Kajian Limbah Kerajinan Batik Kayu di Desa Wisata Krebet Daerah Istimewa Yogyakarta

*Dyah Widyastuti  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Mukhlison Mukhlison  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Budi Kamulyan  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Melati Mulyan  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Ikhwanudin Rofi’i  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Nely Fibriana Rachman  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Dennis Albihad  -  Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia
Received: 6 Nov 2018; Revised: 1 Feb 2019; Accepted: 20 Feb 2019; Published: 2 Apr 2019.
Open Access Copyright 2019 JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN INDONESIA
License URL: http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0

Citation Format:
Article Info
Section: Research Articles
Language: ID
Statistics: 669 594
Abstract

Latar belakang: Desa wisata Krebet di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah yang berhasil berkembang dengan mengoptimalkan kerajinan batik kayu. Keterampilan masyarakat dalam berinovasi menghasilkan karya batik dengan media kayu menjadikannya sebagai sentra kerajinan batik kayu. Kerajinan batik kayu berpotensi menghasilkan limbah dengan kandungan logam berat yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi kandungan limbah kerajinan batik kayu yang meliputi jenis, volume dan konsentrasi limbah di Desa wisata Krebet.

Metode: Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dua cara, yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Data primer dilakukan dengan cara observasi lapangan, uji laboratorium untuk mengetahui kandungan logam berat, dan wawancara. Sampel dari data primer berupa limbah yang dihasilkan. Data sekunder berupa data penelitian orang lain dan dokumen instansi yang sudah dipublikasi. Hasil akhir semua data dianalisis secara deskriptif kualitatif untuk mendapatkan kesimpulan dari penelitian ini.

Hasil: Estimasi limbah padat yang dihasilkan mencapai ±17,712 m3/bulan dan limbah cair yang berasal dari proses pembatikan mencapai 305-533 L/bulan. Hasil uji laboratorium limbah cair diketahui parameter BOD, COD, TDS, TSS, dan Amonia Total telah melampaui baku mutu. Selain itu, uji sampel tanah menunjukkan unsur Cr, Cu, dan Zn melebihi baku mutu. Namun hasil uji laboratorium air sumur (variabel kontrol) tidak menunjukkan parameter yang melampaui baku mutu.

Simpulan: Kandungan limbah kerajinan batik kayu Desa Wisata Krebet berpotensi mencemari lingkungan di masa mendatang, meskipun saat ini belum mencemari air tanah.

 

ABSTRACT

Title: Study of Batik Kayu Handicraft Waste in Krebet Tourism Village Daerah Istimewa Yogyakarta

Background: Krebet tourism village in the province of Yogyakarta is area which developing successfully with optimizing wooden batik handicraft. The people skills to innovating batik with wood material makes the village as center of wooden batik handicraft. Wooden batik handicraft potentially to result the waste with containing heavy metals which can be cause environmental damage. Therefore, this research wants to assess the potential content the wooden batik waste in Krebet tourism village.

Method: Data collection is divided into two groups, primary and secondary data. The Primary data has been conducted by fieldworks, laboratory test to find out the content of heavy metals, and interviews. Type of primary data samples was the waste produced. The secondary data has been condcuted by collecting the other research results or institution documents. The final results of all data have been analyzed by descriptive qualitative to generate conclusions from this study

Result: The estimated of solid waste which produced is ± 17.712 m3/month and liquid waste which originated from the pembatikan process is 305-533 L/month. The result of liquid waste laboratory test was showing parameters of BOD, COD, and TSS has been exceeded the raw quality. Moreover, soil samples test was showing elements of Cr, Cu, Zn, and Total Ammoniac has been exceeded the quality raw. Nevertheless, the results of well water laboratory test (control variables) was not showing the parameters that exceeded the raw quality.

Conclusion: The contents of the wood batik waste in Krebet village have a potential to contaminating of environmental in the future, although, currently, ground water is not contaminated by waste.

