skip to main content

Analysis on Determinants of Pulmonary Tuberculosis Officer Motivations In Tuberculosis Case Invention in Semarang Regency (A Case Study in Several Primary Health Care Centers)

*Joyo Minardo  -  Akademi Keperawatan Ngudi Waluyo, Ungaran, Indonesia
Ayun Sriatmi  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia
Septo Pawelas Arso  -  Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Penderita Tuberkulosis dengan status Basil Tahan Asam (BTA) positif dapat menularkan ke 1015 orang lain setiap tahunnya, sehingga penemuan kasus penting dilaksanakan. Cakupan penemuan kasus tuberkulosis dengan BTA positif di Kabupaten Semarang tahun 2009 jauh di bawah cakupan nasional. Rendahnya disebabkan karena motivasi petugas yang kurang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor yang dapat menurunkan motivasi petugas TB dalam  penemuan kasus di Kabupaten Semarang. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif.  Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara mendalam, dan data sekunder dengantelaah dokumentasi. Subjek penelitian adalah petugas Tuberkulosis Paru di Puskesmas.  Pemilihan subjek dilakukan secara purposive. Informan utama berjumlah 18 orang, terdiri dari 6 orang perawat, 6 orang Analis dan 6 orang dokter kepala Puskesmas. Informan triangulasi adalah 6 orang petugas BP, dan satu orang Kasie P2M Dinkes Kabupaten Semarang. Analisis data dilakukan dengan content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi  petugas rendah karena pekerjaannya merupakan penunjukkan pimpinan Puskesmas dan membutuhkan waktu yang lama serta berisiko tertular oleh penderita. Tanggung jawab dalam menyelesaikan pekerjaan kurang karena beban pekerjaan yang banyak, bekerja tanpa target dan motivasi. Petugas tidak mendapatkan kompensasi, membutuhkan dukungan dari pimpinan untuk mengeluarkan ide dan gagasan dalam penemuan kasus. Sarana transportasi untuk penemuan kasus tidak ada. Puskemas tidak memiliki rencana implementasi kebijakan program penemuan kasus, dan sistem supervisi terhadap cakupan penemuan kasus belum optimal. Disimpulkan bahwa motivasi petugas Tuberculosis Paru dalam penemuan kasus masih rendah, karena belum ada dukungan dan tanggung jawab masih kurang serta sistem kompensasi dan supervisi yang belum ada.

 

Tuberculosis patients with positive acid fast bacilli (BTA) were able to infect 10-15 other people every year; therefore case detection was important to be implemented. Detection coverage of tuberculosis cases with positive BTA in Semarang district was far below national coverage. This low coverage could be caused by low motivation of tuberculosis (TB) health workers. Objective of this study was to analyze factors that decreased motivation of TB workers in conducting case detection in Semarang district. This was a qualitative study. Primary data collection was done by conducting in-depth interview; secondary data collection was done by conducting documentation review. Study subjects were lung tuberculosis workers in the primary healthcare centers. Subjects were purposively selected. The number of main informants was 18 people. The main informants were six nurses, 6 analysts, and six heads of primary health care centers. Triangulation informants were six polyclinic health workers, and one head of communicable disease control unit of Semarang district health office. Content analysis method was applied in the data analysis. Results of the study showed that motivation of TB workers was low due to the works were assigned by the primary healthcare centers leader, the work took longer time, and workers were at risk to get infection from patients. Responsibility to finish the works was low due to high amount of workload, work without target and motivation. TB workers did not get compensation; they needed support from the leader to express their ideas in the case detection. Transportation facility for case detection was not provided. The primary healthcare centers did not have planning to implement case detection program policy. Supervision system on case detection coverage was not optimal. In conclusion, motivation of lung tuberculosis workers in case detection was low. It was caused by no supports, insufficient responsibility, and no compensation and supervision.

