skip to main content

Peran Tenaga Pelaksana Eliminasi dalam Pelaksanaan Program Pemberian Obat Secara Massal (POPM) Filariasis di Kota Pekalongan

Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Received: 5 Apr 2019; Revised: 27 Dec 2019; Accepted: 5 Jan 2020; Published: 1 Feb 2020.
Open Access Copyright (c) 2020 MKMI under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

Latar belakang: Penyakit Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria. Kota Pekalongan

merupakan kota dengan endemis filariasis dan telah dilakukan Program Pemberian Obat secara Massal (POPM) sejak tahun 2011 hingga 2015, Namun, hasil Survei Darah Jari (SDJ) menunjukkan nilai Mikrofilaria Rate di Kota  Pekalongan  masih  >  1%.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menggambarkan  peran  Tenaga  Pelaksana Eliminasi (TPE) filariasis dan hambatan yang ditemui pada pelaksanaan POPM di Kota Pekalongan.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectiona. Jumlah sampel 95 orang petugas TPE dengan menggunakan simple ramdom sampling. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner.  

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa EP dalam memilih anggota keluarga target yang akan dirawat adalah optimal (63,2%). EP dalam membantu puskesmas menentukan dosis dan pemberian obat-obatan untuk masing-masing keluarga yang dibantu (52,6%). EP dalam merekam keluarga yang dibantu yang minum obat pada kartu sudah optimal (55,8%). EP dalam memantau dan mencatat reaksi perawatan yang mungkin timbul dan melaporkan kepada petugas kesehatan adalah optimal (61,1%).

Simpulan: Peran tenaga pelaksana eliminasi TPE di Kota Pekalongan dalam menyeleksi anggota keluarga binaan yang akan diobati, dalam membantu puskesmas menentukan dosis dan pemberian obat pada setiap keluarga binaan, dalam pencatatan keluarga binaan yang meminum obat pada kartu, dan dalam pengawasan dan pencatatan reaksi pengobatan yang mungkin timbul serta pelaporan kepada petugas kesehatan sudah optimal

Kata kunci: Filariasis, Tenaga Pelaksana Eliminasi

ABSTRACT

Title: The role of Elimination Personnel (EP) implementing filariasis MDA in Pekalongan City

 

Background: Filariasis is a disease caused by filarial worms, Pekalongan City has carried out filariasis MDA (Mass Drug Administration) since 2011-2015. However, the results of the Finger Blood Survey (SDJ) showed that the microfilaria rate was > 1%. This study aims to describe the role of Elimination Personnel (EP) and the obstacles faced in implementing filariasis MDA in Pekalongan City.

Method: This study used a cross sectional research method. Sampling in this study used simple random side, total 95 respondents. Data obtained by structure interviews using questionnaires.

Result: The results showed that EP in selecting the target family members to be treated is optimal (63.2%). EP in helping puskesmas determine the dosage and administration of medicines for each of the assisted families (52.6%). EP in recording the assisted families who drank the medicine on the card was optimal (55.8%). EP in monitoring and recording treatment reactions that may arise and reporting to health workers was optimal (61.1%).

Conclusion: The roles of TPE elimination workers of Pekalongan City were optimum, such as selecting family member who will be treated, helping Puskesmas in deciding the dosage and giving the medicine to every treated family, record of treated family who take the medicine in the given card, and in the supervision and record of medical reaction that might happen and reporting it to health workers.

Keywords: Filariasis, Elimination Personnel

 

 

Fulltext View|Download
Keywords: Filariasis; Tenaga Pelaksana Eliminasi

Article Metrics:

  1. Kementerian Kesehatan RI. Penanggulangan Filariasis. Jakarta, Indonesia: Kementerian Kesehatan; 2014
  2. Kementerian Kesehatan RI. Filariasis di Indonesia. Bul Jendela Epidemiol. 2010;1(1):15–9. Pello F. Alat Bantu (Tool Kit) untuk Eliminasi Filariasis: Panduan Pelaksanaan Bagi Petugas Kesehatan di Indonesia. Kupang: Dinas Kesehatan Provinsi NTT; 2004. 125 p
  3. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Filariasis di Indonesia Tahun 2015. Kementeri Kesehat RI. 2016;1:8
  4. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2015. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah; 2015
  5. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah; 2014
  6. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Tahun 2016. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2016
  7. Dinas Kesehatan Kota Pekalongan. 20 Kelurahan Endemis Filariasis [Internet]. Suara Merdeka. 2015. Available from: http://www.dprd-pekalongankota.go.id/Berita/20-kelurahan- endemis-filariasis.html
  8. Atho MA. POPM Filariasis Diulang Dua Tahun [Internet]. Radar Pekalongan. 2017 [cited 2018 Apr 10]. Available from: https://issuu.com/radarpekalonganpaper/docs/ra dar_pekalongan_20_januari_2017
  9. Nurlaila, Ginandjar P, Matrini. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Pengobatan Masal di Kelurahan Non Endemis Filariasis Kota Pekalongan. J Kesehat Masy [Internet]. 2017;5:455–66. Available from: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm/arti cle/view/18662
  10. Purnomo I, Supriyo, Sri H. Pengaruh Faktor Pengetahuan dan Petugas Kesehatan Terhadap Konsumsi Obat Kaki Gajah (Filariasis) di Kelurahan Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan. OJS Pena J Ilmu Pengetah Dan Teknol [Internet]. 2015;28:13–37. Available from: http://journal.unikal.ac.id/index.php/lppm/articl e/view/347/280
  11. Santos Rocha SW, Oliveira Dos Santos AC, Dos Santos Silva B, De Cipriano Torres DO, Lima Ribeiro E, Sousa Barbosa KP, et al. Effects of Diethylcarbamazine (DEC) On Hepatocytes of C57BL/6J Mice Submitted To Protein Malnutrition. J Food Drug Anal. 2012;20(2):524–31
  12. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Eliminasi Kaki Gajah Bagi Puskesmas Tahun 2015. Bogor: Dinkes Kabupaten Bogor; 2014
  13. Masanja IM, Selemani M, Khatib RA, Amuri B, Kuepfer I, Kajungu D, et al. Correct Dosing of Artemether Lumefantrine for Management of Uncomplicated Malaria In Rural Tanzania. Biomed Cent. 2013;12:1–8
  14. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah). Jakarta; 2005. p. 1–19
  15. Debby R, Suyanto, Restuastuti T. Peran Pengawas Menelan Obat (PMO) Tuberkuosis dalam Meningkatkan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru di Kelurahan Sidomulyo Barat Pekanbaru. Kedokteran [Internet]. 2014;1(2). Available from: https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFDOK/arti cle/view/2947/2856

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-05-20 20:34:34

No citation recorded.