skip to main content

PERANAN SANDUR KEMBANG DESA DALAM PELESTARIAN KESENIAN SANDUR DI BOJONEGORO, JAWA TIMUR

Elvin Nuril Firdaus  -  Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Indonesia
*Sony Sukmawan  -  Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2021 HUMANIKA under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Sandur merupakan seni pertunjukan tradisional yang tumbuh dan berkembang di wilayah masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang memenuhi kebutuhan hidupnya bersumber dari produksi dan pemeliharaan tanaman dan pertanian. Sandur mengisahkan tentang kehidupan masyarakat agraris, interaksi antarmasyarakat, bercocok tanam, hingga transisi masyarakat agraris menuju masyarakat urban. Salah satu daerah tempt berkembangnya Sandur adalah Bojonegoro. Sandur pernah mencapai masa kejayaannya di Bojonegoro. Seiring berjalannya waktu, Sandur dianggap kurang relevan dengan kehidupan masyarakat modern karena tidak ada penyesuaian dengan perkembangan zaman dan tidak ada regenerasi. Hal tersebut ditambah dengan hantaman modernisasi yang semakin memperburuk keadaan. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan upaya pelestarian Sandur melalui kelompok Sandur Kembang Desa, yaitu sekelompok pemuda yang mempertahankan kesenian Sandur dengan cara menginovasi cerita dalam Sandur agar dapat diterima masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Desa Ledok Kulon, Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui teknik wawancara tidak terstruktur dan observasi nonpartisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi Sandur terancam punah karena tidak adanya regenerasi dan ceritanya yang dianggap kurang relevan dengan kehidupan masyarakat modern. Hal tersebut menjadikan minat masyarakat terhadap kesenian Sandur semakin berkurang. Sandur Kembang Desa merupakan kelompok kesenian yang menginovasi Sandur di tengah pola kehidupan masyarakat yang bergeser mengikuti arus modernisasi. Inovasi Sandur Kembang Desa terinspirasi dari gaya hidup masyarakat modern, sehingga pertunjukannya mampu menarik perhatian masyarakat. Nilai-nilai yang diangkat dalam cerita Sandur Kembang Desa merupakan nilai-nilai yang relevan dengan masyarakat modern, tanpa mengubah nilai-nilai tradisional Sandur. Adanya inovasi dari Sandur Kembang Desa diharapkan mampu mempertahankan eksistensi Sandur di tengah perkembangan budaya modern.

Fulltext View|Download
Keywords: Sandur Kembang Desa; Seni Pertunjukan; Inovasi Kesenian Tradisional; Masyarakat Modern

Article Metrics:

  1. Andri, L. (2016). Seni Pertunjukan Tradisional di Persimpangan Zaman: Studi Kasus Kesenian Menak Koncer Sumowono Semarang. Humanika, 23(2), 25-31. doi: https://doi.org/10.14710/humanika.v23i2.13642
  2. Anoegrajekti, N. (2014). Janger Banyuwangi dan Menakjinggo: Revitalisasi Budaya. LITERASI, 4(1), 116-127
  3. Herfidiyanti, N. M. (2014). Seni Sandur Ronggo Budoyo Tahun 1990-2014. AVATARA: e-Journal Pendidikan Sejarah, 2(3), 155-168
  4. Khusnawiyah, W. (2019). Fungsi Kesenian Sandur Kembang Desa pada Upacara Haul Ki Andong Sari Bagi Masyarakat Ledok Kulon Bojonegoro. Doctoral dissertation, INSTITUS SENI INDONESIA (ISI) SURAKARTA
  5. Kriyanto, R. (2015). Public Relations, Issue & Crisis Management: Pendekatan Critical Public Relation, Etnografi kritis, & Kualitatif (Kedua ed.). Jakarta: Penerbit Kencana
  6. Kurniawan, A. &. (2010). Menggelar Pertunjukan Seni Teater. Jakarta: Multi Kreasi Satudelapan
  7. Mukaromah, R., & Puspito, P. (2021). Makna Simbolik dan Nilai-nilai Moral Kesenian Sandur di Desa Sukorejo Kecamatan Parengan Kabupaten Tuban. APRON: Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan, 2(16)
  8. Mulyadi, M. (2015). Perubahan Sosial Masyarakat Agraris ke Masyarakat Industri dalam Pembangunan Masyarakat di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Jurnal Bina Praja, 7(4), 311-322. doi: https://doi.org/10.21787/jbp.07.2015.311-321
  9. Neonbasu, G. (2020). Sketsa Dasar: Mengenal Manusia dan Masyarakat (Pintu Masuk Ilmu Antropologi). Jakarta: Penerbit Buku Kompas
  10. Prihatsanti, U. d. (2018). Menggunakan Studi Kasus sebagai Metode Ilmiah dalam Psikologi. Buletin Psikologi, 26(2), 126-136. doi: 10.22146/buletinpsikologi.38895
  11. Rachman, M. (2012). Konservasi Nilai dan Warisan Budaya. IJC: Indonesian Journal of Conservation, 1(1), 30-39
  12. Ratuwalu, B. (2016). Transisi Masyarakat Agraris Menuju Masyarakat Industrial Indonesia. Journal of Industrial Engineering, 1(2). doi: http://dx.doi.org/10.33021/jie.v1i2.343
  13. Rohmat, &. D. (2017). Pertunjukan Sandhur Tuban: Refleksi Peralihan Masyarakat Agraris Menuju Budaya Urban. Panggung, 27(1), 74-86. doi: http://dx.doi.org/10.26742/panggung.v27i1.236
  14. Rokhim, N. (2018). Inovasi Kesenian Rakyat Kuda Lumping di Desa Gandu, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Greget: Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Tari, 17(1), 83-90. doi: https://doi.org/10.33153/grt.v17i1.2299
  15. Suryo, D. (2009). Transformasi Masyarakat Indonesia dalam Historiografi Indonesia Modern. Yogyakarta: STPN Press
  16. Tjaturrini, D. (2018). Celengsai: Kreativitas dan Inovasi Pekerja Seni dalam Mempertahankan Kesenian Tradisional. Jurnal Ilmiah Lingua Idea, 9(2). Diakses Desember 16, 2020, from http://jos.unsoed.ac.id/index.php/jli/article/view/1171

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.