skip to main content

Pengendalian Nyamuk Aedes Sp Oleh Keluarga Terhadap Risiko Keruangan

1Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang Jln Simpang Pondok Kopi Siteba Padang, Indonesia

2Universitas Negeri Padang, Indonesia

Open Access Copyright 2023 Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia under http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0.

Citation Format:
Abstract

Latar Belakang: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dan”disebarkan oleh vektor. Virusnya dikenal dengan nama Dengue. Kasus pertama DBD terjadi tahun 1968 di Surabaya. Peningkatan jumlah kasus terjadi setiap tahun. Kasus DBD belum hilang sepenuhnya di Indonesia, hampir setengah abad lebih kasus DBD masih ada. Keadaan iklim, vektor nyamuk, populasi hingga kekebalan masyarakat mempengaruhi kebedaaannya.  Adapun tujuan penelitian ini untuk“mengetahui distribusi”karakteristik penampungan air”, distribusi keberadaan sarang nyamuk dan distribusi intervensi pengendalian sarang nyamuk oleh keluarga.

Methods: Desain penelitian ini adalah jenis deskriptif analitik melalui observasi dan survei larva.

Hasil: Hasil penelitian karakteristik penampungan air yang potensial menjadi sarang nyamuk terbanyak adalah jenis Non Penampungan (Non TPA) pada kelurahan Surau Gadang dan Kurao Pagang sebesar 58 %. Keberadaaan sarang nyamuk potensial di kedua kelurahan TPA terbanyak adalah pada Kurao Pagang sebesar 57,1 %  pada Non TPA. Pelaksanaan intervensi pengendalian sarang nyamuk adalah Non Penampungan dengan menutup pada TPA sebesar 63,1 % di Kelurahan Kurao Pagang. Upaya pengendalian yang seimbang penampungan air (TPA/Non TPA dan TPA alamiah potensial guna mendorong penduduk dengan petugas kesehatan aktif untuk memonitor jentik pada TPA dan pemantauan jentik berkala (PJB) secara mandiri dan berkualitas sehingga dapat memelihara kondisi sekitar lingkungan rumah sebagai tempat berkembangbiak nyamuk.

Simpulan: Pengendalian nyamuk Aedes sp oleh keluarga dapat digunakan sebagai kewaspadaan dini dalam menurunkan risiko keruangan potensi sarang nyamuk.

 

ABSTRACT

Title: Control of Aedes sp mosquitoes by the family against spatial risks

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF)”is*caused by a virus and*is spread by vectors. The virus is known as Dengue. The first DHF case in Indonesia was reported in Surabaya in 1968. Every year, the number of cases increases. “After more than half a century has passed=, cases of DHF in Indonesia have not completely disappeared. A number of influential factors in it such as climate, mosquito vectors, mosquito populations, to communal immunity (society). This research aims to determine the distribution” of the characteristics of water reservoirs, the distribution of the presence of mosquito nests and the distribution of mosquito nest control interventions by families.*

Methods: The design of this research is descriptive analytic0 type through larval observation and survey.

Results:The results of research on characteristics water reservoirs that +have the potential to become mosquito breeding+are the types of Non Shelter (Non TPA) in Surau Gadang dan Kurao Pagang Villages by 60%. The presence of potential mosquito breeding in the two TPA sub districts was the highest in Kurao Pagang by 57,14% in Non TPA. The implementation of the mosquito breeding control intervention is Non Shelter by closing the TPA as large as 64,00% in Kurao Pagang village. Balanced control efforts for water reservoirs (TPA/ Non TPA and potential natural landfills to encourage the community and health managers to +actively monitor the presence of larvae in the TPA and periodic lartic Monitoring (PJB) independently and with quality to maintain the condition of te home environmet and to avoid it as a breeding place.

Conclusion: Control of Aedes aegypti mosquitoes by families can be used as early vigilance in reducing the risk of potential mosquito nests.

Note: This article has supplementary file(s).

