skip to main content

Gejala Heat Strain pada Pekerja Pembuat Tahu di Kawasan Kamboja Kota Palembang

1Bidang Ilmu Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya, Jl.Palembang Prabumulih Km.32 Indralaya Sumatera Selatan 30662, Indonesia

2Bidang Ilmu Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya, Jl.Palembang Prabumulih Km.32 Indralaya Sumatera Selatan 30662, Indonesia

Open Access Copyright 2021 Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Latar belakang: Pabrik tahu merupakan salah satu tempat kerja yang berpotensi menimbulkan iklim kerja panas. Hal ini tidak terlepas dari penggunaan api sebagai media produksi yang dapat menyebabkan seseorang mengalami heat strain. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi gejala heat strain pada pekerja pembuat tahu dan faktor apa yang paling mempengaruhi gejala heat strain tersebut.

Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study dan penetapan sampel menggunakan teknik total sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 54 orang yang berasal dari enam pabrik tahu. Analisis data penelitian menggunakan uji chi square untuk analisis bivariat dan uji regresi logistik berganda untuk analisis multivariat.

Hasil: Hasil penelitian menunjukkan proporsi gejala heat strain pada pekerja sebesar 64,8% dan diketahui bahwa adanya hubungan antara iklim kerja panas (p-value = 0,008), usia (p-value = 0,014), dan konsumsi air minum (p-value = 0,002) dengan gejala heat strain, dan tidak adanya hubungan antara lama kerja (p-value = 0,077) dengan gejala heat strain. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara iklim kerja panas dengan gejala heat strain (p-value = 0,004) setelah dikontrol oleh variabel perancu.

Simpulan: Hasil penelitian diketahui bahwa iklim kerja panas merupakan faktor yang paling mempengaruhi gejala heat strain pada pekerja pembuat tahu di Kawasan Kamboja Kota Palembang. Pemilik pabrik tahu dapat melakukan perbaikan ventilasi dan memasang plafon di pabrik, serta menyediakan fasilitas air minum untuk memenuhi kebutuhan air 2,8 liter/hari bagi pekerja.

 

Title: Heat Strain Symptoms in Tofu Production Workers in Kamboja Area of Palembang City

Background: Tofu industry is one of workplaces which has potential in creating hot working climate. This industry cannot be separated from the use of fire as one of production element where exposure to fire may cause workers to experience heat strain. This study aimed to determine the proportion of heat strain symptoms in tofu workers and what factors most influence the symptoms of heat strain.

Method: This study used cross sectional study design and samples were determined by using total sampling technique.  Samples in this study amounted to 54 workers from six tofu making businesses. Analysis for study data was using chi-square test for bivariate analysis and multiple logistic regression test for multivariate analysis.

Result: The study showed that the proportion for workers with heat strain symptoms was 64.8%. It was found that there was a correlation between hot work climate (p-value = 0.008), age (p-value = 0.014), and water consumption (p-value = 0.002) with heat strain symptoms. Meanwhile, there is no correlation between work length (p-value = 0.077) with heat strain symptoms. The result of multivariate analysis showed that there was a correlation between hot working climate and heat strain symptoms (p-value = 0.004) after control applied from confounding variables.

Conclusion: The result showed that the hot working climate was the most influencing factor for the symptoms of heat strain on tofu workers. Tofu factory owners can repair ventilation and install ceilings in the factory. Besides, provide drinking water facilities to meet 2.8 liters/day for workers’ water needs.

Note: This article has supplementary file(s).

