skip to main content

Evaluasi Kebutuhan Air Persemaian di Kawasan Karst Nggorang Manggarai Barat, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur

1Universitas Gadjah Mada, Indonesia

2Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta, Indonesia

3Palawa Karya, Indonesia

Received: 7 Sep 2020; Published: 30 Nov 2020.
Editor(s): Sudarno Utomo

Citation Format:
Abstract

Rehabilitasi lahan dan reklamasi hutan merupakan dua contoh upaya pemenuhan kebutuhan akan kayu nasional. Program ini melibatkan proses regenerasi tanaman yang diawali dengan pembibitan tanaman hutan, misalnya dengan metode persemaian modern yang dapat mempercepat waktu kesiapan bibit. Persemaian modern merupakan pengembangan dari program kebun bibit yang telah dilaksanakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Sejalan dengan penetapan tujuan wisata super prioritas di Danau Toba di Sumatera Utara, Borobudur di Jawa Tengah, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Likupang di Sulawesi Utara, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, perencanaan persemaian modern difokuskan di Satar Kodi, Kelurahan Nggorang, Komodo, Manggarai Barat. Dalam hal ini, ketersediaan air menjadi faktor yang penting karena diperlukan sepanjang tahun, terlebih saat puncak musim kemarau. Keterdapatan air tanah sebagai sumber air kegiatan rangkaian persemaian dapat diketahui dengan pendekatan geofisika dan analisis data resistivitas. Metode pendugaan air tanah Vertical Electrical Sounding (VES), yakni injeksi arus listrik ke dalam bumi melalui dua elektroda potensial, digunakan untuk menghasilkan resistivitas. Melalui analisis matching curve, nilai log resistivitas dikorelasikan dengan nilai log batuan dan menghasilkan root mean square (RMS) sebesar 8,4%. Hasil analisis menunjukkan bahwa penyusun batuan terdiri atas batugamping dari Formasi Batugamping Berlapis (Tml) dan batulempung dengan sisipan tufan. Air tanah ditemukan di akuifer batugamping tufan yang, berdasarkan susunan batuannya, memiliki dua lapisan akuifer, yakni lapisan atas (kedalaman 7,5-24,04 m, potensi debit air tanah 5,68 liter/debit) dan lapisan bawah (kedalaman 46,24-106,68 m, debit 74,63 liter/detik). Lapisan bawah memiliki akuifer tebal (60,24 m) dan kedalaman potensial untuk sumur bor. Potensi ketersediaan air lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan air persemaian modern. 

ABSTRACT

Land rehabilitation and forest reclamation are among the strategies adopted to meet national demand for timber, and, for this purpose, forest plant nurseries should be prepared to regenerate new plants. Modern nursery, believed to shorten the time needed to produce transplants, is part of the nursery program introduced by the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) of the Republic of Indonesia. In line with the determination of Lake Toba in Sumatera Utara Province, Borobudur in Jawa Tengah, Mandalika in Nusa Tenggara Barat, Likupang in Sulawesi Utara, and Labuan Bajo in Nusa Tenggara Timur as super-priority tourist destinations, the modern nursery is currently prepared solely for Satar Kodi, Nggorang Subdistrict, Komodo, Manggarai Barat. Because it requires continuous supplies of water throughout the year, notably at the peak of the dry season, this research set out to determine groundwater availability using a geophysical approach and resistivity data analysis. Vertical Electrical Sounding (VES), which injects an electric current into the ground through two potential electrodes, yielded resistivity values. In the matching curve analysis, the log values of both resistivity and rock constituents were correlated, resulting in a root mean square (RMS) of 8.4%. The analysis revealed that the rock constituents were the limestone of the Bedded Limestone Formation (Tml) and claystone with intercalations of tuff. Groundwater was detected in tuffaceous limestone aquifer that, based on the rock arrangement, had two aquifer layers: the upper layer (depth= 7.5-24.04 m, discharge potential= 5.68 l/s) and the lower layer (depth= 46.24-106.68 m, discharge potential= 74.63 l/s). The lower layer had a thick aquifer (60,24 m) and potential depth for boreholes. Overall, groundwater availability is more than sufficient to meet the water needs of the modern nursery.

