Peranan Perguruan Tinggi di Semarang dalam Pelestarian Wayang Orang Ngesti Pandowo

*Dhanang Respati Puguh scopus  -  Department of History, Faculty of Humanities, Diponegoro University, Indonesia
Mahendra Pudji Utama  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Rabith Jihan Amaruli  -  Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro, Indonesia
Received: 4 Oct 2019; Revised: 12 Nov 2019; Accepted: 10 Dec 2019; Published: 12 Dec 2019; Available online: 11 Dec 2019.
Open Access Copyright (c) 2019 Jurnal Sejarah Citra Lekha
Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

Ngesti Pandowo is wayang orang group founded in Madiun, East Java on July 1, 1937. Since 1954, this community has been settled in Semarang and reached its heyday in the 1950-1970 and become the City’s icon. In the late 1970s, Ngesti Pandowo suffered a continuing setback. It raised the concern and attention of a number of groups including the government, universities in Semarang, and the business parties to maintain its sustainability. This article is focused on the discussion of the efforts of the universities in Semarang to preserve Ngesti Pandowo. This article used historical methods, oral history, and literature study. The results show that universities in Semarang had played an important role in preserving Ngesti Pandowo through various activities, namely: art appreciation, management development, player support, and technology utilization.

Keywords
University; Wayang Orang; Ngesti Pandowo; Traditional Performing Art; Preservation.

Article Metrics:

  1. Brandon, James R. (2003). Jejak-jejak Seni Pertunjukan di Asia Tenggara, terjemahan R.M. Soedarsono. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Seni Universitas Pendidikan Indonesia.
  2. Davis, Cullom et al. (1977). Oral History: From the Tape to Type. Chicago: American Library Association.
  3. Garraghan, Gilbert J. (1959). A Guide to Historical Method. Fordham University Press.
  4. Kayam, Umar (1982). “Ngesti Pandowo: Suatu Persoalan Kitsch di Negara Berkembang”, Kompas, 20 Oktober 1982.
  5. Kayam, Umar (1991). “Ngesti Pandowo: Suatu Persoalan Kitsch di Negara Berkembang”, dalam Edi Sedyawati & Sapardi Djoko Damono. 1991. Seni dalam Masyarakat Indonesia: Bunga Rampai. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
  6. Kayam, Umar (2000). “Transformasi Budaya Kita”, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada pada 19 Mei 1989, dalam Senat Universitas Gadjah Mada, Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Gadjah Mada: Ilmu-Ilmu Humaniora, 1949-1999. Yogyakarta: Gadjah Mada Univerity Press.
  7. Koentjaranningrat (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
  8. Mumpuni, Heni Sulistyo (1986). “Pertumbuhan Perkumpulan Kesenian Ngesti Pandowo Semarang Tahun 1937-1983”. Skripsi Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.
  9. Panitia Pekan Pameran Ekonomi dan Kebudayaan Kodya Semarang (1968). Mengenal Kotamadya Semarang. Semarang: Pemerintah Kodya Semarang.
  10. Puguh, Dhanang Respati dan Endang Susilowati (2018). “Globalisasi Seni Pertunjukan Wayang Kulit Purwa”. Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.
  11. Puguh, Dhanang Respati dan Mahendra P. Utama (2018). “Peranan Pemerintah dalam Pengembangan Wayang Orang Panggung”. Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 3 (2): 133-153.
  12. Puguh, Dhanang Respati, Rabith Jihan Amaruli, dan Mahendra Pudji Utama (2017). “Teater Kitsch Ngesti Pandowo di Kota Semarang Tahun 1950-an—1970-an”. Mozaik Humaniora, Vol. 17 (1): 1-25.
  13. Puguh, Dhanang Respati, Rabith Jihan Amaruli, Mahendra Pudji Utama (2016). “Model Pengembangan Manajemen Seni Pertunjukan Tradisi untuk Melestarikan Wayang Orang Ngesti Pandowo Guna Mendukung Pariwisata Budaya di Kota Semarang”. Laporan Riset Pengembangan dan Penerapan Universitas Diponegoro.
  14. Puguh, Dhanang Respati, Rabith Jihan Amaruli, Mahendra Pudji Utama (2017). “Model Pengembangan Manajemen Seni Pertunjukan Tradisi untuk Melestarikan Wayang Orang Ngesti Pandowo Guna Mendukung Pariwisata Budaya di Kota Semarang”. Laporan Riset Pengembangan dan Penerapan Universitas Diponegoro.
  15. Puguh, Dhanang Respati, Rabith Jihan Amaruli, Mahendra Pudji Utama (2018). “Model Pengembangan Manajemen Seni Pertunjukan Tradisi untuk Melestarikan Wayang Orang Ngesti Pandowo Guna Mendukung Pariwisata Budaya di Kota Semarang”. Laporan Riset Pengembangan dan Penerapan Universitas Diponegoro.
  16. Puguh, Dhanang Respati (2015). “Mengagungkan Kembali Seni Pertunjukan Tradisi Keraton: Politik Kebudayaan Jawa Surakarta 1950-an-1990-an”. Disertasi pada Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
  17. Rahardjo, Tjahjono, Ridwan Sanjaya, dan Rustina Untari (2018). “Wayang, Tolerance and the Internet”. International Journal of Education and Applied Research, Vol. 2, Issue 2, July-December.
  18. Rinardi, Haryono, Dhanang Respati Puguh, Siti Maziyah (2002). “Perkumpulan Wayang Orang Ngesti Pandowo (1937-2001): Studi tentang Manajemen Seni Pertunjukan. Laporan Penelitian Dibiayai Dana DIK Rutin Universitas Diponegoro.
  19. Sevilla, Consuelo G., et al. (1993). Pengantar Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
  20. Soedarsono (1999). Metodologi Penelitian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.
  21. Soedarsono (2002). Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  22. Sumarsam (2018). Memaknai Wayang dan Gamelan: Temu Silang Jawa, Islam, dan Global, terjemahan Tim LIKE Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Gading.
  23. Surjodiningrat, Wasisto (1985). “Studi Kesenian Jawa di Jepang”, dalam Soedarsono, Retna Astuti, dan I.W. Pantja Sunjata (Penyunting), Studi Gamelan Jawa di Luar Negeri. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 35-52.
  24. Susilo, Hardjo (1985). “Sumbangan Para Sarjana dalam Pengembangan Karawitan di Amerika Serikat”, Soedarsono, Retna Astuti, dan I.W. Pantja Sunjata (Penyunting). Studi Gamelan Jawa di Luar Negeri. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 13-34.
  25. Sutton, R. Anderson (1985). “Studi Kesenian Jawa di Amerika Serikat”, dalam Soedarsono, Retna Astuti, dan I.W. Pantja Sunjata (Penyunting), Studi Gamelan Jawa di Luar Negeri. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi) Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hlm. 1-12.
  26. Thompson, Paul (1978). The Voice of the Past: Oral History. London: Oxford University
  27. Widiantoro, Albertur Dwiyoga, Ridwan Sanjaya, Tjahyono Rahardjo, dan A. Rachmat Djati Winarno (2018). “Integration of Internet Technology to Support the Wayang Orang Ngesti Pandawa Business”, E3S Web of Conferences 73, 13013, ICENIS 2018, hlm. 1-5.
  28. Widiantoro, Albertus Dwiyoga, Ridwan Sanjaya, Tjahjono Rahardjo, dan A. Rachmat Djati Winarno (2018). “Increase Student Awareness of People’s Cultural Heritage Using Internet Technology”. The Fourteenth International Conference on eLearning for Knowledge-Based Society, Thailand, 18 March 2018, hlm. 101-105.
  29. Widyastutieningrum, Sri Rochana (2018). “Reviving Wayang Orang Sriwedari in Surakarta: Tourism-Oriented Performance” Asian Theatre Journal, Vol. 35 (1): 100-111.
  30. “WO Ngesti Pandowo Terpaksa Jual Gamelan”, Suara Merdeka, 6 Oktober 1982.
  31. Yampolsky, Philip (1987). Lokananta A Discography of The National Recording Company of Indonesia 1957-1985. Madison, Wisconsin: Center for Southeast Asian Studies University of Winconsin.
  32. Yampolsky, Philip (2001). “Can the Traditional Arts Survive, and Should They?” Indonesia 71 (April): 175-185.