skip to main content

Analisis Faktor Pendorong Perubahan Tutupan Lahan selama Satu Dekade di Kabupaten Labuhanbatu Utara

IPB University, Indonesia

Received: 11 Feb 2021; Published: 28 Apr 2021.
Editor(s): Sudarno Utomo

Citation Format:
Abstract

Mengacu pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2008, sejak tanggal 24 Juni 2008 Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) mulai berdiri sendiri sebagai kabupaten dan terpisah dari Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Pada dasarnya wilayah pemekaran memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data BPS tahun 2019, sektor unggulan dan mata pencaharian di Kabupaten Labura adalah pertanian. Akan tetapi seiring berjalannya waktu usaha pertanian semakin menurun. Hal ini terjadi diduga karena perubahan tutupan lahan. Secara geografis pemekaran wilayah akan mempengaruhi perubahan tutupan penggunaan lahan. Oleh karena itu untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi perlu dilakukan analisis tutupan lahan tahun 2010-2019, kurang lebih 10 tahun setelah masa pemekaran terjadi. Analisis tutupan lahan satu dekade ini dilakukan menggunakan Citra Landsat yang diolah melalui metode klasifikasi penggunaan dan perubahan lahan. Hasilnya Kabupaten Labura mengalami perubahan yang relatif lambat. Perkebunan karet dan sawit mengalami perluasan lahan yang besar sedangkan hutan mangrove berubah fungsi dominan menjadi perkebunan. Sementara lahan terbuka mengalami perubahan terkecil yang juga mengarah ke perkebunan. Setelah dilakukan analisis tutupan lahan, dilakukan Seleksi Bivariat dengan menggunakan metode Logistic Regression Analysis (LRA) untuk mendapatkan faktor pendorong perubahan. Ada 7 variabel yang diduga mempengaruhi perubahan yaitu 1) jenis tanah, 2) kemiringan lereng, 3) curah hujan, 4) jumlah penduduk, 5) kepadatan penduduk, 6) jarak dari pusat kecamatan, dan 7) jarak dengan jalan utama. Hasil analisis menunjukan 6 variabel mempengaruhi dan hanya 1 variabel yakni curah hujan yang tidak mempengaruhi. Nilai positif pengaruh terbesar adalah jenis tanah. Semakin subur tanah maka perubahan semakin cepat terjadi. Nilai negatif pengaruh terbesar adalah jarak dari pusat kota yaitu kecamatan. Semakin jauh jarak dengan pusat kota, perubahan semakin cepat terjadi. Hal ini terjadi karena perkebunan dan pertanian yang lebih banyak mengalami perubahan berada jauh dari pusat pemukiman kecamatanan. Rekomendasi berupa perlunya zonasi tata ruang dan pengawasan alih fungsi lahan.

Fulltext View|Download
Keywords: Analisis spasial, Klasifikasi penggunaan lahan, Pemekaran wilayah, Peningkatan lahan perkebunan, Perubahan lahan
Funding: Badan Perencana Daerah Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara

Article Metrics:

  1. Abdullah, S.A., Nakagoshi, N. 2007. Forest Fragmentation and Its Correlation to Human Land Use Change in the State of Selangor, Peninsular Malaysia. For. Ecol. Manage
  2. Aroengbinang, B.W., Kaswanto. 2015. Driving Force Analysis of Landuse and Cover Changes in Cimandiri and Cibuni Watersheds. Procedia Environ. Sci
  3. Assaf, C., Adams, C., Ferreira, F.F., França, H. 2021. Land Use and Cover Modeling as a Tool for Analyzing Nature Conservation Policies – A Case Study of Juréia-Itatins. Land use policy Vol. 100. Pages 104895
  4. Bourne, L.S. 1982. Internal Structure of the City: Readings on Urban Form, Growth, and Policy. Oxford University Press, USA
  5. Ernis, Y. 2015. Penelitian Hukum Tentang Konsistensi Penggunaan Dan Pemanfaatan Tanah Sesuai Dengan Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Hukum Nasional Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia
  6. Fauzi, I.R., Bukit, E., Andriyanto, M., Istianto, I. 2016. Kelayakan Pengembangan Perkebunan Karet di Kabupaten Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. J. Penelit. Karet
  7. Greenacre, M., Primicerio, R. 2013. Measures of Distance Between Samples: Euclidean, in: Multivariate Analysis of Ecological Data
  8. Heilmayr, R., Echeverría, C., Fuentes, R., Lambin, E.F., 2016. A Plantation-Dominated Forest Transition in Chile. Appl. Geogr
  9. Herman, Fahmuddin Agus, I. Las. 2009. Analisis Finansial dan Keuntungan yang Hilang dari Pengurangan Emisi Karbon Dioksida pada Perkebunan Kelapa Sawit. J. Penelit. dan Pengemb
  10. Jensen, J.R. 2005. Introductory Digital Image Processing: A Remote Sensing Perspective, Fourth Edition, Keith, C.C., Ed.; Prentice Hall Series in Geographic Information Science: Saddle River, NJ, USA
  11. Kaswanto, R.L., Nakagoshi, N. 2014. Landscape Ecology-Based Approach for Assessing Pekarangan Condition to Preserve Protected Area in West Java
  12. Kim, T., 2017. A Basic Study on the Establishment of Evaluation Indicators and Improvement of Culture Streets: With a Focus on Jeju Island’s Culture Streets. Arch. Des. Res
  13. Kurniati, A.C., Suharso, T.W., Surjono, S. 2012. Kajian Disparitas Sebagai Solusi dalam Penentuan Pemilihan Kecamatan Baru Kota Pasuruan. J. Tata Kota dan Drh. Vol. 2. Hal. 83–94
  14. Kurniawan, R., Pangestu, A.W. 2018. Analisis Pendapatan Petani Kelapa (Cocos nucifera L) di Desa Teluk Payo Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin. Soc. J. Ilmu-Ilmu Agribisnis
  15. Kustiawan, I. 1997. Konversi Lahan Pertanian di Pantai Utara Jawa. Prisma Vol. 1. Hal. 15–18
  16. Luo, Y., Lü, Y., Liu, L., Liang, H., Li, T., Ren, Y. 2020. Spatiotemporal Scale and Integrative Methods Matter for Quantifying the Driving Forces of Land Cover Change. Science of The Total Environment, Vol. 739. Pages 139622
  17. Montanarella, L., Panagos, P. 2021. The Relevance of Sustainable Soil Management within the European Green Deal. Land use policy Vol. 100. Pages 104950
  18. Pickles, J. 1995. Ground Truth: the Social Implications of Geographic Information Systems. Gr. truth Soc. Implic. Geogr. Inf. Syst
  19. Republik Indonesia. 2014. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Jakarta: Biro Hukum Organisasi dan Tata Laksana
  20. Republik Indonesia. 2008. UU Nomor 23 Tahun 2008 Tentang Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Utara di Provinsi Sumatera Utara
  21. Republik Indonesia. 2004. Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
  22. Rujoiu-Mare, M.-R., Mihai, B.-A. 2016. Mapping Land Cover Using Remote Sensing Data and GIS Techniques: A Case Study of Prahova Subcarpathians. Procedia Environ. Sci
  23. Shoshany, M., Goldshleger, N. 2002. Land-Use and Population Density Changes in Israel-1950 to 1990: Analysis of Regional and Local Trends. Land Use Policy
  24. Standar Nasional Indonesia. 2010. Klasifikasi Penutup Lahan, Jakarta. Indonesia
  25. Stehman, S. V. 1997. Selecting and Interpreting Measures of Thematic Classification Accuracy. Remote Sens. Environ.Vol. 62. Pages 77–89
  26. Sunarno, H.S., 2006. Hukum Pemerintahan Daerah di Indonesia. Sinar Grafika, Jakarta
  27. Valentin, C., Agus, F., Alamban, R., Boosaner, A., Bricquet, J. P., Chaplot, V., de Guzman, T., de Rouw, A., Janeau, J. L., Orange, D., Phachomphonh, K., Do Duy Phai, Podwojewski, P., Ribolzi, O., Silvera, N., Subagyono, K., Thiébaux, J. P., Tran Duc Toan, Vadari, T. 2008. Runoff and Sediment Losses from 27 Upland Catchments in Southeast Asia: Impact of Rapid Land Use Changes and Conservation Practices. Agriculture, Ecosystems & Environment, Vol. 128 No. 4. Pages 225–238
  28. Wibowo, A., Gintings, A.N. 2010. Degradasi dan Upaya Pelestarian Hutan. Membalik Kecenderungan Degrad. Sumber Daya Lahan dan Air
  29. Widodo, K.., Kusuma, Z. 2018. Pengaruh Kompos terhadap Sifat Fisik Tanah dan Pertumbuhan Tanaman Jagung di Inceptisol. Tanah dan Sumberd. Lahan Vol. 5. Hal. 13–14
  30. Wiggers, M.J., Nuarsa, I.W., Putra, I.D.N.N. 2020. Analisis Perubahan Penggunaan Lahan Pesisir di Kecamatan Batu Layar, Kabupaten Lombok Barat Pada Tahun 2002 dan 2019. J. Mar. Res. Technol. Vol. 3. Hal. 68–74
  31. Wulansari, H., 2018. Uji Akurasi Klasifikasi Penggunaan Lahan dengan Menggunakan Metode Defuzzifikasi Maximum Likelihood Berbasis Citra Alos Avnir-2. BHUMI J. Agrar. dan Pertanahan; Vol. 3 No. 1
  32. Zhou, Q., 2017. Digital Elevation Model and Digital Surface Model, in: International Encyclopedia of Geography: People, the Earth, Environment and Technology

