Analisis Faktor Keberadaan Vektor Penular DBD Melalui Identifikasi Tempat Potensial Perkembangbiakan Nyamuk Aedes Sp. di Desa Gergunung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

*Nur Alvira Pascawati  -  Prodi S-1 Kesehatan Masyarakat, Universitas Respati Yogykarta, Indonesia
Published: 30 Apr 2018.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Articles
Language: INA
Statistics: 239 230
Abstract

The presence of potential breeding places can be used to measure the risk of DHF transmission in Klaten. This result can be used by the community to eridication of mosquito breeding place on terget and can improve to early warning system through effective methods for vector control. Type of study was analytic with cross-sectional study. The study was conducted in 104 households with simple random sampling technique. Data analysis used three stages: univariate, bivariate (Chi-square, Kolmogorov Smirnov, Spearman rank) and multivariate test with α=5%. The density of larvae based on the value of CI, HI, and BI amounted to 1.6%, 19.2%, 27.9%. The potential place for larvae breed based on Maya Index of 76%. Containers of open wells with groundwater sources, the volume of water is more than 1 liter and the material from cement can be the preferred place for mosquitoes to breed. Multivariate analysis shows that open wells are strongly related and has a risk of 1,556 (CI: 1,199-2,019) increasing the density of larvae compared with other variables.The density of larvae based on BI is a high category, HI is a moderate category and CI is a low category. This condition is influenced by the presence of open wells made of cement and can hold water in large quantities. Improve to early warning system of DHF transmission through identification of the presence of potential breading places in this area are to close the wells at the household level and conduct regular monitoring on the Controllable Sites.

Keywords: Potential; Breeding Place; Aedes sp,; DHF

Article Metrics:

