BibTex Citation Data :
@article{Nusa80913, author = {Mauritio Pamungkas}, title = {Symbolic Violence in the Meaning of the Song Tana Mbate De: A Bourdieusian Discourse Analysis}, journal = {Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra}, volume = {21}, number = {1}, year = {2026}, keywords = {Lagu Tana Mbate De, Analisis Wacana, Pierre Bourdieu, Kekerasan Simbolik, Resistensi, Labuan Bajo.}, abstract = { Lagu “Tana Mbate De” merupakan karya seni berbahasa Manggarai yang lahir sebagai respon terhadap dinamika sosial dan konflik agraria akibat maraknya investasi dan proyek pembangunan berskala besar di Flores, khususnya penetapan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Penelitian ini bertujuan untuk membongkar wacana kekerasan simbolik yang tersembunyi di balik narasi pembangunan melalui analisis lirik lagu tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pisau analisis wacana Pierre Bourdieu yang meliputi konsep arena, modal, dan habitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu ini merepresentasikan pertarungan antara habitus masyarakat lokal (yang memandang tanah sebagai warisan leluhur dan identitas kultural) melawan habitus kelas dominan (pemerintah dan investor yang memandang tanah sebagai komoditas kapital). Kekerasan simbolik teridentifikasi melalui pemaksaan standar “modernitas” dan “pembangunan” yang memarginalkan kearifan lokal, di mana dominasi ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat (misrecognition). Lagu ini berfungsi sebagai vox populi dan bentuk resistensi serta konsientisasi sosial bagi masyarakat Manggarai untuk menyadari adanya dominasi terselubung dalam kebijakan pariwisata yang eksploitatif . }, issn = {2597-9558}, pages = {30--46} doi = {10.14710/nusa.21.1.30-46}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/nusa/article/view/80913} }
Refworks Citation Data :
Lagu “Tana Mbate De” merupakan karya seni berbahasa Manggarai yang lahir sebagai respon terhadap dinamika sosial dan konflik agraria akibat maraknya investasi dan proyek pembangunan berskala besar di Flores, khususnya penetapan Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP). Penelitian ini bertujuan untuk membongkar wacana kekerasan simbolik yang tersembunyi di balik narasi pembangunan melalui analisis lirik lagu tersebut. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pisau analisis wacana Pierre Bourdieu yang meliputi konsep arena, modal, dan habitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu ini merepresentasikan pertarungan antara habitus masyarakat lokal (yang memandang tanah sebagai warisan leluhur dan identitas kultural) melawan habitus kelas dominan (pemerintah dan investor yang memandang tanah sebagai komoditas kapital). Kekerasan simbolik teridentifikasi melalui pemaksaan standar “modernitas” dan “pembangunan” yang memarginalkan kearifan lokal, di mana dominasi ini sering kali tidak disadari oleh masyarakat (misrecognition). Lagu ini berfungsi sebagai vox populi dan bentuk resistensi serta konsientisasi sosial bagi masyarakat Manggarai untuk menyadari adanya dominasi terselubung dalam kebijakan pariwisata yang eksploitatif.
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-06-03 00:00:17
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0)
You are free to:
The licensor cannot revoke these freedoms as long as you follow the license terms.
Under the following terms:
Notices:
Nusa oleh http://ejournal.undip.ac.id/index.php/nusa disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa 4.0 Internasional.
View My Stats