Fulltext View|Download |  Turnitin
Turnitin
Subject
Type Turnitin
  Download (1MB)    Indexing metadata
 CTA
Copyrigh Transfer Agreement
Subject
Type CTA
  Download (990KB)    Indexing metadata
 ES
Etichal Statement
Subject
Type ES
  Download (1MB)    Indexing metadata
Keywords: Iklim kerja panas; heat strain; pekerja pembuat tahu; api tungku

Article Metrics:

Article Info
Section: Research Articles
Language : ID
Statistics:
  1. Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia. Penerapan K3 Lingkungan Kerja. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 5 Tahun 2018 Republik Indonesia; 2018
  2. Graha AS. Adaptasi Suhu Tubuh Terhadap Latihan dan Efek Cedera di Cuaca Panas dan Dingin. J Olahraga Prestasi. 2010;6(2):123-34
  3. Jacklitsch B, Williams W, Musolin K, Coca A, Kim J-H, Turner N. Criteria for A Recommended Atandard: Occupational Exposure to Heat and Hot Environments [Internet]. Revised Cr. US Department of Health and Human Services. National Institute; 2016. Available from: https://www.cdc.gov/niosh/docs/2016-106/default.html
  4. Cheshire WPJ. Thermoregulatory disorders and illness related to heat and cold stress. Auton Neurosci. 2016 Apr;196:91-104. https://doi.org/10.1016/j.autneu.2016.01.001
  5. Lundgren K, Kuklane K, Gao C, Holmér I. Effects of Heat Stress on Working Populations When Facing Climate Change. Ind Health. 2013;51(1):3-15. https://doi.org/10.2486/indhealth.2012-0089
  6. Africa Research Institute. Between Extremes Health Effects of Heat and Cold. Environ Health Perspect. 2015;123(11):275-80. https://doi.org/10.1289/ehp.123-A275
  7. Choudhary E, Vaidyanathan A. Heat Stress Illness Hospitalizations-Environmental Public Health Tracking Program, 20 States, 2001-2010 [Internet]. Vol. 63, MMWR Surveillance Summaries. 2014. Available from: https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/ss6313a1.htm
  8. Flouris AD, Dinas PC, Ioannou LG, Nybo L, Havenith G, Kenny GP, et al. Workers' health and productivity under occupational heat strain: a systematic review and meta-analysis. Lancet Planet Heal. 2018;2(12):e521-31. https://doi.org/10.1016/S2542-5196(18)30237-7
  9. Setyaningsih Y, Imas K, Suroto. Working climate, physical workload and its relation to heat strain on construction workers at airport development project. Int J Civ Eng Technol. 2018;9(9):37-42
  10. Ramdan IM, Aguswigati RP, Nuryanto MK, Susanti R. Heat Strains among Diesel Power Plant Operators and Related Factors. Indian J Public Heal Res Dev. 2020;11(7):1329-34
  11. Santoso EI. Kenyamanan Termal Indoor pada Bangunan di Daerah Beriklim Tropis Lembab. Indones Green Technol J. 2012;1(1):13-9
  12. Irawati A. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Keluhan Heat Strain pada Pekerja Pabrik Tahu X dan Y di Jakarta Selatan Tahun 2019. Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta; 2019
  13. Badan Standardisasi Nasional. SNI 16-7061-2004 Tentang Pengukuran Iklim Kerja (Panas) dengan Parameter Indeks Suhu Basah dan Bola. 2004
  14. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2016 Republik Indonesia; 2016
  15. Moran DS, Shitzer A, Pandolf KB. A physiological strain index to evaluate heat stress. Am J Physiol - Regul Integr Comp Physiol. 1998;275(1):R129-34. https://doi.org/10.1152/ajpregu.1998.275.1.R129
  16. Istiqoma N. Hubungan Iklim Kerja Panas dengan Risiko Heat Strain pada Pekerja Industri Kerupuk Kemplang di Kecamatan Seberang Ulu I Palembang. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya; 2019
