pariwisata." Harmoni [On line], 2.2 (2018): n. pag. Web. 21 Feb. 2019.
  7. Harsono, Siswo. "Pembelajaran Penerjemahan Melalui Folklor untuk Pengembangan Pariwisata." Harmoni [Online], 2.1 (2018): n. pag. Web. 21 Feb. 2019.
  8. Harsono, Siswo. “English Writing and Translation of Local Folklore to Develop Local Tourism in Tegal Sambi Village, Tahunan District, Jepara Regency.” Advanced Science Letters 24 (12), 9788-9790.
  9. Harsono, Siswo. “Trilingual Translation to Maintain and Develop Local Language and Culture.” International Journal of Current Advanced Research, 07(5), pp. 12466-12468. DOI: http://dx.doi.org/10.24327/ijcar.2018.12468.2193.
  10. Harsono, Siswo. Basic Translation. (2009). http://eprints.undip.ac.id/27608/1/014 7-ba-fs-2009.pdf
  11. Wendy S. Francis and Sabrina L.K. Gallard. “Concept mediation in trilingual translation: Evidence from response time and repetition priming patterns”. Psychonomic Bulletin & Review 2015, 12 (6), 1082-1088