Perbedaan Antara Parasetamol dan Ketolorak Terhadap Kadar Substansi Serum Tikus Wistar Sebagai Analgesik

*Agus Purwo Hidayat  -  Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, Indonesia
Mohamad Sofyan Harahap  -  Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, Indonesia
Yulia Wahyu Villyastuti  -  Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, Indonesia
Published: 1 Mar 2017.
Open Access
Citation Format:
Abstract

Latar Belakang:Analgesik preemptif merupakan intervensi  analgesik yang dimulai sebelum stimulasi noksius muncul dalam hubungannya dengan blok perifer maupun nosisepsi sentral. Tujuanannya untuk menurunkan nyeri akut pasca trauma jaringan, mencegah modulasi nyeri pada SSP dan mencegah terjadinya nyeri kronis. Elemen penting dalam proses persepsi nyeri adalah substansi P dimana Fungsi sensoris substansi P diperkirakan berkaitan dengan transmisi informasi nyeri ke sistem saraf pusat. Parasetamol dan ketorolak sebagai obat anti-inflamasi non steroid dengan efek antipiretik dan analgetik. Berperan dalam menghambat enzim siklooksigenase. Hal ini diharapkan dapat mengetahui perbedaan kadar substansi P tikus wistar  pada keduanya sebagai pilihan analgesik preemptif. 

Tujuan: Mengetahui perbedaan efektivitas antara Parasetamol dan Ketorolak yang dinilai dari kadar Substansi P pada tikus Wistar sebagai analgesik preemptif. 

Metode: Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan disain Rondomize Pre and Post test  control group design. Sejumlah 21 ekor tikus, dibagi menjadi tiga kelompok yang dilakukan secara acak masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus untuk kelompok kontrol (K), 7 ekor tikus untuk kelompok perlakuan parasetamol atau K(1), 7 ekor tikus untuk kelompok perlakuan ketorolak atau  K(2). Setelah adaptasi selama 7 hari, tikus-tikus dari kelompok perlakuan maupun kontrol dilakukan pembiusan dengan menggunakan ketamin. Satu jam sebelum pembiusan, kelompok  K (1) diberi injeksi paracetamol 18 mg intravena dan kelompok K(2) diberi injeksi ketorolak  0,54 mg intravena. Sesudah terbius, bulu di sekitar punggung dicukur bersih dan didesinfeksi menggunakan betadine. Selanjutnya dibuat irisan sepanjang 2 cm dan kedalaman sampai subkutan. Luka irisan dibersihkan dan dioles larutan betadine, kemudian luka ditutup dengan lima jahitan tunggal sederhana menggunakan benang side. Selanjutnya jahitan dibersihkan, diolesi betadin dan dirawat. Paska pembedahan juga diberikan penisilin oil 15 mg. Pengambilan sampel darah untuk pemeriksaa kadar Substansi P dilakukan pada kelompok K, K(1) dan K(2) 1 jam sebelum pemberian parasetamol dan ketorolak, dan pada jam ke-4 setelah dilakukan insisi pada tikus wistar.

Hasil: Dilakukan perlakuan terhadap tikus wistar, terdapat 2 ekor yang drop out, sehingga jumlah sampel yang dianalisa sebanyak 30 sampel. Pada Uji Mann-Whitney kadar substansi P dalam kelompok parasetamol dibandingkan dengan kelompok ketorolak dibentuk secara signifikan berbeda (p = 0,016; p <0,005), sedangkan kadar substansi P kelompok Parasetamol ditemukan lebih rendah dari kelompok ketorolak.

Kesimpulan: Pemberian parasetamol sebagai analgesik preemptif dapat menurunkan kadar substansi P pada tikus model Wistar yang lebih signifikan dibandingkan dengan ketorolak.

Keywords: analgesik preemptive; substansi P; parasetamol; ketorolac

Article Metrics:

  1. Hurley,Robert. Acute postoperative Pain.Dalam: Miller RD. Miller’s anesthesia. Edisi 7. Pennsylvania: Elsevier Churchill Livingstone; 2010. Hlm.2757-2781
  2. De Oliveria, Gildasio. Perioperative Single Dose Ketorolac to Prevent Postoperative Pain: A Meta Analysis of Randomized Trials. Departement of anesthesiology, Northwestern University,Chicago; 2011
  3. Gottschalk A. New concepts in acute pain theraoy: preemptive anelgesia. American family physician.2001;63 (10)
  4. Kelly Dj,Ahmad M, Sorin J, Brull MD. Preemptive analgesia II: recent advances and current trends. Can J Anest 2001;48 (11): 1091-1101
  5. Sandkuhler J, Ruscheweyh R. Opioid and central sensitisation: I.Preemptive analgesia. European journal 2002;97(2): 306-14
  6. Kissin i. Pain medicine preemptive anelgesia at the crossroad. Anesthesia analgesia 2005;100:7546
  7. Substance P. Wikipedia [internet]. 2013 May 8 [cited 2013 June 16]. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Substance_P
  8. Turner RJ, Vink R. The Role Of Substance P In Ischaemic Brain Injury. Brain Sci 2013; 3: 123-142
  9. Papp A, Valtonen P. Tissue substance P levels in acute experimental burns. Burns 2006; 32: 842-5
  10. Duggan ST And Scott LJ. Intravenous Paracetamol (Acetaminophen).Drugs 2009;69:101-13
  11. Wilsey B, Fishman S . Minor and short acting opioids. Essential of pain management and regional anesthesia 2nd ed; 2005; 106-107
  12. OFIRMEV (acetaminophen) injection prescribing information. San Diego, CA: Cadence Pharmaceuticals, Inc.; November 2010. http://www.ofirmev.com/pdf/OFIRMEV PrescribingInformation.pdf. Diakses 20 Juni 2013
  13. U.S. Food and Drug Administration. Acetaminophen overdose and liver injury-background and options for reducing injury; 22 Mei 2009. http://www.fda.gov/ohrms/dockets/ac/09/briefing/2009–4429b1–01-FDA.pdf. Diakses 20 Juni 2013
  14. Skoglund LA, Skjelbred P, Fyllingen G. Analgesic efficacy of acetaminophen 1000 mg, acetaminophen 2000 mg, and the combination of acetaminophen 1000 mg and codeine phosphate 60 mg versus placebo in acute postoperative pain. Pharmacotherapy. 1991;11:364-369
  15. Pasero C, Stannard D. The Role of Intravenous Acetaminophen in Acute Pain Management. Pain Manag Nurs. 2012;13(2):107-124
  16. Aronoff DM, Oates JA, Boutaud O. New Insights Into The Mechanism Of Action Of Acetaminophen: Its Clinical Pharmacologic Characteristics Reflect Its Inhibition Of The Two Prostaglandin H2 Synthases. Clin Pharmacol Ther. 2006 Jan;79(1):9-19
  17. Smith HS. Potential Analgesic Mechanisms Of Acetaminophen. Pain Physician 2009; 12:269-280
  18. Malaise O, Bruyere O, Reginster JY. Intravenous Paracetamol: A Review Of Efficacy And Safety In Therapeutic Use. Future Neurology 2007; 22 (6): 673-88
  19. Bertolini A, Ferrari A, Ottani A, Guerzoni S, Tacchi R, Leone S. Paracetamol: New Vistas Of An Old Drug. CNS Drug Reviews 2006; 12 ( 3–4): 250–75
  20. Mattia C, Coluzzi F. What Anesthesiologists Should Know About Paracetamol (Acetaminophen). Minerva Anestesiologica 2009; 75(11): 644-53
  21. Stouten E, Armbruster S, Houmes R, et al. Comparison of ketorolac and morphine for postoperative pain after majorsurgery. Acta Anaesthesiol Scand ; 1992; 36:716–721
  22. Brown C, Mazzulla J, Mok M, et al. Comparison of repeatdoses of intramuscular ketorolactromethamine and morphinesulfate for analgesia after major surgery. Pharmacotherapy; 1990; 10:45S–50S
  23. Bosek V, Smith D, Cox C. Ketorolac or fentanyl to supplementlocal anesthesia? J Clin Anesth ; 1992; 4:480–483
  24. Greer I. Effects of ketorolac tomethamine on hemostasisPharmacotherapy ; 1990; 10:71S–76S
  25. Burke A, Smyth E, Fitzgerald GA. Analgesic-antipyretic agents. In : Goodman & Gilman’s The Pharmacological Basis of Therapeutics 11th ed. The McGraw-Hill Companies ; 2006

Last update: 2021-04-18 03:05:50

No citation recorded.

Last update: 2021-04-18 03:05:50

No citation recorded.