  17. Maknun YFJ. Hubungan Karakteristik Individu dan Iklim Kerja dengan Kejadian Heat Strain pada Pekerja Bagian Produksi Pabrik Es Lilin Brasil Sokaraja. Universitas Jenderal Soedirman; 2019
  18. Fatimah, Juanda, Santoso I. Jenis Atap, Suhu dan Kelembaban dalam Rumah. J Kesehat Lingkung. 2019;16(1):727-32. https://doi.org/10.31964/jkl.v16i1.108
  19. Antou RS. Mutu Ekologis Material Penutup Atap. J Perad Sains, Rekayasa dan Teknol. 2013;1(2):71-7
  20. Vidyautami DN, Huboyo HS, Hadiwidodo M. Pengaruh Penggunaan Ventilasi (AC dan non AC) dalam Ruangan terhadap Keberadaan Mikroorganisme Udara di Ruangan Kuliah Jurusan Teknik Sipil Unversitas Diponegoro. J Tek Lingkung. 2015;4(1):1-8
  21. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 Republik Indonesia; 2016
  22. Ellyas A. Rancang Bangun Pengatur Kecepatan Kipas Pembuangan Menggunakan Sensor Asap AF30 Berbasis Mikrokontroler ATMEGA8535. Universitas Diponegoro; 2010
  23. Ichsan M, Zulwisli Z. Pengendalian Suhu dan Kelembapan Greenhouse Menggunakan Exhaust Fan. VoteTEKNIKA J Vocat Tek Elektron dan Inform. 2020;8(4):80-5
  24. Giriwijoyo S, Sidik DZ. Ilmu faal olahraga. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset; 2012
  25. Gabriel JF. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC; 2019
  26. Hall JE, Guyton AC. Text book of medical physiology Philadelphia. PA: Elsevier; 2016
  27. Fadhilah R. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Heat Strain pada Pekerja Pabrik Kerupuk di Wilayah Kecamatan Ciputat Timur Tahun 2014. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; 2014
  28. Strydom NB. Age as a causal factor in heat stroke. J South African Inst Min Metall. 1971;72(4):112-4
  29. Berry C, McNeely A, Beauregard K. A guide to preventing heat stress and cold stress. NC Department of Labor Occupational Safety and Health Program; 2011
  30. Haroun MT. Dry skin in the elderly. Geriatr Aging. 2003;6(6):41-4
  31. Adiningsih R. Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Heat Strain pada Tenaga Kerja yang Terpapar Panas di PT Aneka Boga Makmur. Indones Occup Saf Heal. 2013;2(2):145-53
  32. Presiden Republik Indonesia. Ketenagakerjaan. Undang-Undang Republik Indonesia No.13 Tahun 2003 Republik Indonesia; 2003
  33. Sutono KIT. Determian Kejadian Heat Strain pada Pekerja Konstruksi di Proyek Pengembangan Bandara Ahmad Yani. Universitas Diponegoro; 2018
  34. Nofianti DW, Koesyanto H. Masa Kerja, Beban Kerja, Konsumsi Air Minum dan Status Kesehatan dengan Regangan Panas pada Pekerja Area Kerja. Higeia J Public Heal Res Dev. 2019;3(4):524-33
  35. Tarwiyanti D, Hartanti RI, Indrayani R. Beban Kerja Fisik dan Iklim Kerja dengan Status Hidrasi Pekerja Unit P2 Bagian (Wood Working 1) WW1 PT. KTI Probolinggo. Pustaka Kesehat. 2020;8(1):60. https://doi.org/10.19184/pk.v8i1.11200
  36. Direktorat Kesehatan Kerja Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia. Pedoman Kebutuhan Cairan Bagi Pekerja agar Tetap Sehat dan Produktif. I. Jakarta; 2014
  37. Hermawan L, Setyo H, Rahayu S. Pengaruh Pemberian Asupan Cairan (Air) Terhadap Profil Denyut Jantung Pada Aktivitas Aerobik. JSSF (Journal Sport Sci Fitness). 2012;1(2):14-20
  38. Hardinsyah S, Razaktaha DB, Effendi MA, Aries M, Lestari KS, Nindya TS, et al. Kebiasaan minum dan status hidrasi pada remaja dan dewasa di dua wilayah ekologi berbeda. Tim THIRST Bogor PERGIZI PANGAN Indones. 2010;53-62
  39. Mintarto E, Fattahilah M. Efek Suhu Lingkungan terhadap Fisiologi Tubuh pada Saat Melakukan Latihan Olahraga. J Sport Exerc Sci. 2019;2(1):9-13. https://doi.org/10.26740/jses.v2n1.p9-13

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.