Fulltext View|Download
Keywords: Resistivitas, Batugamping, Air tanah, Persemaian, Debit air
Funding: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia

Article Metrics:

  1. Abrishambaf, O., Faria, P., Gomes, L., Vale, Z. 2020. Agricultural Irrigation Scheduling for A Crop Management Systemconsidering Water and Energy Use Optimization. Energy Report. Vol. 6. Pages 133-139
  2. Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2002. Standar Nasional Indonesia 19-67128.1-2002 tentang Penyusunan Neraca Sumber daya-Bagian 1: Sumber Daya Air Spasial. Badan Standardisasi Nasional (BSN). Jakarta
  3. Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2005. Standar Nasional Indonesia 13-7121-2005 Penyelidikan Potensi Air Tanah Skala 1:100.000 atau Lebih Besar. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta
  4. Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2012. Standar Nasional Indonesia 2818:2012 Tata Cara Pengukuran Geolistrik Schlumberger untuk Eksplorasi Air Tanah. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta
  5. Balasubramanya, S., Stifel, D. 2020. Viewpoint: Water, Agriculture & Poverty in an Era of Climate Change: Why Do We Know So Little?. Food. Policy. Vol. 93. Pages 1-10
  6. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 1995a. Litologi Akuifer Bali Nusra. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Jakarta
  7. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 1995b. Produktivitas Akuifer Bali Nusra. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Jakarta
  8. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 2018. Cekungan Air Tanah (CAT) Bali Nusra. Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Jakarta
  9. Dirjen Pekerjaan Umum Cipta Karya (DPU Cipta Karya). 1996. Pengembangan Kawasan Perkotaan, Kawasan Perdesaan. Dirjen Pekerjaan Umum. Jakarta
  10. Febriarta, E., Prabawa, B.A., dan Rosaji, F.S.C. 2018. Sumber Daya Air Pelapis, Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara. Prosiding Seminar Nasioanl Ke-4: Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai. Vol. 4. Hal 181-186
  11. Febriarta, E., Suswanti, dan Novandaru, S. 2019. Interpretasi Electrical Resistivity Tomography (ERT) Untuk Pendugaan Air Tanah Dangkal Pada Formasi Gunungapi Muda. Jurnal nasinal Teknologi Terapan. Vol. 13 No. 1. Hal 49-62
  12. Febriarta, E., dan Larasati, A. 2020. Karakteristik Akuifer Air Tanah Dangkal di Endapan Muda Merapi Yogyakarta. Jurnal Sains dan Teknologi Lingkungan. Vol. 12 No. 2. Hal 84-99
  13. Febriarta, E., Oktama, R., dan Purnama, S. 2020. Analisis Daya Dukung Lingkungan Berbasis Jasa Ekosistem Penyedia Pangan dan Air Bersih di Kabupaten Semarang. Geomedia. Vol. 18 No. 1. Hal 12-24
  14. Febriarta, E., dan Oktama, R. 2020. Pemetaan Daya Dukung Lingkungan Berbasis jasa ekosistem Penyedia Pangan dan Air Bersih di Kota Pekalongan. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol. 18 No. 2. Hal 283-289
  15. Febriarta, E., dan Purnama, S. 2020. Identifikasi Keterdapatan Air Tanah Dengan Electromagnetic Very Low Frequency (EM-VLF) di Non Cekungan Air Tanah Kecamatan Ungaran Timur. Jurnal Geosains dan Teknologi. Vol. 3 No. 2. Hal 52-62
  16. Febriarta, E., S., Marfai, M. A, Hizbaron, D. R., dan Larasati A. 2020. Kajian Spasial Multi Kriteria DRASTIC Kerentanan Air tanah Pesisir Akuifer Batugamping di Tanjungbumi Madura. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol. 18 No. 3. Hal 476-487
  17. Fetter, C. W. 2004. Applied Hydrogeology (5th ed.). Ogio. Merril Publishing Company
  18. Hadi, D.W. 2020. Pembangunan Persemaian Modern Mendukung Wisata Labuan Bajo. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jakarta
