KEANEKARAGAMAN MOLUSKA BERDASARKAN TEKSTUR SEDIMEN DAN KADAR BAHAN ORGANIK PADA MUARA SUNGAI BETAHWALANG, KABUPATEN DEMAK (Molluscs Diversity based on Sediment Texture and Organic Matter Content in Betahwalang Estuary, Demak Regency)

*Hana Nisau Shalihah  -  Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Pujiono Wahyu Purnomo  -  Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Niniek Widyorini  -  Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Departemen Sumberdaya Akuatik, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Indonesia
Published: 8 Dec 2017.
Open Access
Citation Format:
Abstract

 

Muara Sungai Betahwalang merupakan ekosistem yang mendapat masukan dari kegiatan penduduk daerah pemukiman sekitar dan dari Sungai Jajar. Muatan pencemar akan mempengaruhi kondisi muara terutama substrat dasar pada sungai Betah walang. Tekstur dan kandungan bahan organik di dalam sedimen menentukan keberadaan moluska. Tekstur sedimen merupakan tempat untuk menempel dan merayap atau berjalan, sedangkan bahan organik merupakan sumber makanan bagi moluska. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman moluska, tekstur sedimen dan kadar bahan organik, serta untuk mengetahui hubungan antara variabel. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan pengambilan sampel menggunakan metode Purposive Sampling. Sampel diambil pada 5 stasiun dan masing-masing stasiun terdiri dari 3 titik. Hasil penelitian menyebutkan bahwa terdapat 10 genera dari kelas Gastropoda yaitu Littorina, Cerithidea, Turritella, Clathrodrillia, Fasciolaris, Conus, Filopaludina, Pila, Melanoides dan Telescopium dan 4 genera dari kelas Bivalvia yaitu Anadara, Mesodesma, Mytilus dan Donax. Karakteristik substrat di muara Sungai Betahwalang adalah liat dan liat berpasir dengan kadar bahan organik berkisar antara 6,2-17,4 %. Hubungan moluska dengan tekstur sedimen terutama liat mempunyai korelasi positif dengan persamaan y = 6.94x + 224.0 (r = 0.535). Hubungan moluska dengan bahan organik mempunyai korelasi positif dengan persamaan y = 33.44x + 271.1 (r = 0.507) dan R2 = 0.257

 

  

Betahwalang Estuary is an ecosystem that gets input from the activities of the surrounding residents area and from the Jajar River. Contaminant load from upstream will affect the condition of the substrate in Betah walang river. Texture and organic matter content in the sediments determine the presence of molluscs. Sediment texture is a place for molluscs to stick, crawl or walk, while organic matter is a source of food for them. The purpose of this research is to know the diversity of molluscs, sediment textures and organic matter content, and to know the relationship between those variables. The method used is survey method with sampling using Purposive Sampling method. Samples were taken at 5 stations and each station consisted of 3 spots. The results show that 10 genera of the Gastropod class were Littorina, Cerithidea, Turritella, Clathrodoillia, Fasciolaris, Conus, Filopaludina, Pila, Melanoides and Telescopium and 4 genera of Bivalves class were Anadara, Mesodesma, Mytilus and Donax. Betahwalang estuary are characterized by clay and sandy clay with organic material content between 6,2-17,4%. The relationship of molluscs with sediment texture, especially clay, has a positive correlation with the equation y = 6.94x + 224.0 (r = 0.535). The relationship of molluscs with organic matter has a positive correlation with the equation y = 33.44x + 271.1 (r = 0.507).

 
Keywords: Moluska; Tekstur Sedimen; Bahan Organik Sedimen; Muara Sungai Betahwalang

Article Metrics:

  1. Alfitriatussulus. 2003. Sebaran Moluska (Bivalvia dan Gastropoda) di Muara Sungai Cimandiri, Teluk Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. [Skripsi]. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 62 hlm
  2. Amrul, H.M.Z.N. 2007. Kualitas Fisika-Kimia Sedimen Serta Hubungannya Terhadap Struktur Komunitas Makrozoobentos di Estuari Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang. [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 111 hlm
  3. Arbi, U.Y. 2014. Taksonomi Dan Filogeni Keong Famili Potamididae (Gastropoda: Moluska) Di Indonesia Berdasarkan Karakter Morfologi). [Thesis]. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 128 hlm
  4. Ario, R. dan Handoyo, G. 2002. Kajian struktur Komunitas Makrozoobentos Sebagai Bioindikator di Perairan Muara Sungai Ketiwon, Tegal. Majalah Ilmu Kelautan. 25 (VII): 17-22
  5. BAPPEDA Kab. Demak. 2012. Tentang Kabupaten Demak. Pemerintah Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah
  6. Buchanan, J. B. 1971. Sediment Analisis. In Holme and McLntryre. Method for Study of Marine Benthos. Blackhel Scientific Publication. London. 387 hlm
  7. Fernedy, F. 2008. Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Muara Sungai Teluk Jakarta. [Skripsi]. Program Studi Ilmu Kelautan dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmi Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 64 hlm
  8. Hamidah, A. 2000. Keragaman dan Kelimpahan Komunitas Moluska di Perairan Bagian Utara Danau Kerinci, Jambi. [Tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 98 hlm
  9. Hicks, D.W. dan McMohan, R.F. 2002. Temperature Acclimation of Upper and Lower Thermal Limits and Freeze Resistance in the Nonindigenous Brown Mussel, Perna perna (L) from Gulf of Mexico. Marine Biology. 140:1167-1179
  10. Hidayat, J.F., Karyadi, B., dan Rini, S. 2004. Struktur Komunitas Mollusca Bentik Berbasis Kekeruhan di Perairan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. BIOMA. 6 (2): 53-56
  11. Irawan, I. 2008. Struktur Komunitas Moluska (Gastropodan dan Bivalvia) Serta Distribusnya di Pulau Burung dan Pulau Tikus, Gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. [Skripsi]. Departemen Biologi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 25 hlm
  12. Jaya, S., Utaminingsih dan Hermiyaningsih. 1994. Pedoman Analisis Kualitas Air dan Tanah Sedimen Perairan Payau. Direktorat Jenderal Perikanan. Balai Budidaya Air Payau. Jepara
  13. Marpaung, A.A.F. 2013. Keanekaragaman Makrozoobenthos di Ekosistem Mangrove Silvofishery dan Mangrove Alami Kawasan Pantai Boe Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. [Skripsi]. Program Studi Ilmu Kelautan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Hasanuddin. Makassar. 62 hlm
  14. Minarsih, M.M., Sri, S., dan Agustien, Z. 2009. Optimalisasi Pengelolaan Mangrove Berbasis Masyarakat Desa Betahwalang Kecamatan Bonang Kabupaten Demak. Majalah Ilmiah Universitas Pandanaran. 12 (2)
  15. Nurracmi, I. dan Marwan. 2012. Kandungan Bahan Organik Sedimen dan Kelimpahan Makrozoobenthos sebagai Indikator Pencemaran Perairan Pantai Tanjung Uban Kepulauan Riau. LIPI Universitas Riau. Pekanbaru. 9 hlm
  16. Nybakken, J. W. 1992. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh H. M. Eidman, D. G. Bengen, Koesbiono, Malikusworo, Sukristijono. Gramedia. Jakarta. 459. Hlm
  17. Pelupessy, S. A. 2004. Struktur Komunitas Moluska (Gastropoda dan Bivalvia) di Muara Sungai Cimandiri, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. [Skripsi]. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 86 hlm
  18. Razak, A. 2002. Dinamika Karakteristik Fisika-Kimia Sedimen dan Hubungannya Dengan Struktur Komunitas Moluska (Bivalvia dan Gastropoda) di Muara Bandar Bakali Padang. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 172 hlm
  19. Reynold, S.C. 1971. A Manual of Introductor Soil Science and Sampel Soil Analysis Metods. North Pacific Commison. 147 hlm
  20. Ridwan, M., Rizal, F., Ishma, F., dan Danang, A.P. 2016. Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Empat Muara Sungai Cagar Alam Pulau Dua, Serang, Banten. Al-Kauniyah Jurnal Biologi. 9 (1):57-65
  21. Riniatsih, I. dan Edi, W. K. 2009. Substrat Dasar dan Parameter Oseanografi Sebagai Penentu Keberadaan Gastropoda dan Bivalvia di Pantai Sluke Kabupaten Rembang. Ilmu Kelautan. 14(1):50-59
  22. Rizka, S., Zainal, A.M., Qurrata, A., Nur, F., dan Irma, D. 2016. Komunitas Makrozoobentos di Perairan Estuaria Rawa Gambut Tripa Provinsi Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kelautan dan Perikanan Unsyiah. 1 (1):134-145
  23. Sudjana. 1992. Metode Statistika. Penerbit Tarsito. Bandung. 508 hlm
  24. Triatmojo, B. 1999. Teknik Pantai. Beta Offset. Yogyakarta. 379 hlm
  25. USDA (United States Departement of Agriculture) Soil Conservation Service. 1994. Keys to Soil Taxonomy, Sixth Edition. Soil Survey staff. Washington D.C. 309 hlm
  26. Wulansari, N. 2001. Karakteristik Komunitas Makrozoobenthos dan Keterkaitannya dengan Tipe Habitat di Perairan Pantai Antara Kuala Tungkal sampai Panaran Batam. [Skripsi]. Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 83 hlm
  27. Yeanny, M.S. 2007. Keanekaragaman Makrozoobentos di Muara Sungai Belawan. Jurnal Biologi Sumatera. 2(2):73-41
  28. Yunitawati, Sunarto dan Hasan Z. 2012. Hubungan antara Karakteristik Substrat dengan Struktur Komunitas Makrozoobenthos di Sungai Cantigi, Kabupaten Indramayu. Jurnal Perikanan dan Kelautan. 3(3): 221-227

Last update: 2021-03-07 19:02:39

No citation recorded.

Last update: 2021-03-07 19:02:39

No citation recorded.