 

 

Keywords: Desa Krebet; Batik Kayu; Limbah (Krebet Village; Wooden Batik; Waste)

Article Metrics:

  1. Kina. Batik Nusantara (Batik of the Archipelago). Jakarta, Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perindustrian; 2013.
  2. Hidayatullah, MN. Pengaruh Modal dan Tenaga Kerja Usaha Pengrajin Batik Tulis Klasik terhadap Tingkat Produksi (Studi Pada Industri Kecil Menengah “IKM” Batik Tulis Klasik di Desa Margorejo, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban). Jurnal Ekonomi Pembangunan Desember 2013, 11(2).200-210
  3. Aruman. Seni Kerajinan Batik Dengan Media Kayu Dusun Krebet Yogyakarta: Kelangsungan dan Perubahannya. Prosiding Seminar Internasional Universitas Negeri Semarang 2011.
  4. Sasongko DP. Identifikasi Unsur dan Kadar Logam Berat pada Limbah Pewarna Batik dengan Metode Analisis Pengaktifan Neutron. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2010, 27: 22-27.
  5. Sirait, M. Cleaner Production Options for Reducing Industrial Waste: The Case of Batik Industry in Malang, East Java-Indonesia. IOP Conference Series Earth and Environmental Science 2018, 106(1); 3-5.
  6. Dini, MK, Fida, R, Kuntjoro S. Potensi Jerami Sebagai Adsorben Logam Timbal (Pb) Pada Limbah Cair Industri Batik Sidokare, Sidoarjo. LenteraBio September 2016, 5(3):111–116
  7. Hunger K. Industrial Dies. Wiley-VCH. Germany; 2003.
  8. Rachmi, IS, Muyazannah. Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pemilik Industri Batik dalam Mengolah Limbah Produksi Batik di Kampung Batik Jetis Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo (Studi Kasus di Kampung Batik Jetis Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo). Swara Bhumi 2012, 01(1): 46-51.
  9. Peraturan Pemerintah Daerah. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 72 Tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Industri Dan/Atau Kegiatan Usaha Lainnya. Surabaya; 2013.
  10. Darmawan D, Siti F. Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap Pelestarian Lingkungan dengan Perilaku Wisatawan Dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan (Studi di Kawasan Objek Wisata Alam Gunung Galunggung Desa Linggajati Kecamatan Sukaratu Kabupaten Tasikmalaya). Jurnal Geografi 2016, 4(1); 37-49.
  11. Peraturan Pemerintah Daerah. Peraturan Daerah DIY No. 7 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah. Yogyakarta; 2016.
  12. Kurniawan WM, Purwanto P, Sudarno S. Strategi Pengelolaan Air Limbah Sentra UMKM Batik yang Berkelanjutan di Kabupaten Sukoharjo. Jurnal Ilmu Lingkungan 2013, 11(2): 62-72.
  13. Yudo S. Kondisi Kualitas Air Sungai Ciliwung di Wilayah DKI Jakarta ditinjau dari Parameter Organik, Amonia, Fosfat, Detergen dan Bakteri Coli. Jurnal Akuakultur Indonesia 2010, 6(1): 34-36.
  14. Permana DI, Widyastuti M. Studi Perubahan Kualitas Air Sungai Winongo Tahun 2003 dan 2012. Jurnal Bumi Indonesia 2013, 2(2); 53-62
  15. Effendi, H. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius. Yogyakarta; 2013.
  16. Hasan, A. Dampak Penggunaan Klorin. Jurnal Teknologi Lingkungan 2006, 7(1): 90-96.
  17. Kementerian Kependudukan dan Lingkungan Indonesia dan Universitas Dalhousie Kanada. Environmental Management in Indonesia. Report on Soil Quality Standards for Indonesia (interim report). Jakarta; 1992.
  18. Palar H. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Rineka Cipta. Jakarta; 2004.
  19. Yamato M, Okimori Y, Wibowo IF, Anshori S, Ogawa M. Effects of the application of charred bark of Acacia mangium on the yield of maize, cowpea and peanut, and soil chemical properties in South Sumatra, Indonesia. Soil Science and Plant Nutrition. 2006, 52(4): 489-495.
  20. Han I, Wee GN, No JH, Lee TK. Pollution level and reusability of the waste soil generated from demolition of a rural railway. Environmental Pollution 2018, 240: 867–874.
  21. Alloway BJ. Heavy Metals in Soils Blackie Academic & Professional. London; 1995.