THE MEDIA’S PARADOX TOWARDS DEMOCRACY A Case of the Clash Between Media Indonesia and Vivanews in Munas Golkar 2009

Received: 13 May 2013; Published: 13 May 2013.
Open Access

Citation Format:
Abstract
Abstrak
Persaingan antara Aburizal Bakrie dan Surya Paloh dalam menduduki kursi ketua
umum Golkar tidak hanya terjadi di internal partai Golkar saja. Lebih dari itu, persaingan ini
dibawa ke hadapan public dengan terlibatnya Media Indonesia Grup yang dimiliki oleh Paloh
dan Vivanews yang dimiliki oleh Bakrie. Kedua perusahaan media tersebut berlomba-lomba
untuk mencuri perhatian publik untuk mengkampanyekan pemiliknya. Hal ini menyebabkan
media yang seharusnya netral, non-partisan dan independen hanya menjadi alat dari
kekuasaan, tak ubahnya seperti peran militer di masa lalu. Oleh karena itulah, kehadiran
media yang dianggap sebagai pilar keempat demokrasi patut untuk dipertanyakan. Semakin
besarnya kekuatan yang dimiliki oleh media menjadi sebuah paradoks dari nilai-nilai
demokrasi itu sendiri, dimana semakin kuat suatu media maka ia dapat dengan mudah
dijadikan alat oleh pemiliknya untuk mengebiri nilai-nilai demokrasi yang melahirkannya.
Dalam Munas Golkar yamg telah selesai digelar tersebut, publik benar-benar dicekoki
dengan segala macam pemberitaan tentang persaingan dalam munas walaupun hal itu
bukanlah sesuatu yang urgent atau berpengaruh secara signifikan terhadap kehidupan
mereka.
Keywords: paradox, public sphere, media, ownership.

Article Metrics: