skip to main content

Meninjau Penerapan Ambang Batas Pemilihan pada Sistem Pemilihan Umum Proporsional di Indonesia

*Moch. Marsa Taufiqurrohman orcid  -  Universitas Jember, Indonesia
Open Access Copyright (c) 2021 Politika: Jurnal Ilmu Politik under https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/.

Citation Format:
Abstract

Sejak dekade awal reformasi, sejumlah besar partai politik (parpol) telah didirikan. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia di era pasca-Soeharto tidak dapat menghalangi munculnya fragmentasi politik. Dengan mempertimbangkan sistem multi-partai ideal Sartori, pemerintah yang efisien harus mengadopsi pluralisme moderat di parlemen. Alih-alih mampu mendorong pluralisme moderat, hasil pemilihan umum (Pemilu) Indonesia setelah reformasi justru menghasilkan pluralisme ekstrem dengan partai-partai pemenang minoritas yang mengakibatkan pemerintahan yang lemah. Meskipun tidak ada ketentuan konstitusional tentang ambang batas pemilihan ini, dalam praktiknya, ambang batas pemilihan dipandang sebagai alternatif untuk menyederhanakan sistem multi-partai yang kompleks. Di sisi lain, penentuan jumlah persentase ambang batas pemilihan dilakukan tanpa metode dan argumen yang memadai. Dari Pemilu ke Pemilu persentase ambang batas pemilihan selalu berbeda-beda. Selain itu, para pembuat kebijakan hanya berpendapat bahwa semakin tinggi ambang pemilihan proses politik dan pengambilan keputusan akan lebih sederhana dan lebih efisien, tanpa dapat menjelaskan secara terukur angka ideal untuk setiap pemilihan dalam keadaan apa pun. Akibatnya, sistem ini dapat mengabaikan aspirasi pemilih yang suaranya sudah hangus tanpa sempat dihitung untuk konversi kursi DPR.

Note: This article has supplementary file(s).

Fulltext View|Download |  Research Instrument
Penerapan Ambang Pemilihan Umum di Indonesia Apakah Sistem Regulasi ini Berhasil Merespon Reformasi Politik
Subject
Type Research Instrument
  Download (103KB)    Indexing metadata
Keywords: demokrasi; ambang batas pemilihan; partai politik; sistem politik

Article Metrics:

Article Info
Section: Articles
Language : ID
Statistics:
  1. Adelina, A. (2018). Relevansi Ambang Batas Parlemen (Parliamentary Threshold) dengan Sistem Presidensial di Indonesia. Universitas Islam Indonesia
  2. Al-Fatih, S. (2016). Eksistensi Threshold dalam Pemilu Serentak. Universitas Airlangga
  3. Al-Hamdi, R. (2019). The Decline of Ideology in Indonesia: Parliamentary Threshold and Cleavage among Political Parties in coping with the 2019 Election. In Third International Conference on Sustainable Innovation 2019–Humanity, Education and Social Sciences (IcoSIHESS 2019) (pp. 273–280). Atlantis Press
  4. Busroh, F. F. (2017). Reformulasi Penerapan Electoral Threshold dalam Sistem Kepartaian di Indonesia. Jamal Lex Librum, 3(2), 513–524
  5. Farrell, D. M. (2011). Electoral Systems: A comparative Introduction. Macmillan International Higher Education
  6. Fealy, G. (2001). Parties and Parliament: Serving Whose Interests? Indonesia Today: Challenges of History, 97–111
  7. Feith, H. (1957). The Indonesian Elections of 1955. Cornell Modern Indonesia Project, Ithaca, NY
  8. Firdaus, S. U. (2016). Relevansi Parliamentary Threshold terhadap Pelaksanaan Pemilu yang Demokratis. Jurnal Konstitusi, 8(2), 91–112
  9. Fossati, D. (2020). Electoral Reform and Partisan Dealignment in Indonesia. International Political Science Review, 41(3), 349–364
  10. Ginting, F. P. P., & Saragih, A. (2018). Ilusi Demokrasi Substansial di Indonesia: Sebuah Kritik Terhadap Impementasi Parliamentary Treshlod. Politeia: Jurnal Ilmu Politik, 10(2), 79–90
  11. Habib, A., Muhammadi, A. H., & Jiang, H. (2017). Political Connections and Related Party Transactions: Evidence from Indonesia. The International Journal of Accounting, 52(1), 45–63
  12. Hamudy, M. I. A., & Rifki, M. S. (2019). Strengthening the Multi-Party Presidential Government in Indonesia. Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review, 4(2), 208–232
  13. Heidhues, M. S. (2017). Violent, Political, and Administrative Repression of the Chinese Minority in Indonesia, 1945-1998. Wacana, 18(1), 94–105
  14. Helmi, H., Mukhrijal, M., & Fadhlullah, N. (2019). Presidential Threshold (Discourse Review on Strengthening Presidential Systems in Indonesia). In 1st Aceh Global Conference (AGC 2018) (pp. 225–229). Atlantis Press
  15. Jati, W. R. (2013). Menuju Sistem Pemilu dengan Ambang Batas Parlemen yang Afirmatif. Jurnal Yudisial, 6(2), 143–158
  16. Kholis, N. (2020). Parliamentary Threshold and Political Rights Limitation. Journal of Law and Legal Reform, 1(3), 445–456
  17. Lee, S., & Magenda, B. D. (2019). Comparative Case Study on Institutionalization of Ruling Parties Under Military Authoritarianism: Democratic Republican Party Under Park Chung-Hee Regime in South Korea (1961-1979) and GOLKAR Under Suharto Regime in Indonesia (1966-1998). Journal of Social and Political Sciences, 2(4)
  18. Lewis, B. D. (2018). Endogenous District Magnitude and Political Party Fragmentation in Subnational Indonesia: A Research Note. Electoral Studies, 55, 136–145
  19. Lijphart, A. (2012). Patterns of Democracy: Government Forms and Performance in Thirty-Six Countries. Yale University Press
  20. Lowry, R. (2017). Indonesia: From Suharto to Democracy? Canberra, ACT: Dept. of Political and Social Change, Research School of …
  21. Marta, A., Suwaryo, U., Sulaeman, A., & Agustino, L. (2020). The Crisis of Democratic Governance in Contemporary Indonesia. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 8(1), 109–128
  22. Naharuddin, A. (2016). Election in Indonesia After the Fall of Soeharto
  23. Nurhasim, M. (2016). Fisibilitas Sistem Pemilu Campuran: Upaya Memperkuat Sistem Presidensial di Indonesia. Jurnal Penelitian Politik, 11(1), 18
  24. Nurjaman, A. (2017). The End of Political Party in Indonesia: The Case of Weakening Voter’s Loyality in the Local Level, Malang. The Social Sciences, 12(2), 342–346
  25. Nwokora, Z., & Pelizzo, R. (2014). Sartori Reconsidered: Toward a New Predominant Party System. Political Studies, 62(4), 824–842
  26. Ramadhan, M. F. (2018). Politik Hukum Penyederhanaan Sistem Kepartaian di Indonesia. Lex Renaissance, 3(1), 6
  27. Sartori, G. (2005). Parties and Party Systems: A Framework for Analysis. ECPR press
  28. Savirani, A. (2019). The Political Middle Class in Post-Soeharto Era Indonesia. Continuity and Change after Indonesia’s Reforms: Contributions to an Ongoing Assessment, 128
  29. Siahaan, N. H. (2016). Formula Penyederhanaan Jumlah Partai Politik di Parlemen Pada Pemilihan Umum Indonesia. Politika: Jurnal Ilmu Politik, 7(1), 102–114
  30. Tomsa, D. (2014). Party System Fragmentation in Indonesia: The Subnational Dimension. Journal of East Asian Studies, 14(2), 249–278
  31. Tomsa, D. (2019). Islamism and Party Politics in Indonesia. In Oxford Research Encyclopedia of Politics
  32. Ufen, A. (2018). Party Presidentialization in Post-Suharto Indonesia. Contemporary Politics, 24(3), 306–324
  33. Warburton, E., & Aspinall, E. (2019). Explaining Indonesia’s Democratic Regression. Contemporary Southeast Asia, 41(2), 255–285

Last update:

No citation recorded.

Last update:

No citation recorded.