  19. Kurniaty, R., Danu. 2012. Teknik Persemaian. Balai Penelitian Teknologi Perbrnihan Tanaman Hutan. Bogor
  20. Lowrie, and William. 2007. Fundamental of Geophysics (2nd ed.). New York. Cambridge University Press
  21. Maino, P.A., Manu, E., Yidana, S.M., Agyekum, W.A., Stiger, T., Duah, A.A., Preko, K. 2019. Application of 2D-Electrical resistivity tomography in delineating groundwater potential zones: Case study from the voltaian super group of Ghana. Journal Of African Earth Sciences. Vol. 160. Pages 1-12
  22. Milsom. 2003. Field Geophysics, The Geological Field Guide Series (3rd ed.). London. West Sussex: John Wiley & Sons
  23. Pramono, A.A., Hudrajat, D.J., Nurhasbi, Danu. 2016. Prinsip-Prinsip Cerdas Pembibitan Tanaman Hutan.Penerbit Swadaya. Jakarta
  24. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM). 2012. Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Nomor 17 Tahun 2012. Republik Indonesia. Jakarta
  25. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM). 2017. Cekungan Air Tanah di Indonesia Nomor 2 Tahun 2017. Republik Indonesia. Jakarta
  26. Peraturan Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai Dan Hutan Lindung (Perdirjen PDASHL). Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan Dan Pengelolaan Persemaian Permanen 2019 Nomor :P.5/PDASHL/SET/KUM.1/4/2019. Republik Indonesia. Jakarta
  27. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK). 2020. Penyelenggaraan Perbenihan Tanaman Hutan Nomor P.3/MENLHK/SETJEN/KUM.1/1/2020. Republik Indonesia. Jakarta
  28. Ratman, N., dan Yasin, A. 1978. Peta Geologi Lembar Komodo, Nusa Tenggra. Direktorat Geologi. Bandung
  29. Setyaningrum, A., dan Febriarta, E. 2019. Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Ekowisata Pantai Kategori Rekreasi Pantai Kuwaru Kabupaten Bantul Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai ke-5. Vol. 5. Hal 36-41
  30. Singhal, B. B. S., & Gupta, R. P. 2010. Applied Hydogeology of Fracture Rock. London. Springer Dordrecht Heidelberg London
  31. Tamelan, P.G., dan Harijono. 2019. Pemenuhan Kebutuhan Air Minum Penduduk, Ternak dan Pertanian Didaerah Pedesaan Lahan Keringberiklim Kering Pulau Rote. Jurnal Ilmuah Teknologi FST Undana. Vol. 13 No. 1. Hal 39-47
  32. Telford, W. M., Geldart, L. P., and Sheriff, R. E. 2004. Applied Geophysics (2nd ed.). London. Cambridge University Press
  33. Todd, D. K., and Mays, L. W. 2005. Groundwater Hydrology (3rd ed.). Denver: John Wiley & Sons, Inc
  34. Traitler, H., Dubois, M., Heikes, K., Petiard, V., Zilberman. 2018. Megatrends in Food and Agriculture. Jhon Wiley & Sons. United Kingdom
  35. Uhlemann, S., Kuras, O., Richards, L. A., Naden, E., & Polya, D. A. 2017. Electrical Resistivity Tomography Determines The Spatial Distribution of Clay Layer Thickness and Aquifer Vulnerability. Kandal Province. Cambodia. Journal of Asian Earth Sciences, Vol. 147. Pages 402–414
  36. Ungureanu, C., Priceputu, A., Bugea, A. L., & Chiricǎ, A. 2017. Use of Electric Resistivity Tomography (ERT) for Detecting Underground Voids on Highly Anthropized Urban Construction Sites. Procedia Engineering, Vol. 209. Pages 202–209
  37. Valliano, E., Ridolfi, L., Laio, F. 2020. Measuring Economic Water Scarcity in Agriculture: A Cross-Country Empirical Investigation. Environmental Science and Policy. Vol. 114. Pages 73-85
  38. Vienastra, S., dan Febriarta, E. 2020. Penentuan Zona Kerentanan Airtanah Metode Simple Vertical Vurnerability di Pulau Yeben. Jurnal Swarnabhumi. Vol. 5 No. 2. Hal 58-66

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2021-11-30 16:41:34

No citation recorded.