Melihat Kondisi Kesetimbangan Ekologi Terumbu Karang di Pulau Sempu, Malang Menggunakan Pendekatan Luasan Koloni Karang Keras (Scleractinia)

DOI: https://doi.org/10.14710/jil.16.1.1-8

Article Metrics: (Click on the Metric tab below to see the detail)

Article Info
Submitted: 30-01-2018
Published: 10-06-2018
Section: Research Article
Fulltext PDF Tell your colleagues Email the author

ABSTRAK

Pulau Sempu adalah satu-satunya cagar alam yang berada di Kabupaten Malang yang memiliki terumbu karang dengan luasan kurang dari 10 ha yang mampu bertahan dari banyaknya ancaman yang berpotensi merusaknya. Faktor lingkungan secara alamiah telah menyeleksi keanekaragaman diwilayah perairan P. Sempu, yakni hanya 9 life form karang keras yang berperan sebagai penyangga ekosistem terumbu karang di wilayah ini. Mengetahui distribusi ukuran koloni karang sama pentingnya mengetahui umur koloni karang keras untuk melihat kondisi ekosistem terumbu karang pada suatu perairan. Klas frekuensi koloni karang keras akan memberikan informasi mengenai kemampuan kompetisi, masa pubersitas dan tentu kemampuan regenerasi. Pengambilan data luasan karang dilakukan di 4 stasium (Watu Mejo 1, Watu Mejo 2, Teluk Semut 1 dan Teluk Semut 2) menggunakan kuadrat transek 1 x 1 m sepanjang 50 m pada kedalaman 5m. Berdasarkan penelitian didapatkan luasan total tertinggi pada Acropora Branching (ACB) adalah 145.811,67 cm2 dan terenda pada karang jamur (CMR) 414,35 cm2. Life form karang dapat dijadikan rujukan awal menilai kesehatan ekosistem terumbu karang. Dominan karang dengan life form massive dapat diartikan kawasan tersebut memiliki kondisi lingkungan yang penuh tekanan semisal sedimentasi tinggi, arus kuat maupun sering terekspos udara. Ukuran karang di P. Sempu rerata menunjukkan > 5 cm2 yang berarti sudah dewasa dan mampu melakukan reproduksi, sedangkan rekruitmen sangat rendah dengan indikasi sedikitnya jumlah luasan karang kurang dari 4 cm2.

Kata kunci: cagar alam, bentuk pertumbuhan, reproduksi, konservasi, karang keras

ABSTRACT

The abundance of coral reef in Sempu Island nature reserve was under 10 ha, in which they were a winner from environment and human threats. The environment has big role to select scleractinian coral in this area that resulted 9 coral life form as the main foundation of coral reef in Sempu nature reserve area. Knowing the coral size distribution as important to know of coral age in term determining the health of coral reef ecosystem. Class frequency of colony size gave the key information of coral competition, puberty and regeneration ability. We choose 4 station (Watu Mejo 1, Watu Mejo 2, Teluk Semut 1 dan Teluk Semut 2) to take data. Data colony size was taken by 1 x1 m quadrat along 50 m in 5 m depth. The highest colony size was Acropora branching (ACB) about 145,811.67 cm2 and the lowest one was mushroom coral (CMR) about 414.35 cm2. Life form of coral can be early detection of coral reef health. Dominance of massive coral means the coral reef under the high sedimentation, strong current or exposed by air frequently. The coral colony size in Sempu nature reserve showed > 5 cm2 that indicate they were in maturity and have capability for reproduction but the coral recruitment was very low due to few number of coral has less than 4 cm2 in colony size.

Keywords: nature reserve, life form, reproduction, conservation, coral

Citation: Luthfi, O.M., Rahmadita, V.L., dan Setyohadi, D. (2018). Melihat Kondisi Kesetimbangan Ekologi Terumbu Karang di Pulau Sempu, Malang Menggunakan Pendekatan Luasan Koloni Karang Keras (Scleractinia). Jurnal Ilmu Lingkungan, 16(1), 1-8, doi:10.14710/jil.16.1.1-8

Keywords

cagar alam; bentuk pertumbuhan; reproduksi; konservasi; karang keras

  1. Oktiyas Muzaky Luthfi  Orcid Scopus Scholar Sinta
    Marine Science University of Brawijaya, Indonesia
  2. Vindi Lovina Rahmadita 
  3. Daduk Setyohadi