1Program Studi Teknik Kimia Program Sarjana, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Indonesia
2Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia, Indonesia
BibTex Citation Data :
@article{JIL82778, author = {Habib Hakim and Muflih Adnan and Arif Hidayat}, title = {Analisis Siklus Hidup Biodiesel Berbahan Baku Minyak Goreng Bekas Menggunakan Katalis Lumpur Merah (Red Mud) dari Limbah Pertambangan Bauksit}, journal = {Jurnal Ilmu Lingkungan}, volume = {24}, number = {5}, year = {2026}, keywords = {biodiesel; minyak goreng bekas; life cycle assessment; eco-indicator 99; lumpur merah (red mud); dampak lingkungan; keberlanjutan}, abstract = {Produksi biodiesel berbahan baku minyak goreng bekas ( Waste Cooking Oil /WCO) memiliki potensi besar dalam mendukung pengelolaan limbah dan transisi menuju energi berkelanjutan, namun proses produksinya tetap berpotensi menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan mengevaluasi dampak lingkungan dari sistem produksi biodiesel WCO menggunakan katalis heterogen lumpur merah (red mud) dari limbah pertambangan bauksit, melalui pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) berwawasan cradle-to-gate dengan unit fungsional 1.000 kg biodiesel per hari, mencakup proses pengumpulan bahan baku, transportasi, perlakuan awal, sintesis katalis, dan transesterifikasi. Beban lingkungan dari pembentukan kedua bahan baku limbah diasumsikan nol (zero-burden) , sehingga batas sistem dimulai pada titik pengumpulan. Metode penilaian dampak yang digunakan adalah Eco-indicator 99 (E) V2.10/Europe EI 99 E/A dengan bantuan perangkat lunak SimaPro . Hasil analisis midpoint menunjukkan bahwa unit proses transesterifikasi menjadi hotspot utama pada sebagian besar kategori dampak, terutama potensi karsinogen (43,9% dari total sistem), bahan anorganik pernapasan (46,1%), perubahan iklim (38,2%), dan toksisitas ekologi (40,7%), yang dipengaruhi oleh tingginya penggunaan metanol, konsumsi energi listrik dan panas, serta potensi pelepasan residu bahan kimia. Hasil analisis endpoint mengonfirmasi transesterifikasi sebagai hotspot utama pada seluruh kategori kerusakan: kesehatan manusia (2,15E-03 DALY/ton; 45,3% dari total 4,75E-03 DALY/ton), kualitas ekosistem (39,99 PDF*m 2 yr/ton; 37,2% dari total 107,41 PDF*m 2 yr/ton), dan penggunaan sumber daya (116,46 MJ surplus/ton; 34,7% dari total 335,63 MJ surplus/ton). Praperlakuan WCO merupakan hotspot sekunder pada toksisitas ekologi dan bahan anorganik pernapasan, sedangkan aktivitas transportasi bahan baku menjadi kontributor signifikan pada kategori asamifikasi/eutrofikasi akibat jarak angkut yang panjang. Penelitian ini berfokus pada identifikasi hotspot dan peluang perbaikan kinerja lingkungan pada sistem yang dikaji. Strategi mitigasi yang direkomendasikan meliputi optimalisasi efisiensi energi pada proses transesterifikasi, penerapan sistem pemulihan dan daur ulang metanol, integrasi energi terbarukan, serta penguatan sistem pengumpulan bahan baku terdesentralisasi.}, pages = {1235--1246} doi = {10.14710/jil.24.5.1235-1246}, url = {https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ilmulingkungan/article/view/82778} }
Refworks Citation Data :
Article Metrics:
Last update:
Last update: 2026-09-30 17:12:44
View My Stats
JURNAL ILMU LINGKUNGAN ISSN:1829-8907 by Graduate Program of Environmental Studies, School of Postgraduate Studies is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License. Based on a work at www.undip.ac.id.