Last update:

  1. ANALISIS PENDAPATAN USAHATERNAK SAPI POTONG COMMUNAL DAN NON COMMUNAL DI DESA AEK LEDONG KABUPATEN ASAHAN SUMATERA UTARA

    Netty Tinaprilla, M Ardian Fadly. RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan, 9 (3), 2022. doi: 10.29244/jkebijakan.v9i3.33888
  2. Analysis of land cover changes case in the Batang Toru landscape

    P H P Pasaribu, R O P Situmorang, M H Saputra, S E Hartatik, S Budiharta, M Siregar. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1271 (1), 2023. doi: 10.1088/1755-1315/1271/1/012039
  3. DETERMINAN PRODUKSI DAN ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI CABAI MERAH: STUDI KASUS DESA TANJUNG IBUS KECAMATAN SECANGGANG KABUPATEN LANGKAT

    Putri Rahayu, Endang Sari Simanullang. RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan, 10 (3), 2023. doi: 10.29244/jkebijakan.v10i3.51050
  4. KEBIJAKAN MENUJU KEMANDIRIAN BERAS, KASUS DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH

    Bondansari Bondansari, Widiatmaka Widiatmaka, Machfud Machfud, Khursatul Munibah, Wiwin Ambarwulan. RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan, 11 (1), 2024. doi: 10.29244/jkebijakan.v11i1.53470
  5. SIMULASI KEBIJAKAN PRODUKSI DAN PERDAGANGAN INDONESIA TERHADAP INDUSTRI GULA DOMESTIK

    Birka Septy Meliany Br Sembiring, Widyastutik. RISALAH KEBIJAKAN PERTANIAN DAN LINGKUNGAN Rumusan Kajian Strategis Bidang Pertanian dan Lingkungan, 10 (2), 2023. doi: 10.29244/jkebijakan.v10i2.48375

Last update: 2024-07-18 08:40:17

No citation recorded.