Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{JIL88199, author = {Wahyu Hidayat and Muhammad Setiawan and Dyah Hizbaron}, title = {Evaluasi Persistensi Tutupan Lahan pada Area Lahan Kritis di DAS Serang}, journal = {Jurnal Ilmu Lingkungan}, volume = {24}, number = {6}, year = {2026}, keywords = {Lahan Kritis, Persistensi Tutupan Lahan, Daerah Aliran Sungai, Spasio-Temporal, Rehabiltiasi DAS}, abstract = { Lahan kritis merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia karena mencerminkan penurunan fungsi dan kualitas lahan yang dapat mempengaruhi fungsi ekologis dan hidrologis DAS. Dalam identifikasi lahan kritis, penutup lahan merupakan parameter paling dominan berdasarkan Petunjuk Teknis No. P.3/PDASHL/SET/KUM.1/7/2018 yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penelitian terkait identifikasi lahan kritis pada umumnya hanya menggunakan data kondisi penutup lahan pada satu periode pengamatan saja, sehingga belum mampu menggambarkan dinamika historis penutup lahan yang membentuk kondisi lahan pada periode tertentu. Penelitian ini mengevaluasi persistensi penutup lahan pada kawasan lahan kritis di DAS Serang menggunakan pendekatan spasio-temporal berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). DAS Serang dipilih karena menjadi salah satu DAS prioritas yang ditetapkan untuk dipulihkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 328/Menhut-II/2009. Analisis mengintegrasikan peta lahan kritis dan penutup lahan tahun 2024 sebagai baseline, kemudian mengevaluasi data penutup lahan periode 2014–2023 untuk mengidentifikasi persistensi dan perubahan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persistensi penutup lahan berbeda antarzonasi DAS. Zona hulu menunjukkan dinamika tertinggi, ditandai dengan penurunan vegetasi tanaman campuran dan peningkatan luas hutan serta perkebunan. Zona tengah memiliki kondisi relatif yang stabil dengan peningkatan luas hutan dan lahan pertanian, sedangkan zona hilir mengalami perubahan paling kecil. Perbedaan persistensi tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan pada area lahan kritis di DAS Serang memiliki dinamika spasial yang tidak seragam. Sehingga evaluasi historis penutup lahan diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan kondisi lahan dan mendukung pengelolaan serta rehabilitasi DAS secara berkelanjutan. }, pages = {1539--1550} doi = {10.14710/jil.24.6.1539-1550}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ilmulingkungan/article/view/88199} }
Refworks Citation Data :
Lahan kritis merupakan salah satu tantangan utama dalam pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) di Indonesia karena mencerminkan penurunan fungsi dan kualitas lahan yang dapat mempengaruhi fungsi ekologis dan hidrologis DAS. Dalam identifikasi lahan kritis, penutup lahan merupakan parameter paling dominan berdasarkan Petunjuk Teknis No. P.3/PDASHL/SET/KUM.1/7/2018 yang diterbitkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penelitian terkait identifikasi lahan kritis pada umumnya hanya menggunakan data kondisi penutup lahan pada satu periode pengamatan saja, sehingga belum mampu menggambarkan dinamika historis penutup lahan yang membentuk kondisi lahan pada periode tertentu. Penelitian ini mengevaluasi persistensi penutup lahan pada kawasan lahan kritis di DAS Serang menggunakan pendekatan spasio-temporal berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). DAS Serang dipilih karena menjadi salah satu DAS prioritas yang ditetapkan untuk dipulihkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 328/Menhut-II/2009. Analisis mengintegrasikan peta lahan kritis dan penutup lahan tahun 2024 sebagai baseline, kemudian mengevaluasi data penutup lahan periode 2014–2023 untuk mengidentifikasi persistensi dan perubahan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persistensi penutup lahan berbeda antarzonasi DAS. Zona hulu menunjukkan dinamika tertinggi, ditandai dengan penurunan vegetasi tanaman campuran dan peningkatan luas hutan serta perkebunan. Zona tengah memiliki kondisi relatif yang stabil dengan peningkatan luas hutan dan lahan pertanian, sedangkan zona hilir mengalami perubahan paling kecil. Perbedaan persistensi tersebut menunjukkan bahwa kondisi lingkungan pada area lahan kritis di DAS Serang memiliki dinamika spasial yang tidak seragam. Sehingga evaluasi historis penutup lahan diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan kondisi lahan dan mendukung pengelolaan serta rehabilitasi DAS secara berkelanjutan.
Note: This article has supplementary file(s).
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-11-06 21:29:01
View My Stats
JURNAL ILMU LINGKUNGAN ISSN:1829-8907 by Graduate Program of Environmental Studies, School of Postgraduate Studies is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Based on a work at www.undip.ac.id.