skip to main content

Strategi Penanganan Kawasan Tepian Sungai Tukad Yeh Poh sebagai Recreational Waterfront Kabupaten Badung

Made Isaka Riasmi  -  Program Studi Magister Arsitektur, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia
*Ni Ketut Agusintadewi scopus  -  Master of Architecture Programme, Universitas Udayana, Indonesia
Widiastuti Widiastuti  -  Program Studi Magister Arsitektur, Universitas Udayana, Denpasar, Indonesia

Citation Format:
Abstract
Pengentasan masalah permukiman kumuh pada perkotaan di Kabupaten Badung merujuk pada  Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU). Upaya ini diawali dengan cara mengubah daerah kumuh menjadi “Kawasan Produktif Pariwisata” pada Kawasan Tepian Sungai Tukad Yeh Poh yang bertujuan untuk meingkatkan kualitas lingkungan dengan penambahan nilai ekonomi kawasan bagi masyarakat, sehingga dapat mendukung kelestarian lingkungan menuju terwujudnya kota berkelanjutan. Fokus penelitian ini adalah untuk mengkaji strategi peningkatan kualitas lingkungan yang berpotensi kumuh pada lokasi penelitian sebagai kawasan produktif pariwisata berupa recreational waterfront di Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Pengumpulan data menggunakan teknik Participatory Rural Appraisal (PRA). Hasil penelitian memaparkan strategi yang dilakukan dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan, seperti perbaikan infrastruktur fisik, penyediaan ruang terbuka publik, dan penunjang kegiatan wisata air, seperti destinasi wisata kuliner dan olahraga. Selain itu juga, upaya lain dengan menerapkan sistem Eko-Drainase dan pembuatan biopori, penanganan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan serta pengembangan destinasi wisata yang dapat dimanfaatkan dan dikelola berbasis masyarakat. Dengan membuat Kawasan Produktif Pariwisata, maka perekonomian masyarakat meningkat, sehingga dapat berperan serta dalam menjaga lingkungan setempat.
Fulltext
Keywords: Kawasan Tepian Sungai, Strategi Penanganan, Tukad Yeh Poh, Recreational Waterfront

Article Metrics:

  1. Andi, M., Gosal, P. H., & Hanny, P. (2019). Kajian Kota Kotamobagu menuju Kota Layak Huni (Livable City). Jurnal Spasial: Jurnal Perencanaan Wilayah Dan Kota, 6(2), 199–210
  2. Breen, A., & Rigby, D. (1994). Waterfront, Cities Reclaim Their Edge. McGraw Hill
  3. Breen, A., & Rigby, D. (1996). The New Waterfront: A Worldwide Urban Success Story. Thames & Hudson
  4. Chambers, R. (1994). The Origins and Practice of Participatory Rural Appraisal. World Development, 22(7), 953–969
  5. Douglass, M. (2002). From Global Intercity Competition to Cooperation for Livable Cities and Economic Resilience in Pacific Asia. Environment and Urbanization, 14(1), 53–68. https://doi.org/10.1177/095624780201400105
  6. Faucheux, S., & O’connor, M. (2000). Valuation for Sustainable Development. Environmental Values, 9(1), 118–119
  7. Hasriyanti, N. (2014). Kajian Ruang Publik Tepi Air. Vokasi, 10(1), 21–38
  8. Hudayana, B., Kutanegara, P. M., Setiadi, Indiyanto, A., Fauzanafi, Z., Dyah F.N., M., Sushartami, W., & Yusuf, M. (2019). Participatory Rural Appraisal (PRA) untuk Pengembangan Desa Wisata di Pedukuhan Pucung, Desa Wukirsari, Bantul. Bakti Budaya, 2(2), 99–112. https://doi.org/10.22146/bb.50890
  9. Islami, M. E. (2020). Keberlanjutan Program Kota tanpa Kumuh (KOTAKU) di Kota Pekanbaru. JOM Fisip Unri, 7(1), 1–15. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/view/27640
  10. Krisandriyana, M., Astuti, W., & Fitriarini, E. (2019). Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Kawasan Permukiman Kumuh di Surakarta. Desa-Kota, 1(1), 24–33. https://doi.org/10.20961/desa-kota.v1i1.14418.24-33
  11. Kurniasari, E., Rustiadi, E., & Tonny, F. (2013). Strategi Pengembangan Ekowisata Melalui Peningkatan Partisipasi Masyarakat, Studi Kasus Komunitas Kelurahan Kalimulya, Kota Depok. Jurnal Manajemen Pembangunan Daerah, 5(2), 32–47. https://doi.org/10.29244/jurnal_mpd.v5i2.24637
  12. Muliawati, D. N., & Mardyanto, M. A. (2015). Perencanaan Penerapan Sistem Drainase Berwawasan Lingkungan (Eko-Drainase) Menggunakan Sumur Resapan di Kawasan Rungkut. Jurnal Teknik ITS, 4(1), D16–D20. http://dx.doi.org/10.12962/j23373539.v4i1.8833
  13. Patrisia, N. E. (2018). Penataan Perumahan Kumuh Kota Berbasis Kawasan. Jurnal Professional FIS UNIVED, 4(2), 1–8. https://doi.org/10.37676/professional.v4i2.617
  14. Pearce, D., & Barbier, E. B. (2000). Sustainable Economy. Earthscan
  15. Primadella, & Ikaputra. (2019). Waterfront Culture sebagai Atraksi Wisata Tepian Air. Jurnal Arsitektur Zonasi, 2(2), 88–97
  16. Ruli, A., & Fadjarani, S. (2018). Penataan Permukiman Berbasis Lingkungan. Jurnal Geografi: Media Informasi Pengembangan Dan Profesi Kegeografian, 15(1), 56–67. https://doi.org/10.15294/jg.v15i1.11888
  17. Tiawon, H., Widati, T., & Amiany. (2018). Kajian Strategi Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan Berbasis Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) di Kota Kuala Kapuas. Jurnal Teknika, 2(1), 82–89
  18. Wrenn, D. (1995). Waterfronts: Cities Reclaim their Edges. Landscape Journal, 14(1), 95–96. https://doi.org/10.3368/lj.14.1.95

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.