skip to main content

Tanggung Jawab Sekutu Komplementer pada Dua Persekutuan Komanditer Berstatus Pailit dan Homologasi

1Magister Kenotariatan Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro, Jl. Imam Bardjo No. 1-3 Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, Indonesia

2Fakultas Hukum, Universitas Diponegoro Kota Semarang Jawa Tengah, Indonesia

Open Access Copyright (c) 2026 Notarius
Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Citation Format:
Abstract

ABSTRACT

This research is prompted by the legal dualism surrounding a general partner managing two separate commanditaire vennootschaps simultaneously. The urgency of this study lies in analyzing the legal consequences and judicial compatibility between Decision No. 29/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Niaga.Smg and Decision No. 32/Pdt.Sus-PKPU/2024/PN Niaga Smg from an Indonesian bankruptcy law perspective. Employing a normative-juridical approach with prescriptive-analytical specifications, data is evaluated through systematic analysis. The findings reveal that the recent bankruptcy decision triggers managerial paralysis and conflicting asset executions as personal asset control shifts to the curator, forcing an involuntary default on the prior homologation decree. Consequently, the judges' considerations are deemed asynchronous, undermining legal certainty and the going-concern principle due to a rigid application of simplified insolvency evidence.

Keywords: Bankruptcy; General Partner; Homologation; Legal Liability; Commercial Court.

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena dualisme status hukum seorang sekutu komplementer yang mengurus dua Persekutuan Komanditer secara bersamaan. Urgensi penelitian ini bertujuan menganalisis akibat hukum serta kesesuaian yuridis antarputusan perkara Nomor 29/Pdt.Sus-PKPU/2022/PN.Niaga.Smg dan Nomor 32/Pdt.Sus-PKPU/2024/PN Niaga Smg berdasarkan perspektif hukum kepailitan di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan spesifikasi preskriptif-analitis serta metode analisis data secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan putusan pailit terbaru mengakibatkan berhentinya manajerial perusahaan dan benturan eksekusi aset pribadi sekutu karena beralihnya penguasaan harta kepada kurator, sehingga memicu wanprestasi paksa terhadap putusan homologasi terdahulu. Dalam hal ini, pertimbangan hakim dinilai kurang sinkron dan mencederai prinsip kepastian hukum serta kelangsungan usaha akibat penerapan pembuktian sederhana secara kaku tanpa mempertimbangkan fakta yang ada di lapangan.

Kata Kunci: Homologasi; Kepailitan; Pengadilan Niaga; Sekutu Komplementer; Tanggung Jawab Hukum.

Keywords: Bankruptcy; General Partner; Homologation; Legal Liability; Commercial Court.

Article Metrics:

  1. Abhimantara, I. B. (2019). Kedudukan Persekutuan Komanditer (Commanditaire Venootschap) Sebagai Corporate Guarantee. Notaire, Vol. 2, (No. 3), p.359-372. https://doi.org/10.20473/ntr.v2i3.16227
  2. Adler, B. E. (2018). The Creditors Bargain Revisited. Penn Law Review, Vol. 166, (Issue 7). Retrieved from https://pennlawreview.com/2018/12/04/the-creditors-bargain-revisited/
  3. Agung, T. A. C. (2021). Tinjauan Yuridis terhadap Pembatalan Perjanjian Perdamaian yang Telah Dihomologasi Karena Bertentangan dengan Ketentuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Dharmasisya: Jurnal Program Magister Hukum FHUI, Vol. 1, (No. 3), p.1549-1558. https://scholarhub.ui.ac.id/dharmasisya/vol1/iss3/33
  4. Diani, Rosida., & Kusuma, Mahendra (2020). Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennootschap atau CV) Sebagai Badan Usaha dalam Kajian Hukum Perusahaan. Justici, Vol. 13, (No. 1),p. 1-21. https://doi.org/https://doi.org/10.35449/justici.v13i1.181
  5. Efendi, Jonaedi, & Ibrahim, Johnny. (2016). Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris. Jakarta: Prenada Media Group
  6. Fauzi, D. A. (2026). Implementasi Homologasi dalam Proses PKPU terhadap Efektivitas Rencana Perdamaian untuk Menjaga Keseimbangan Kepentingan Debitur dan Kreditur. Jurnal Niara, Vol. 18, (No. 3), p.819-831. https://doi.org/https://doi.org/10.31849/nqpamb44
  7. Ginting, E. R. (2018). Hukum Kepailitan: Teori Kepailitan. Jakarta: Bumi Aksara
  8. Herlambang, Tedy., Nurwidiatmo., & Kadira, Taqiyuddin. (2017). Kepastian Hukum Pelaksanaan Eksekusi Terhadap Perjanjian Yang Telah Disahkan (Homologasi). Jurnal Nuansa Kenotariatan, Vol. 3, (No. 1), p. 23–32. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.31479/jnk.v3i1.151
  9. Jeremy, Jason., Fong, Jessen Jhiel., Kusuma, Darren Mayer Hadi., Nicholas, Juan., & Santoso Abraham Mulyadi. (2024). Perlindungan Hukum Kreditor terhadap Debitor Pailit dalam Peer to Peer Lending. Unes Law Review, Vol. 6, (No. 3), p.7810-7819. https://doi.org/https://doi.org/10.31933/unesrev.v6i3
  10. Khairunnisa, N. (2026). Kewenangan dan Tanggung Jawab Kurator dalam Menangani Kasus Kepailitan Waralaba Berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Jurnal Hukum Bisnis (J-Kumbis), Vol. 4, (No. 1), p.1-15. https://doi.org/10.37606/j-kumbis.v4i1.311
  11. Lathifah, Putri Lail Ulya., & Putrijanti, Aju. (2026). Perseroan Komanditer sebagai Subjek Kepailitan dan Akibat Hukum Putusan terhadap Sekutu serta Kreditor (Studi Putusan PN Niaga Medan Nomor 6/Pdt.Sus-Pailit/2024/PN Niaga Mdn). Unes Law Review, Vol. 8, (No. 3), p. 843-853. https://doi.org/https://doi.org/10.31933/sa921m74
  12. Mantili, Rai., & Dewi, Putu Eka Trisna. (2020). Perlindungan Kreditor Konkuren dalam Hukum Kepailitan. Akses, Vol. 12, (No. 2), p.97-108. https://doi.org/10.31933/sa921m74
  13. Murniati, R. (2018). Asas Tanggung Renteng pada Bentuk Usaha Bukan Badan Hukum dan Akibat Hukum bagi Harta Perkawinan. Cepalo, Vol. 2, (No. 2), p.111-120. https://doi.org/10.25041/cepalo.v2no2.1768
  14. Muslim, A. F. (2017). Tanggung Jawab Pengurus Persekutuan Komanditer (CV) dalam Keadaan Pailit. Jurnal Reformasi Hukum, Vol. 21, (No. 2), p.168-191. https://doi.org/10.46257/jrh.v21i2.20
  15. Putra, Surya Dharma,. & Andryawan. (2023). Analisis Mengenai Penerapan Prinsip Debt Collection dan Ketiadaan Prinsip Debt Forgiveness dalam Undang-Undang Kepailitan. Jurnal Serina Sosial Humaniora, Vol. 1, (No. 2), p.28-33. https://doi.org/https://doi.org/10.24912/jssh.v1i2.26596
  16. Ritonga, F. G. (2024). Pembatalan Perdamaian (Homologasi) sebagai Upaya Hukum bagi Kreditor terhadap Debitor yang Lalai Memenuhi Isi Perjanjian Perdamaian. Jurnal Hukum To-Ra, Vol. 10, (No. 1), p.73-86. https://doi.org/10.55809/tora.v10i1.317
  17. Susetyo, H. (2021). Kedudukan Firma dan CV Beserta Anggota Sekutunya dalam Hukum Kepailitan. Law, Development & Justice Review, Vol. 4, (No. 1), p.70-80. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/ldjr.v4i1.11958
  18. Talingan, Carana., Arrofii, Dinda Yusuf Tsary., & Januar, Marcelino. (2024). Analisis Homologasi dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (Studi Kasus Putusan Nomor 134/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN.Niaga.Jkt.Pst). Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal, Vol. 1, (No. 9), p.947-955. https://doi.org/10.57185/mutiara.v2i9.257
  19. Tanriawan, Florensya Octavia., Aprilianda, Nurini., & Susilo, Hariyanto (2023). Urgensi Pesero Komanditer Memberi Persetujuan kepada Pesero Pengurus dalam Melakukan Tindakan Kepemilikan. Jurnal USM Law Review, Vol. 6, (No. 2), p.512-524. https://doi.org/https://doi.org/10.26623/julr.v6i2.7072
  20. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
  21. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
  22. Widiarty, W. S. (2024). Buku Ajar Metode Penelitian Hukum. Yogyakarta: Publika Global Media
  23. Yedija, Ignwer Toynbee., Yuhelson,. & Nurhakim. (2024). Eksistensi Perdamaian dalam Kepailitan Terkait Akibat Pembatalan Perdamaian dalam Penundaan Kewajiban dan Pembayaran Utang. INNOVATIVE: Journal of Social Science Research, Vol. 4, (No. 4), p.12347-12358. https://doi.org/https://doi.org/10.31004/innovative.v4i4.14444

Last update:

No citation recorded.

Last update: 2026-09-30 10:03:44

No citation recorded.