Fulltext View|Download |  EC
Etical Cleareance
Subject
Type EC
  Download (550KB)    Indexing metadata
 Turnitin
Turnitin
Subject
Type Turnitin
  Download (2MB)    Indexing metadata
 ES
Etichal Statement
Subject
Type ES
  Download (287KB)    Indexing metadata
 CTA
Copyright Transfer Agreement
Subject
Type CTA
  Download (279KB)    Indexing metadata
Keywords: Karakteristik; Interaksi Pengendalian; Tempat berkembangbiak
Funding: Poltekkes Kemenkes Padang

Article Metrics:

  1. Siti Juriah; Ferra Yanuar. PENDUGAAN PENYEBARAN PENYAKIT DEMAM. 2019;VIII(1):313–7. https://doi.org/10.25077/jmu.8.1.313-317.2019
  2. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Penyakit Demam Berdarah Di Indonesia 2017. Vol. 31, Journal of Vector Ecology. 2018. p. 71–8
  3. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indo-nesia. Jakarta; 2021. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
  4. Depkes RI. Demam Berdarah Dengue. Bul Jendela Epidemiol. 2010;2
  5. Cakranegara JJS. Upaya Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue Di Indonesia (2004-2019). J Penelit Sej Dan Budaya. 2021;7(2):281–311. https://doi.org/10.36424/jpsb.v7i2.274
  6. Sukesi TW, Mulasari SA, Sulistyawati. Kepedulian Masyarakat terhadap Pengendalian Demam Berdarah Dengue ( DBD ) Saat Pandemi Covid 19 di Indonesia Community Awareness for Controlling Dengue Hemorrhagic Fever ( DHF ) During the Covid 19 Pandemic in Indonesia. J Vektor Penyakit. 2022;16(1):69–80. https://doi.org/10.22435/vektorp.v16i1.5949
  7. Palgunadi BU, Rahayu A. Aedes aegypti sebagai Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue. Fak Kedokt Univ Wijaya Kusuma Surabaya. 2011;2:1–7
  8. Alvarado-Castro V, Paredes-Solís S, Nava-Aguilera E, Morales-Pérez A, Alarcón-Morales L, Balderas-Vargas NA, et al. Assessing the effects of interventions for Aedes aegypti control: Systematic review and meta-analysis of cluster randomised controlled trials. BMC Public Health. 2017;17(Suppl 1). https://doi.org/10.1186/s12889-017-4290-z
  9. Agustian NFUSCLLFD. Upaya Pengendalian Aedes aegypti di Desa Cibeusi dan Cikeruh Kecamatan Jatinangor berdasar atas Populasi Nyamuk. Glob Med Heal Commun. 2018;6(Vol 6, No 1 (2018)):42–8
  10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia. Profil Kesehatan Provinsi Bali. 2019
  11. Sumekar DW, Nurmaulina W. Upaya Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue, Aedes aegypti L. Menggunakan Bioinsektisida. Majority. 2016;5(2):131–5
  12. Anggraeni P, Heridadi, Widana IK. Faktor Risiko (Breeding Places, Resting Places, Perilaku Kesehatan Lingkungan, dan Kebiasaan Hidup) Pada Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang. J Manaj Bencana [Internet]. 2018;4(1):1–24. Available from: http://jurnalprodi.idu.ac.id/index.php/MB/article/viewFile/229/211
  13. Boesri H. Biologi dan Peranan Aedes albopictus (Skuse) 1894 sebagai Penular Penyakit. Aspirator. 2011;3(2):117–25
  14. Amirus K. Analisis Keberadaan Jentik Nyamuk Aedes Aegypti Di Kelurahan Bukit Kemiling Permai RT 10 Kecamatan Kemiling Kota Bandarlampung Tahun 2012. 2015;3(April):54–61
  15. Dinas Kesehatan Kota Padang. Profil Kesehatan Tahun 2019. Padang; 2019
  16. Kinansi RR, Sastuti T, Sholichah Z. Pengendalian Jentik Aedes sp. Melalui Pendekatan Keluarga Di Provinsi Papua. Media Penelit dan Pengemb Kesehat. 2018;28(2):113–22. https://doi.org/10.22435/mpk.v28i2.120
  17. Adrianto H. Fitotelmata: Tempat Perindukan Nyamuk Terabaikan Selama Pandemi COVID-19. J Enviscience. 2021;5(1):25. https://doi.org/10.30736/5ijev.v5iss1.249