Fulltext View|Download
Keywords: motivation;TB workers;case detection

Article Metrics:

  1. WHO. Global Tuberculosis Control: Survaeillance. planning,financing, bercugene, 2006
  2. Aditama, Tjandra Yoga. Pencapaian MGDs Untuk Tuberkulosis (temu media ) Dirjen P2PL Kementrian Kesehatan RI. Jakarta, jumat ( 17-12-2010)
  3. Departemen Kesehatan RI. Petunjuk Pelaksanaan Penetapan Indikator Menuju Indonesia Sehat 2010 . Jakarta, 2001
  4. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta, 2008
  5. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Kerja di Puskesmas: Jakarta, 2008
  6. Primartanto, Ukky. Puluhan Ribu Penderita TBC di Jawa Tengah Tak Terdeteksi, http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa tanggal 23 maret 2010
  7. Nursalam. Manajemen Keperawatan, Aplikasi Dalam Praktik Keperawatan Profesional. Cetakan 1; Salemba Medica; Jakarta, 2002
  8. Hasibuan, Malayu. Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit PT Bumi Aksara; Jakarta, 2002
  9. Depkes RI. Pedoman Penyusunan Perencanan Sumber Daya Manusia Kesehatan di tingkat Provinsi/Kota serta Rumah sakit. Kepmenkes No 81/ Menkes/SK/I/2004
  10. Mangkuprawira, Sjafri. Manajemen Mutu Sumber Daya Manusia. Penerbit Ghalia Indonesia; Bogor, 2007
  11. Anwar.P.M. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia, Penerbit PT Refika Aditama; Bandung, 2009
  12. Azwar, Azrul, Pengantar Administrasi Kesehatan, Binarupa Aksara; Jakarta, 1996
  13. Hamzah.H. Teori Motivasi dan Pengembangan Analisis di Bidang Pendidikan. PT Bumi Aksara; Jakarta, 2008
  14. Danim, Sudarman. Motivasi Kepemimpinan dan Efektifitas Kelompok. Penerbit PT Rineka Cipta; Jakarta, 2004
  15. Beck,Robert C. Motivation Theories and principle. New Jersy: Prentice Hall; Englewood Cliffs, 1990
  16. Simamora. Manajemen Sumber Daya Manusia. YKPN; Yogyakarta, 2004
  17. Samsudin dkk. Manajemen Sumber Daya Manusia. Pustaka Setia; Bandung, 2005
  18. Yayan, Bahtiyar, Suarli S. Manajemen Keperawatan dengan Pendekatan Praktis. Penerbit Erlangga; 2009
  19. James, Stoner. et al. Management. Six eddition; diterjemahkan oleh Alexander Sindoro, PT Prehalindo; Jakarta, 1996
  20. Trihono. Manajemen Puskesmas Berbasis Paradigma Sehat. CV Sagung Seto; Jakarta, 2005
  21. Effendy, Nasrul. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Penerbit Buku Kedokteran EGC; Jakarta, 2000
  22. Bahar, Asri. Tuberkulosis Paru: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Balai Penerbit FKUI; Jakarta, 2001
  23. Wibowo. Manajemen Kinerja. PT Raja Grafindo Persada; Jakarta. 2007
  24. Hasibuan, Malayu. Organisasi & Motivasi; Dasar Peningkatan Produktivitas Penerbit PT Bumi Aksara; Jakarta, 2001
  25. J. Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif, PT remaja Rosdakarya; Bandung, 2006
  26. Sugiono. Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, ALFABETA; Bandung, 2011
  27. Samsudin Sadili, Manajemen Sumber Daya Manusia, Penerbit CV Pustaka Setia : Jakarta, 2006
  28. Notoatmojo Soekijo, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Penerbit Rineka Cipta : Jakarta, 2009
  29. Sofyan Herman, Manajemen sumber Daya Manusia, Penerbit Cheka Ilmu: Yogyakarta, 2008
  30. Prabu Mangkunegara Anwar, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia, Penerbit Refika Aditama : Bandung, 2009

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.