1Prodi Pendidikan Agama Kristen, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Indonesia
2Program studi pendidikan bahasa Indonesia, Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{SABDA79257, author = {Esther Sitorus and Desryana Sinaga and Asrini Habeahan and Gita Sihombing}, title = {Semiotic Analysis of Batak Onion in Typical Batak Toba Foods, Arsik Ikan Mas and Dali Ni Horbo}, journal = {Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan}, volume = {21}, number = {1}, year = {2026}, keywords = {Kata Kunci: semiotika, bawang Batak, arsik ikan mas, dali ni horbo, budaya Batak Toba}, abstract = { Penelitian ini bertujuan menganalisis makna semiotik bawang Batak (Allium chinense) sebagai tanda budaya dalam dua masakan adat Batak Toba, yaitu arsik ikan mas dan dali ni horbo. Kajian ini berangkat dari pandangan bahwa makanan tradisional bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan sistem tanda yang mencerminkan nilai sosial, spiritual, dan filosofis suatu masyarakat. Dengan menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure, penelitian ini menguraikan hubungan antara penanda (signifikan) berupa bentuk fisik dan fungsi bawang Batak, serta penanda (signifié) berupa makna sosial, spiritual, dan filosofis yang melekatkan masyarakat Batak Toba terhadap bahan tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik kajian pustaka terhadap berbagai sumber antropologi, etnografis, dan semiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, bawang Batak berfungsi sebagai penyeimbang rasa dan penyedap alami dalam dua hidangan adat, sedangkan secara konotatif ia melambangkan kesucian, keseimbangan, dan keharmonisan antara manusia, alam, serta leluhur. Dalam konteks sosial, bawang Batak menjadi simbol solidaritas dan persatuan dalam sistem dalihan na tolu; secara spiritual, menjadi lambang penyucian dan restu leluhur; dan secara filosofis, keseimbangan moral kehidupan. Dengan demikian, bawang Batak bukan sekedar bahan kuliner, melainkan tanda budaya multidimensi yang menghubungkan aspek kuliner, sosial, dan spiritual dalam Kebudayaan Batak Toba. }, issn = {2549-1628}, pages = {50--60} doi = {10.14710/sabda.21.1.50-60}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/sabda/article/view/79257} }
Refworks Citation Data :
Penelitian ini bertujuan menganalisis makna semiotik bawang Batak (Allium chinense) sebagai tanda budaya dalam dua masakan adat Batak Toba, yaitu arsik ikan mas dan dali ni horbo. Kajian ini berangkat dari pandangan bahwa makanan tradisional bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan sistem tanda yang mencerminkan nilai sosial, spiritual, dan filosofis suatu masyarakat. Dengan menggunakan teori semiotika Ferdinand de Saussure, penelitian ini menguraikan hubungan antara penanda (signifikan) berupa bentuk fisik dan fungsi bawang Batak, serta penanda (signifié) berupa makna sosial, spiritual, dan filosofis yang melekatkan masyarakat Batak Toba terhadap bahan tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik kajian pustaka terhadap berbagai sumber antropologi, etnografis, dan semiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, bawang Batak berfungsi sebagai penyeimbang rasa dan penyedap alami dalam dua hidangan adat, sedangkan secara konotatif ia melambangkan kesucian, keseimbangan, dan keharmonisan antara manusia, alam, serta leluhur. Dalam konteks sosial, bawang Batak menjadi simbol solidaritas dan persatuan dalam sistem dalihan na tolu; secara spiritual, menjadi lambang penyucian dan restu leluhur; dan secara filosofis, keseimbangan moral kehidupan. Dengan demikian, bawang Batak bukan sekedar bahan kuliner, melainkan tanda budaya multidimensi yang menghubungkan aspek kuliner, sosial, dan spiritual dalam Kebudayaan Batak Toba.
Note: This article has supplementary file(s).
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-06-07 20:49:34
The Authors submitting a manuscript do so on the understanding that if accepted for publication, copyright of the article shall be assigned to SABDA: Jurnal Kajian Kebudayaan and Faculty of Humanities Diponegoro University as publisher of the journal.
Copyright encompasses exclusive rights to reproduce and deliver the article in all form and media, including reprints, photographs, microfilms and any other similar reproductions, as well as translations. The reproduction of any part of this journal, its storage in databases and its transmission by any form or media, such as electronic, electrostatic and mechanical copies, photocopies, recordings, magnetic media, etc. , will be allowed only with a written permission from SABDA: Jurnal Kajian Kebudayaan and Faculty of Humanities Diponegoro University.
SABDA: Jurnal Kajian Kebudayaan and Faculty of Humanities Diponegoro University and the Editors make every effort to ensure that no wrong or misleading data, opinions or statements be published in the journal. In any way, the contents of the articles and advertisements published in JTSiskom journal are sole and exclusive responsibility of their respective authors and advertisers.
View My Stats