  1. WHO. (2016a). Dengue Control Epidemiology. Diakses pada 28 Februari 2017. http://www.who.int/denguecontrol/epidemiology/en/
  2. WHO. (2016b). Dengue Data Application. Diakses pada 28 Februari. http://www.who.int/denguecontrol/epidemiology/dengue_data_application/en/
  3. Sariwati, E. (2017). Upaya Penaggulangan Penyakit Tular Vektor. Seminar Nasional Yogyakarta. Kasubdit Malaria. Kemenkes RI.
  4. Dinkes Jawa Tengah. (2015). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Jawa Tengah: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
  5. Dinkes Klaten. (2015). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Jawa Tengah: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
  6. Puskemas Gergunung. (2017). Kasus Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Desa Gergunung. Klaten, Jawa Tengah
  7. Ostfeld RS, Glass GE, Keesing F. (2005). Spatial epidemiology: an emerging (or re-emerging) discipline. Trends Ecol Evol (Amst). 20 (3) 328–336.
  8. Kemenkes RI. (2016). Profil Kesehatan Indonesia. Diakses pada 14 Maret. www.depkes.go.id/.../profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-Indonesia-2015.pdf
  9. Kemenkes RI. (2009). Pencegahan dan Pemeberantasan DBD di Indonesia: Ditjen P2M dan PL. Jakarta.
  10. Nugrahaningsi, M., Putra, N., dan Aryanta, I. R. (2010). Hubungan Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat dengan Keberadaan Jentik Nyamuk Penular Demam Berdarah Dengue (DBD) di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Utara. Journal Ecotrophic. Vol.5 (2) 93-97.
  11. Hendri Joni, Res, Prasetyowati (2010). Tempat Perkemabngbiakan Nyamuk Aedes spp. di Pasar Wisata Pangandaran. Aspirator. 2(1): 23-31.
  12. Sari, P., Martini, & Ginanja, P. (2012). Hubungan Kepadatan Jentik Aedes sp dan Praktik PSN dengan Kejadian DBD di Sekolah Tingkat Sekolah Dasar. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 1 (2) 412-422.
  13. Ambarita, L. P., Sitorus, H., & Komaria, R. H. (2016). Habitat Aedes Pradewasa dan Indeks Entomologi di 11 Kabupaten/Kota Provinsi. Jurnal Balaba. 12 (2) 111-120.
  14. Purnama, S. G., & Baskoro, T. (2012). Maya Index dan Kepadatan Larva Aedes aegypti terhadap Infeksi Dengue. Jurnal Makara Indonesia. 16 (2) 57-64.
  15. Prasetyowati, H., & Ginanjar, A. (2017). Maya Indeks dan Kepadatan Larva Aedes aegypti di Daerah Endemis DBD Jakarta Timur. Vektora. 11(1) 43-49.
  16. Sukesi, T. W. (2012). Monitoring Populasi Nyamuk Aedes aegypti L. Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Gedongkiwo Kecamatan Mantrijeron Kota Yogyakarta. KESMAS, 1 (74).
  17. Nguyen, L A P. (2011). Abundance and prevalence of Aedes aegypti immatures and relationships with household water storage in rural areas in Southern Vietnam. Int. Health. 3 (6) 115-125
  18. Lameshow dan Lwanga. (2008). Sample Size Determination in Health Studies. Software by WHO
  19. Ginonar, Y. R., Rusmiarto, S., Susapto, D., Elyazar, I. R., & Bangs, M. J. (2001). Sumur Sebagai Habitat yang Penting untuk perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti. Buletin Penelitian Kesehatan, 22-31.
  20. Kemenkes RI. (2011). Modul Pengendalian Demam Berdarah Dengue. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta
  21. Kemenkes RI. (2017). Pedoman Pengumpulan Data Vektor (Nyamuk) di Lapangan. Balai Besar Pengendalian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit, Kemenkes RI, Jakarta.
  22. Queensland Government. (2011). The Queensland Dengue Management Plan 2010-2015. Fortitude Valley: Queensland Health.
  23. Miller J, Martínez BA dan Gazga SD. (1992). Where Aedes aegypti live in Guerrero; using the Maya Index to measure breeding risk. In S. Halstead & D. H. Gómez, eds. Dengue: A worldwide problem, a common strategy Ministry of Health, Mexico, and Rockefeller Foundation.
  24. Ma’mum. (2007). Survei Entomologi Penyakit Demam Berdarah dengue dan Perhitungan Maya Index di Dusun Kalangan, Kelurahan Baturetno, Kabupaten BantulUniversitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  25. Ramadhani M., M dan Astuty H. (2013). Kepadatan dan Penyebaran Aedes aegypti Setelah Penyuluhan DBD di Kelurahan Paseban , Jakarta Pusat. eJKI. 1(1) 5–9
  26. Dhewantara P & Dinata A. (2015). Analisis Resiko Dengue Berbasis Maya Indeks pada Rumah PenderitaDBD di Kota Banjar Tahun 2012. Balaba. 11 (27).
  27. Astuti, E. P., Prasetyowati, H., dan Ginanjar, A. (2016). Risiko Penularan Demam Berdarah Dengue berdasarkan Maya Indeks dan Indeks Entomologi di Kota Tangerang Selatan, Banten. Media Litbangkes, 26 (4) 211-218
  28. Nani. (2017). Hubungan Perilaku Psn Dengan Keberadaan Jentik Aedes aegypti di Pelabuhan Pulang Pisau. Jurnal Berkala Epidemiolog. 5 (1) 1-12.
  29. Aulia, S., Djamahar, R., dan Rahmayanti. (2014). Deskripsi Tempat Penampungan Air Positif Larva Aedes aegypti di Kelurahan Cakung Timur. Jurnal BIOMA. 10 (1).
  30. Agustina, E., & Kartini. (2017). Kajian Tempat Perindukan Nyamuk Aedes di Gampoeng Ulee Tuy Kecamatan Darul Imarah Aceh Besar. Prosiding Seminar Nasional Biotik.
  31. Fauziah, N. F. (2012). Karakteristik Sumur Gali dan Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes aegypti. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8 (1), 81-87.
  32. Palupi Susanti Said. 2011. Survei Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Spp Pada Sumur gali Gali Milik Warga Di Kelurahan Bulusan Kota Semarang (Studi Di Wilayah Kerja Puskesmas Rowosari Semarang). Jurnal Kemas, 1(2) 326-337