skip to main content

Strategi Bertahan Etnis Tionghoa di Kota Kendari pada Masa Orde Baru, 1967–1998

*Aslim Aslim  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia
Salebaran Salebaran  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia
Basrin Melamba  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia
Sarman Sarman  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia
Khabirun Khabirun  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia
Hasni Hasan  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia
Hisna Hisna  -  Jurusan Ilmu Sejarah, Universitas Halu Oleo, Jl. H. E. A. Mokodompit, Kendari, Indonesia 93232, Indonesia

Citation Format:
Abstract

Discrimination against Chinese in Indonesian historiography has persisted from the Dutch colonial period to contemporary times. Although Indonesia is home to various migrant ethnic groups such as Arabs, Indians, and Europeans, government policies, particularly during the New Order era, tended to be more discriminatory toward ethnic Chinese. This study aims to analyze the underlying factors behind these discriminatory policies and to examine the survival strategies of the Chinese community in Kendari City during the New Order period. The research employs a historical method, including heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The findings indicate that discriminatory policies against ethnic Chinese were closely linked to the political aftermath of the September 30, 1965 incident. This event led to the issuance of New Order policies, including Presidential Instruction No. 14 of 1967 concerning Chinese religion, beliefs, and customs, which significantly restricted the public expression of Chinese culture in the name of political stability. These conditions were also experienced by the Chinese community in Kendari between 1967 and 1998. As a survival strategy, they adapted by adopting Indonesian names, nationalizing Chinese schools, using the Indonesian language in daily life, and complying with administrative requirements such as obtaining the Certificate of Indonesian Citizenship (SBKRI).

Keywords: Discrimination; Chinese Ethnic; New Order; Government Policy; Kendari City; Adaptation Strategies

Article Metrics:

  1. Adrian, Muh. Rikhar, Wa Ode Siti Hafsah, and Danial. 2020. “Solidaritas Etnis Tionghoa di Kota Kendari.” Etnoreflika: Jurnal Sosial dan Budaya 9(2). https://doi.org/10.33772/etnoreflika.v9i2.823
  2. Chalik, Husein A. 1985. Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Tenggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  3. Chalik, Husein A., B. Bhurhanudin, and Anhar Gonggong. 1984. Sejarah Sosial Daerah Sulawesi Tenggara. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI
  4. Choiriyah, Masfiatul. 2022. Strategi Adaptasi Klenteng Kwan Sing Bio Tuban Pada Masa Orde Baru (1966-1998). Gadjah Mada
  5. Christian, Symphony Akelba. 2017. “Identitas Budaya Orang Tionghoa Indonesia.” Jurnal Cakrawal Mandarin 1(1):11–22
  6. Ds, Rico. 2015. “Asal Usul Tradisi Bakar Kertas Sembahyang.” Tanpa kota terbit: Tanpa penerbit
  7. Effendy, Wahyu, and Prasetyadji. 2008. Tionghoa Dalam Cengkraman SKBRI. Jakarta: Visimedia
  8. Kuntowijoyo. 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana
  9. Lievander, David. 2016. “Ritual Perayaan Imlek Etnis Tionghoa di Kota Toli-Toli.” Universitas Kristen Petra
  10. Nurjannah, Irma, Raden Marsuki Iswandi, Ishak Kadir, and Endro Sukoco. 2025. "Urban Landscape Development of Kendari Old Town in Southeast Sulawesi, Indonesia: The Conzen School Urban Morphology Approach" Sustainability 17(4): 1398. https://doi.org/10.3390/su17041398
  11. Prayugo, Surip. 2005. Tanaman Simbol Imlek. Jakarta: Marwin
  12. Presiden Republik Indonesia. 1978. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1978 Tentang Pembentukan Kota Administrasi Kendari. Indonesia
  13. Presiden Republik Indonesia. 1995. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1995 Tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Kendari. Indonesia
  14. Purwanto, Bambang. 2006. Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?!. Yogyakarta: Ombak
  15. Rasyid, Haris, Jenny Nelly Matheosz, and Djefry Deeng. 2021. “Kehidupan Sosial Budaya Etnis Tionghoa di Kota Manado.” Jurnal Holistik 14(4):1–18
  16. Simajuntak, D. C. 2013. “Peranan Musik Pada Upacara Perayaan Cap Go Meh Dalam Budaya Masyarakat Tionghoa di Kota Medan.” Universitas Negeri Medan
  17. Soenarto, R. R. 2013. Budaya Tionghoa Pecinan Semarang “San Bao Long Tang Ren Jie”. Semarang: Perkumpulan Sosial RASA DHARMA (Boen Hian Tong)
  18. Tamburaka, Rustam E. 2004. Sejarah Sulawesi Tenggara dan 40 Tahun Sultra Membangun. Kendari: Bappeda Provinsi Sulawesi Tenggara
  19. Tan, Mely G. 2008. Etnis Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
  20. The, and Prayugo. 2005. Tanaman Simbol Imlek. Jakarta: Penebar Swadaya
  21. Tim Penulis. 2005. Sketsa Perjalanan Bangsa Berdemokrasi. Jakarta: Departemen Komunikasi dan Informatika
  22. Utami, Niken, Haryono, and Wahid Abdul Kudus. 2024. “Pasar Lama Kota Tangerang Social Relation Between Chinese and Indigenous People in Old Market Tangerang City.” Etnoreflika: Jurnal Sosial dan Budaya 13(1):112–33. https://doi.org/10.33772/etnoreflika.v13i1.2365
  23. Yulianti, Yayuk. 2011. Perubahan Ekologis dan Strategi Adaptasi Masyarakat di Wilayah Pengunungan Tengger. Malang: Universitas Brawijaya Press

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-04-05 21:34:29

No citation recorded.