  18. Kusuma AP, Sukendra DM. Analisis Spasial Kejadian Demam Berdarah Dengue Berdasarkan Kepadatan Penduduk. Unnes J Public Heal. 2016;5(1):48. https://doi.org/10.15294/ujph.v5i1.9703
  19. Tika M, Widya C. Analisis Spasial Faktor Risiko Lingkungan Pada Kejadian Demam Berdarah Dengue. Higeia J Public Heal Res Dev. 2019;1(3):625–34
  20. Kinansi RR, Pujiyanti A. Pengaruh Karakteristik Tempat Penampungan Air Terhadap Densitas Larva Aedes dan Risiko Penyebaran Demam Berdarah Dengue di Daerah Endemis di Indonesia. Balaba J Litbang Pengendali Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara. 2020;1–20. https://doi.org/10.22435/blb.v16i1.1924
  21. Wanti W, Darman M. Tempat Penampungan Air dan Kepadatan Jentik Aedes sp. di Daerah Endemis dan Bebas Demam Berdarah Dengue. Kesmas Natl Public Heal J. 2014;9(2):171. https://doi.org/10.21109/kesmas.v9i2.514
  22. Gesriantuti N, Badrun Y, Fadillah N. KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA NYAMUK Aedes PADA DAERAH ENDEMIS DEMAM BERDARAH DENGUE DI KOTA PEKANBARU. Phot J Sain dan Kesehat. 1930;8(01):105–14. https://doi.org/10.37859/jp.v8i01.541
  23. Saleh Ismael TTS. Identifikasi dan Pengukuran Kepadatan Larva Nyamuk Aedes di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Pontianak Barat. J Mhs dan Peneliti Kesehat. 2022;9(1):27–37. https://doi.org/10.29406/jjum.v9i1.4117
  24. Dompas BE, Sumampouw OJ, Umboh JML. Apakah Faktor Lingkungan Fisik Rumah Berhubungan dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue. J Public Heal Community Med. 2020;1(2):11–5
  25. Onasis A, Hidayanti R, Katiandagho D, Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Padang J, Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Manado I. Tempat Penampungan Air (TPA) dengan Kepadatan Jentik Aedes aegypti di Kota Padang. EjurnalPoltekkes-ManadoAcId. 2022;12(1):120–5
  26. Budiman A. Hubungan Keberadaan Jentik Nyamuk Dan Perilaku Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (Psn-Dbd) Masyarakat Di Daerah Endemis Dan Non Endemis Kecamatan Nanggulan Kabupaten Kulon Progo. Indones J Public Heal. 2017;11(1):28. https://doi.org/10.20473/ijph.v11i1.2016.28-39
  27. Sholihah NA, Weraman P, Ratu JM. Analisis Spasial dan Pemodelan Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue Tahun 2016-2018 di Kota Kupang. J Kesehat Masy Indones. 2020;15(1):52. https://doi.org/10.26714/jkmi.15.1.2020.52-61
  28. Khairunisa Ummi; wahyuningsih Nur Endah;Hapsari. Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes Sp. (House Index) Sebagai Indikator Surveilans Vektor Demam Berdarah Dengue Di Kota Semarang. J Kesehat Masy. 2017;5(5):906–10
  29. Widjajanti W. Kepadatan Jentik Aedes Sp . Vektor Penular Demam Berdarah Dengue di Tiga Kabupaten Provinsi Kalimantan Tengah. Bul Penelit Kesehat. 2020;48(2):83–90. https://doi.org/10.22435/bpk.v48i2.2593
  30. World Health Organization. Comprehensive guidelines for prevention and control of dengue and dengue haemorrhagic fever. Prarittisuk Chusak; Kalra;Dash, editor. WHO Regional Publication SEARO. India; 2011. 159–168 p
  31. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Vol. 5, Pedoman pencegahan dan pengendalian demam berdarah di indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal P2P; 2017. p. 1–128
  32. Lilik NIS, Budiono I. Indonesian Journal of Public Health and Nutrition Article Info. Indones J Public Heal Nutr. 2021;1(1):101–13

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2024-05-24 02:43:49

No citation recorded.