skip to main content

MNEMONIC DEVICE (KALENDER) UNTUK PENGAYAAN LITERASI MUSIM MENUJU SUMBA BARAT DAYA YANG BERDAULAT PANGAN

Paschalis Maria Laksono  -  Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Wisma Nugraha Christianto R.  -  Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Arif Wahyu Widada orcid  -  Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
*Esti Anantasari orcid scopus  -  Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Inda Marlina  -  Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Olga Aurora Nandiswara  -  Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Natasha Devanand Dhanwani  -  Pusat Studi Asia Pasifik, Universitas Gadjah Mada, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2021 HUMANIKA under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Kedaulatan pangan adalah solusi bagi kelaparan. Namun demikian di Sumba Barat Daya, kondisi lapar tersebut berkelindan menyatu dengan perubahan kondisi alam, sosial, ekonomi, dan budaya. Pengadaan dan kecukupan pangan pun dibayangkan bertautan dengan kebutuhan untuk memenuhi kontrak-kontrak sosial dalam komunitas setempat, yaitu dengan moralitas yang ditampilkan melalui rangkaian ritual daur hidup sepanjang tahun. Kelindan pengadaan pangan, yang utamanya lewat kegiatan pertanian dan peternakan, dengan rangkaian kegiatan ritual ini diperlukan penataan agar hidup lebih terorganisir dan adaptif terhadap perubahan lingkungan. Kelindan ini secara tradisional telah diantisipasi menggunakan berbagai macam media. Salah satu di antaranya adalah kalender musim yang di Sumba Barat Daya dan banyak tempat lain sudah terabaikan. Oleh karena itu, artikel ini menyajikan aplikasi kalender musim sebagai mnemonic device yang dapat membantu petani, untuk menemukenali kembali jiwa alam sehingga mereka dapat bertani selaras dengan irama alam. Selain itu, kalender musim menjadi sarana pencatatan mengenai tanda-tanda alam yang selama ini samar, sehingga petani mampu menyeimbangkan diri antara kepentingan pemenuhan komoditas dan juga pemenuhan kebutuhan hidupnya. Secara partisipatoris penelitian dilakukan selama tiga tahun, yaitu tahun pertama menghasilkan identifikasi masalah; tahun kedua menghasilkan rumusan model kedaulatan pangan, dan tahun ketiga berisi rangkaian workshop uji coba model. Artikel ini khusus mengulas bagaimana model kedaulatan pangan yang berupa mnemonic device itu diperkaya melalui serangkaian workshop, yang diikuti para pemangku kepentingan di Sumba Barat Daya serta komunitas mahasiswa Sumba yang ada di Yogyakarta. Pengayaan kalender musim ini diharapkan mempermudah serta memperluas aksesibilitas penggunanya secara lintas gender, usia, dan strata sosial. Apresiasi kalender musim akan menjamin petani insaf akan pentingnya mendahulukan kedaulatan pangan daripada gengsi sosial.

Fulltext View|Download
Keywords: Kedaulatan Pangan; Kelaparan; mnemonic device; Kalender (tata waktu) Musim
Funding: Universitas Gajah Mada under contract MU123123)

Article Metrics:

  1. Campesina, European Coordination Via. 2018. Food Sovereignty Now!: A Guide to Food Sovereignty. https://viacampesina.org/en/wp-content/uploads/sites/2/2018/02/Food-Sovereignty-A-guide-Low-Res-Vresion.pdf
  2. Daldjoeni, N. (1984). 3. Pranatamangsa, the Javanese agricultural calendar — its bioclimatological and sociocultural function in developing rural life. In The Environmentalist (Vol. 4, pp. 15–18). https://doi.org/10.1016/s0251-1088(84)90172-4
  3. Gunawan. (2017). Anut Grubyuk: Ramai-Ramai Petani Gunungkidul Menghadapi Proyek Penanaman Jarak Pagar [Universitas Gadjah Mada]. http://etd.repository.ugm.ac.id/pene litian/detail/113589
  4. Kemmis, S. dan McTaggart, R. (2005) “Participatory Action Research: Communicative Action and the Public Sphere”. In: Denzin, N. and Lincoln, Y., Eds., The Sage Handbook of Qualitative Research, 3rd Edition, Sage, Thousand Oaks, 559-603
  5. Kimura, A. H. (2013). Hidden Hunger: Gender and the Politics of Smarter Foods. Cornell University Press
  6. Laksono, P. M. (2017). “The Adat Contributions for the Villages to Develop Independently: Cases from the Kei Islands, Southeast Maluku Regency”. Humaniora, 28(3), 254–264
  7. Laksono, P.M. (2018). “Pelatihan dan Pembelajaran Metode Riset Aksi Partisipatoris Untuk Pemajuan Kebudayaan.” Bakti Budaya, 131-142
  8. Lappé, F. M., Collins, J., & Rosset, P. (1997). World Hunger: 12 Myths. Earthscan
  9. Levi-Strauss, C. (1963). Totemism (Translated by Rodney Needham). Beacon Press. Boston
  10. Pimbert, M.P. (2008). Towards Food Sovereignty: Reclaiming Autonomous Food Systems. https://www.researchgate.net/publication/242513559_Towards_Food_Sovereignty_Reclaiming_Autonomous_Food_Syste
  11. Rosset, P. (2011). “Food Sovereignty and Alternative Paradigms to Confront Land Grabbing and the Food and Climate Crises”. In Development (Vol. 54, Issue 1, pp. 21–30). https://doi.org/10.1057/dev.2010.102
  12. Siegel, James T. (1993). Solo in the New Order: Language and Hierarchy in an Indonesian City. Princeton University Press
  13. Turner, Victor. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti- Structure. Chicago: Aldine
  14. UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan [JDIH BPK RI]. (n.d.). Retrieved January 29, 2021, from https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/39100

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.