Studi Potensi Airtanah pada Cekungan Airtanah (CAT) Banyumudal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah

*T. Listyani R.A. orcid scopus  -  Institut Teknologi Nasional Yogyakarta, Indonesia
Thomas Triadi Putranto orcid scopus  -  Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 10 Jun 2020; Published: 30 Nov 2020.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Cekungan Airtanah (CAT) Banyumudal terletak di Kabupaten Kebumen, seluas 67 km2. Mengacu pada peta geologi regional, daerah ini tersusun atas Formasi Halang, Kalipucang, dan Gabon. Maksud penelitian ini adalah menganalisis potensi airtanah CAT Banyumudal, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Metodologi yang digunakan adalah pengumpulan data sekunder, pemetaan hidrogeologi, akuisisi geolistrik konfigurasi Schlumberger dan uji pemompaan. Pemetaan hidrogeologi dilaksanakan pada 153 titik minatan, meliputi 110 sumur gali, 20 sumur bor, dan 23 mata air. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan nilai daya hantar listrik airtanah sebesar 115 - 1.251 μS/cm pada sumur gali, 507- 981 μS/cm pada sumur bor dan 259 - 604 μS/cm pada mata air. Derajat keasaman (pH) airtanah pada sumur gali sebesar 5,761 - 8,5, pada  sumur bor 7,013 - 8,333 dan pada mata air 6,747 - 8,204.  Hasil plot diagram Stiff menunjukkan adanya 12 tipe airtanah, sedangkan plot diagram Piper menunjukkan 4 fasies airtanah, yaitu fasies alkaline earth water predominantly hydrogencarbonate, fasies alkaline earth water with higher alkaline content predominantly hydrogencarbonate, fasies alkaline water predominantly hydrogencarbonate, dan fasies alkaline water predominantly sulphate chloride. Hal tersebut menunjukkan bahwa airtanah di daerah penelitian berkualitas sedang – sangat baik. Hasil interpretasi geolistrik menunjukkan bahwa litologi bawah permukaan berupa batulempung, batulempung pasiran, batupasir, batugamping, breksi dan tuf. Hanya akuifer bebas yang berkembang di daerah penelitian. Cadangan statis airtanah di daerah penelitian sebesar 200,7×106 m3 sedangkan cadangan dinamis sebesar 33,4 × 106 m3. Daerah penelitian dapat dibagi menjadi dua zona potensi airtanah, yaitu zona potensi airtanah rendah pada akuifer bebas dengan debit optimum 0,553 -  1,492 L/dtk dan zona potensi airtanah sedang pada akuifer bebas dengan debit optimum 2,651 -  3,024 L/dtk.

Keywords: Potensi, Kualitas, Kuantitas, Airtanah, CAT Banyumudal

Article Metrics:

  1. Asikin S., Handoyo, Prastistho, B. dan Gafoer, S. 1992. Peta Geologi Regional Lembar Banyumas skala 1:100.000. Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung
  2. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kebumen. 2015. Peta Penggunaan Lahan Kabupaten Kebumen, Bappeda Kabupaten Kebumen, Kebumen
  3. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kebumen, 2016. Kabupaten Kebumen dalam Angka 2016, BPS Kabupaten Kebumen, Kebumen
  4. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen, 2017. Kabupaten Kebumen dalam Angka 2017, BPS Kabupaten Kebumen, Kebumen
  5. Badan Pusat Statistik Kabupaten Kebumen, 2018. Kabupaten Kebumen dalam Angka 2018, BPS Kabupaten Kebumen, Kebumen
  6. Badan Standardisasi Nasional, 2015. Penyelidikan Potensi Airtanah Skala 1:100.000 atau Lebih Besar, Badan Standardisasi Nasional, Jakarta
  7. Bakosurtanal, 1999, Peta Rupa Bumi Indonesia Lembar 1308-342 Rowokele, Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional, Bogor
  8. Bisri, M. 2012. Studi Tentang Pendugaan Airtanah, Sumur Airtanah dan Upaya dalam Konservasi Airtanah, UB Press, Malang
  9. Danaryanto, Djaendi, Harnadi, D., Mudiana, W., dan Budiyanto. 2007. Kumpulan Panduan Teknis Pengelolaan Airtanah, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Badan Geologi, Pusat Lingkungan Geologi, Bandung
  10. Department of Agriculture, US. 1986. Urban Hydrology for Small Watersheds. Department of Agriculture (USDA)
  11. Effendi, T.A. 1985. Peta Hidrogeologi Lembar Pekalongan (Jawa) skala 1:250.000. Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Bandung
  12. Kabupaten Kebumen. 2012. Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 23 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kebumen Tahun 2011 – 2031. Pemerintah Provinsi Kabupaten Kebumen, Kebumen
  13. Kurlov, M., 1928. Classification of Curable Mineral Springs in Siberia. Tomsk
  14. Listyani R.A., T., 2020. Identifikasi Petrofisik Batuan sebagai Pendukung Karakteristik Hidrolik Akuifer pada Sub DAS Code, Yogyakarta. Jurnal Geosapta, Vol. 6 , No. 2, Juli 2020, Teknik Pertambangan, FT, Univ. Lambung Mangkurat, https://ppjp.ulm.ac.id/ journal/index.php/geosapta/issue/view/864
  15. Listyani R.A., T., Sulaksana, N., Alam, B.Y.C.S.S.S., Sudradjat, A., 2019, Topographic Control on Groundwater Flow in Central of Hard Water Area, West Progo Hills, Indonesia, International Journal of GEOMATE, Vol.17, Issue 60, pp.83-89, Geotec., Const. Mat. & Env., DOI: https://doi.org/10.21660/2019.60.8104
  16. Magesh, N.S., Chandrasekar, N., and Soundranayagam, J.P. 2012. Delineation of Groundwater Potential Zones in Theni District, Tamil Nadu, using remote sensing, GIS and MIF Techniques. Geosciences Frontiers 3 (2) (2012) 189-196
  17. Putranto, T.T. dan Aryanto, D., 2018. Spatial Analysis to Determine Groundwater Recharge Area in Purworejo Regency, Central Java Province/Indonesia. ICENIS 2018, E3S Web of Conferences 73, 0 (2018) https://doi.o rg/10.1051/e3sconf/20187303025
  18. Putranto, T.T. dan Purba, S., 2019. Application of Spatial Analysis for Delineating GroundwaterRecharge Zone for Industrial Usage in Tanah Bumbu Regency, South Borneo/Indonesia. IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering 598 (2019) 012093, doi: 10.1088/1757-899X/598/1/012093
  19. Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) dan Groundwater Working group (GWWG), 2016. Quo Vadis, Airtanah untuk Tanah Air Indonesia, PAAI, Bandung
  20. Republik Indonesia, 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Persayaratan Kualitas Air Minum. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta
  21. Republik Indonesia, 2017. Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia Nomor 2 tentang Cekungan Airtanah Indonesia. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, Jakarta
  22. Republik Indonesia, 2018. Peraturan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia Nomor 31 tentang Pedoman Penetapan Zona Konservasi Airtanah. Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral Republik Indonesia, Jakarta
  23. Rose, S. 2009. Groundwater recharge and discharge. Groundwater.Georgia State University. 3: 65-75. Atlanta. https://www.eolss.net/Sample-Chapters /C07/E2-09-06-07.pdf
  24. Risanti, A.A., Cahyono, K.A., Latifah, Putri, M.A., Rahmawati, N., Prameswari, S., Waskito, W.A., Adji, T.N., dan Cahyadi, A., 2018. Hidrostratigrafi Akuifer dan Estimasi Potensi Airtanah Bebas Guna Mendukung Kebutuhan Air Domestik Desa Sembungan. Majalah Geografi Indonesia. ISSN 2540-945X
  25. Setiadi, H. 2004. Peta Cekungan Airtanah Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta Skala 1:250.000, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Bandung
  26. Thornthwaite, C. W. 1948. An Approach Toward a Rational Classification of Climate. Geographical Review, Vol.38, No.1
  27. Todd, D.K., dan Mays, L.W. 2005. Groundwater Hydrology 3nd Edition, John Wiley &Sons, New York
  28. van Zuidam. 1983. Guide to Geomorphologic Aerial Photographic Interpretation and Mapping. ITC Enschede The Nederland. Belanda
  29. Zekai, S. 2015. Practical and Applied Hydrogeology, Elsevier: Amsterdam

Last update: 2021-02-24 10:36:03

No citation recorded.

Last update: 2021-02-24 10:36:04

No citation recorded.