Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Usaha Industri Konveksi Berbasis Rumah di Kelurahan Tingkir Lor

Debora Decynthia Saragih  -  Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro, Indonesia
*Wido Prananing Tyas scopus  -  Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 9 Aug 2019; Revised: 27 Aug 2019; Accepted: 18 Mar 2020; Published: 31 May 2020.
Open Access
Citation Format:
Article Info
Section: Artikel
Language: ID
Statistics: 86 34
Abstract

Kelurahan Tingkir Lor terkenal sebagai sentra industri konveksi berbasis rumah yang telah berdiri sejak tahun 1970an dan masih berdiri hingga saat ini. Kegiatan ekonomi lokal ini ternyata berkontribusi besar terhadap pendapatan rumah tangga masyarakat lokal Tingkir Lor, namun pada saat ini usaha industri konveksi lainnya yang berada di luar Tingkir Lor baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri telah banyak berdiri sehingga membuat tingkat persaingan dalam pasar penjualan semakin berat. Ditambah lagi dengan tingkat pendidikan pemilik usaha industri konveksi berbasis rumah di Tingkir Lor yang tergolong rendah sehingga penggunaan teknologi juga masih tergolong kurang, produknya yang masih tergolong cenderung monoton, dan faktor – faktor lainnya yang dapat menghambat perkembangan usaha ini. Hal - hal inilah yang kemudian menarik untuk diteliti dengan tujuan untuk mengkaji faktor – faktor yang mempengaruhi perkembangan usaha industri konveksi berbasis rumah di Tingkir Lor. Penelitian ini menggunakan teknik analisis statistik deskriptif, analisis crosstab yang disertai dengan uji Chi-square dan didukung dengan data kualitatif dari hasil wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi perkembangan usaha ini lebih didominasi oleh faktor dari dalam usaha itu sendiri (internal) meliputi kualitas produk usaha, jangkauan lokasi pemasaran, kendala modal, dan tingkat pendidikan pemilik usaha, sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan usaha ini yaitu kondisi infrastruktur meliputi kondisi jalan, jaringan listrik dan jaringan telekomunikasi.

Keywords: faktor internal; faktor eksternal; perkembangan usaha; industri berbasis rumah; Tingkir Lor

Article Metrics:

  1. Avogo, F. A., Wedam, E. A., & Opoku, S. M. (2017). Housing transformation and livelihood outcomes in Accra, Ghana. Cities, 68, 92–103.
  2. Budi, I., Bhayangkara, W. D., & Fadah, I. (2016). Identification of Problems and Strategies of the Home-Based Industry in Jember Regency. Agriculture and Agricultural Science Procedia, 9, 363–370.
  3. Cahyanti, M. M., & Anjaningrum, W. D. (2017). Faktor-Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Usaha Kecil Sektor Industri Pengolahan di Kota Malang. Jurnal Ilmiah Bisnis Dan Ekonomi Asia, 11(2), 73–79.
  4. Chen, M. A., & Sinha, S. (2016). Home-based workers and cities. Environment and Urbanization, 28(2), 343–358.
  5. Dolling, N. (2018). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Usaha Mikro Kecil Berbasis Ekonomi Kreatif di Kota Makassar. Universitas Negeri Makassar.
  6. Elzaki, U., dkk. (2009). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Industri Kecil Knalpot Di Desa Sayangan Kecamatan Purbalingga Kabupaten Purbalingga. Universitas Negeri Semarang.
  7. Ghafur, S. (2001). Beyond homemaking: the role of slum improvement in home-based income generation in Bangladesh. Third World Planning Review, 23(2), 111–135.
  8. Gibson, J., & Olivia, S. (2010). The effect of infrastructure access and quality on non-farm enterprises in rural Indonesia. World Development, 38(5), 717–726.
  9. Gough, dkk. (2003). Making a living in African cities: The role of home-based enterprises in Accra and Pretoria. International Planning Studies, 8(4), 253–277.
  10. Gough, K. (2010). Continuity and adaptability of home-based enterprises: A longitudinal study from Accra, Ghana. International Development Planning Review, 32(1), 45–70.
  11. Haryono, T., dkk. (2018). Mengapa UKM Garmen di Kabupaten Klaten Mampu Bertahan di Tengah Persaingan Pasar Bebas? Ekuitas: Jurnal Ekonomi Dan Keuangan, 1(4), 552–570.
  12. Ilyas, I. (2016). Manajemen Limbah Home Industri Konveksi Pengusha Muslim Sebagai Upaya Menambah Pendapatan Ekonomi Keluarga di Desa Tingkir Lor Kec. Tingkir Kota Salatiga. Jurnal Penelitian Pendidikan, 33(2), 137–143.
  13. Mengistae, T. (2006). Competition and entrepreneurs’ human capital in small business longevity and growth. The Journal of Development Studies, 42(5), 812–836.
  14. Muzdalifah, A. U., & Alie, M. M. (2015). Pengaruh Keberadaan Industri Kecil Batik Khas Gumelem Kabupaten Banjarnegara terhadap Guna Lahan dan Sosial-ekonomi Masyarakat Lokal. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 4(2), 293–304.
  15. Ory, N. M. (2014). Coping Strategy Industri Kecil Konveksi di Masa Krisis Keuangan Nasional. Magister Thesis. Magister Studi Pembangunan Program Pascasarjana UKSW.
  16. Sekliuckiene, J., & Kisielius, E. (2015). Development of social entrepreneurship initiatives: a theoretical framework. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 213, 1015–1019.
  17. Shanmugam, K. R., dan Bhaduri, S. N., 2002, Size, Age, and Firm Growth in the Indian Manufacturing Sector, Applied Economics Letters, 9, pp: 607-613.
  18. Sheuya, S. (2009). Urban poverty and housing transformations in informal settlements: The case of Dar-es-Salaam, Tanzania. International Development Planning Review, 31(1), 81–108.
  19. Strassmann, W. P. (1987). Home-based enterprises in cities of developing countries. Economic Development and Cultural Change, 36(1), 121–144.
  20. Taufika, Y. D., & Rahayu, S. (2018). Kajian Pola Aliran Pada Industri Konveksi Di Desa Tingkir Lor, Kecamatan Tingkir. Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota), 7(1), 10–21.
  21. Thompson, P., dkk. (2009). Women and home-based entrepreneurship: Evidence from the United Kingdom. International Small Business Journal, 27(2), 227–239.
  22. Tipple, A., Coulson, J., & Kellett, P. (2002). The effects of home-based enterprises on the residential environment in developing countries (pp. 62–76). https://doi.org/10.3362/9781780441269.005
  23. Tipple, G. (2004). Settlement upgrading and home-based enterprises: discussions from empirical data. Cities, 21(5), 371–379.
  24. Tipple, G. (2005). The Place of Home-based Enterprises in the Informal Sector: Evidence from Cochabamba, New Delhi, Surabaya and Pretoria. Urban Studies, 42(4), 611–632. https://doi.org/10.1080/00420980500060178
  25. Trimarjono, A. & Kristiningsih. (2014). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Usaha Kecil Menengah (Studi Kasus pada UKM di Wilayah Surabaya). In The 7th NCFB and Doctoral Colloquium 2014 Towards a New Indonesia Business (pp 141-156). Surabaya, Indonesia: Fakultas Bisnis dan Pascasarjana, Universitas Katholik Widya Mandala Surabaya.
  26. Tyas, W. P. (2015). Resilience, a home-based enterprises and social assets in post-disaster recovery: a study from Indonesia. PhD Thesis. Newcastle University